Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Abdul Qadir as-Sufi, Bapak Dinar & Dirham

7 Agustus 2020 | Figure

Tidak ada yang menyangka sebuah gerakan Islam yang bisa dibilang cukup lugas dan massif dari Barat bisa berefek sampai mengguncang meja rapat bank dunia. Dari hanya awalnya gerakan pembinaan mualaf sampai membuat sebuah pakem perjuangan menegakkan khilafah dengan membawa isu ekonomi sebagai sentral perlawanannya. Ia adalah sebuah

Abdul Qadir as-Sufi, Bapak Dinar & Dirham

Tidak ada yang menyangka sebuah gerakan Islam yang bisa dibilang cukup lugas dan massif dari Barat bisa berefek sampai mengguncang meja rapat bank dunia. Dari hanya awalnya gerakan pembinaan mualaf sampai membuat sebuah pakem perjuangan menegakkan khilafah dengan membawa isu ekonomi sebagai sentral perlawanannya. Ia adalah sebuah gerakan yang dinamakan Murabitun World Movement, gerakan yang memfokuskan pada pemahaman dasar Islam yang tidak kompromi pada nilai-nilai modern namun jauh sekali berpikir dari kebanyakan orang modern. Gerakan ini di pimpin oleh Abdul Qadir as-Sufi yang juga memimpin tarekat Syadziliyyah dan juga ikon dari mualaf di negeri-negeri Barat.

Lahir dari keluarga tuan tanah di Ayr, Skotlandia, Ian Dallas memeluk Islam di Maroko pada 1967, dan meraih kesuksesan serta pengakuan sebagai penulis dan sutradara di London. Dianatara kenalannya adalah para musisi, seperti Eric Clapton dan George Harrison (The Beatles), sutradara Amerika dan aktifis politik sayap kiri, Lilian Hellman, dan seorang psikiater asal Skotalandia, R.D Laing. Setelah memeluk Islam, ia menjadi pengikut ulama sufi Syaikh Muhammad ibn al-Habib, pemimpin tarekat Darqawi (sebuah posisi yang di jalaninya sekarang). Setelah itu, ia kembali ke Inggris dan memutuskan untuk membentuk kelompok Islam yang bertujuan mengembangkan dan menyebarkan semangat komunal, ketimpang personal. Pada awalnya, kelompok mualaf ini terdiri dari beberapa figure seperti Bawleys, yang kemudian memiliki wewenang dalam aktivitas penerjemahan atas perintah Abdul Qadir. Musisi Eric Clapton berkisah tentang  tembang “Layla” yang legendaris itu. Ia mengatakan bahwa lagu itu terinspirasi dari puisi klasik “Layla dan Majnun,” sebuah puisi romantis dari penyair Persia abad ke-12 , Niẓāmi Ganjavi. Eric Clapton mendengar puisi itu dari teman Sufinya, Abdul Qadir as-Sufi.

Abdul Qadir menjadi tonggak gerakan mualaf di Barat, ia juga tidak hanya mewadahi gerakan mualaf tetapi ia juga membentuk sebuah komunitas swadaya desa dalam hal pertanian di Norwich, Inggris pada tahun 1976. Di cukup disitu ia juga membuka gerakan ini menjadi lebih lebar pada decade 70-an telah merambah ke Cordoba dan Granada di Spanyol. Penyebaran komunitas ini di mulai dari jantung peradaban Barat hingga ke Meksiko dan Rusia. Hal itu menunjukkan bahwa gerakan itu menjelma menjadi sebuah tujuan ambisius, yakni membangkitkan Islam secara global. Komunitas ini memiliki dua tujuan, yaitu sebagai simbol penolakan terhadap gaya hidup masa lalu yang mereka jalani, dan sebagai cikal bakal kebangkitan Islam yang akan terus menyebar, mirip seperti gerakan anti-globalisasi, seperti ekososialisme, yang berusaha mendirikan komunitas berdikari secara sistem komunal. Selain itu, dalam beberapa tahun belakangan ini, Abdul Qadir juga terlibat dalam mendirikan Dallas College di kota Cape Town, Afrika Selatan, tempat tinggalnya sekarang.

Abdul Qadir benar-benar menjadi pembuka wawasan ekonomi bagi dunia gerakan Islam. Beberapa karya beliau perlu di bahas bagi para muharik (aktivis) untuk bisa memetakan jalur sistem ekonomi yang hari ini menjangkit kaum Muslimin. Abdul Qadir sunggu berhasil mencabut pandangan marxis untuk melawan kapitalisme, ia menetapkan bahwa sumber kesesatan dunia pasca jatuhnya Khilafah adalah diterbitkannya uang kertas (yang sebenarnya surat hutang) dan membiarkan para banker menyedot kekayaan manusia dana alam.

Beliau telah menuliskan 20 karya tulis mulai dari hal-hal akidah, politik, ekonomi, maupun tentang fikih. Pengalaman studinya di Afrika Utara telah meyakinkan Abdul Qadir bahwa metode terbaik untuk kembali ke ajaran Islam adalah dengan mengadopsi mazhab Imam Malik. Mazhab ini mendominasi peradaban Islam di Spanyol, dan masih memiliki pengaruh di Afrika Utara dan Barat. Imam Malik, sang pendiri, yang merupakan penduduk lokal sebagai sumber hukum. Abdul Qadir memerintahkan pengikutnya untuk menterjemahkan kitab-kitab utama Imam Malik, seperti al-Muwatta, ke dalam Bahasa Inggris. Penafsirannya tentang transaksi ekonomi dan perdagangan pada periode awal masyarakat Islam (dibandingkan dengan isu ekonomi kontemporer) telah membuat para pengikut seniornya menganggap Abdul Qadir sebagai tokoh kebangkitan Islam di masa modern yang metodologinya akan mengantarkan kebangkitan Islam. Seorang intelektual dari gerakan Murabitun World Movement menyatakan bahwa “Dunia yang lahir dari tragedy runtuhnya Khilafah hanyalah kumpulan serpihan negara bangsa dengan bendera, konstitusi, dan bank sentralnya masing-masing. Padahal, itu semua bertentangan dengan Islam.”

Di usia yang sudah senja ia masih aktif berdakwah dan memimpin gerakan Islamnya di Cape town Afrika Selatan. Namanya makin berkibar saat amir gerakan Murabitun di Indonesia Zaim Saidi aktif menggelorakan sunnah dinar dan dirham ke sejumlah Sultan-sultan, para da’i dan para muslimin agar membiasakan dengan alat tukar sesuai tuntunan Islam.

Referensi : Reza Pankhurst dalam bukunya The Inevitable Caliphate

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021