Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Abdul Qadir bin Abdul Aziz Pemikir Jihad dari Mesir

6 September 2020 | Figure

Usai perkawinan dua jama’ah Mesir yang konsen untuk penegakkan tauhid ini menjadi momen besar dan berpengaruh bagi nafas jihad dimasa mendatang, tak terkecuali di Eropa. Syaikh Abdul Qadir nama yang mengelegar kala itu bersinar melewati pendahulunya seperti Dr. Hani as-Siba’i

Abdul Qadir bin Abdul Aziz Pemikir Jihad dari Mesir

Usai perkawinan dua jama’ah Mesir yang konsen untuk penegakkan tauhid ini menjadi momen besar dan berpengaruh bagi nafas jihad dimasa mendatang, tak terkecuali di Eropa. Syaikh Abdul Qadir nama yang mengelegar kala itu bersinar melewati pendahulunya seperti Dr. Hani as-Siba’i, Muhammad Abdussalam Faraj, dan Karam Zuhdi yang pada saat itu konsen untuk mengeksplorasi jihad sebagai langkah revolusi Mesir.

Nama lengkapnya adalah Sayyid Imam bin Abdul Aziz Imam Asy Syarif. Bisa juga dipanggil dengan sebutan Dr Fadhel, namun lebih populer dengan nama Syaikh Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz. Lahir pada Agustus 1950 di kota Bani Suwaif, Mesir Selatan. Menuntut ilmu dan menghafal Al Qur`an sejak kecil serta mulai menulis buku sejak awal usia mudanya. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kairo tahun 1974 M dengan meraih predikat Mumtaz (cum laude). Setelah lulus ia sempat bekerja sebagai Wakil Kepala Bagian Operasi pada Jurusan Spesialis Mata di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo.

Bersama Dr. Ayman azh-Zhawahiri di al-Ma’adi Mesir, ia sepakat membentuk Jama’ah Jihad yang menjadi motor gerakan Islam setelah di bungkamnya Ikhwanul Muslim oleh Gamal Abdul Nasir. Jama’ah Jihad aktif dan berkembang. Jamaah Jihad dibesarkan dari Al-Ma’adi, mengumpulkan siswa-siswa di sekolah menengah kota itu. Mereka pergi ke masjid bersama-sama, dan mengenal satu sama lain dari sekolah. Dalam periode itu mereka bertemu dan membentuk sel pertama inti dari sebuah kelompok kecil dan memilih Azh-Zhawahiri, sebagai amir yang menyatukan Dr. Aiman, Nabil Al-Bar’i, Ismail Thanthawi, Dr Sayyid Imam (Abdul Qadir bin Abdul aziz) dan lain-lain.

Meskipun beralihnya rezim dari Abdul Nasir ke Anwar Sadat dan Presiden Anwar Sadat membebaskan Ikhwanul Muslim dari tahanan politik serta melebarkan pengaruh pada keIslaman di awal-awal jabatannya, namun Jama’ah Jihad mendapat sorotan yang berbeda dari kacamata rezim. Juga ada gerakan jihad bernama Jama’atul Muslimin yang dimotori oleh Sukri Mustafa nekad melancarkan aksi menyerang Sadat dan terjadi pembuhunan. Sejak peristiwa ini Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz menjadi sasaran rezim karena di tuduh terlibat sebagai perancang aksi pembunuhan Presiden Anwar Sadat. Namun ia berhasil meloloskan diri keluar dari Mesir. Kemudian Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz bekerja sebagai direktur sebuah rumah sakit milik Bulan Sabit Merah Kuwait di Kota Peshawaar, Pakistan. Dengan dibantu oleh Dr Aiman Azh Zhawahiri. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz menikah dengan seorang wanita Palestina dan dikarunia empat orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Di Pakistan itulah Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sempat meraih gelar doktor dibidang bedah disalah satu Universitas di sana.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz kemudian meninggalkan Pakistan dalam rangka menghindari kejaran pihak intelijen. Pada saat bersamaan terjadi penangkapan terhadap orang-orang Aron di daerah Peshawar pada tahun 1993 M. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz kemudian menuju Sudan. Beliau sempat tinggal di Yaman pada saat akhir perang saudara antara Yaman Utara dengan Yaman Selatan dan kemudian bekerja di Rumah Sakit Ats Tsaurah Al `Aamm di Kota Ib sebelah selatan Ibukota Shan`a, sebagai sukarelawan. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sempat menikahi seorang wanita dari daerah tesebut, dan kemudian dikaruniai satu orang anak perempuan. Selanjutnya Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz bekerja di sebuah Rumah Sakit Spesialis Daar Asy Syifaa.

Pada bulan April 1999 M, Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz divonis penjara seumur hidup dalam kasus “orang-orang yang kembali dari Albania”, padahal beliau sama sekali tidak pernah pergi ke sana. Setelah peristiwa 11 September 2001 M, pada tanggal 28 Oktober 2001 M, beliau ditangkap oleh pemerintahan thoghut Yaman.

Terakhir Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz di ekstradisi ke Mesir yaitu pada tanggal 28 februari 2004 M, oleh pemerintah Mesir. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz dan sejumlah kawan seperjuangannya dipenjara dan ada pula yang divonis hukuman mati.

Dalam situasi perjuangan jihad beliau yang bisa dibilang sulit sekali untuk dikatakan bisa berkarya dengan produktif, namun Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz membuktikan kemampuannya dalam menulis yang sejak kecil telah ia asah. Diantara buku-buku beliau yang mainstream diterbitkan ialah :

  1. Faidhul Karimil Mannaan min Ahammi Furuudhul A`yaan.
    (Mendukung [kontradiksi] antara Tauhid dengan Jihad Sebagai Prioritas Yang Paling Penting)
  2. Al Jaami` fie Tholabil `Ilmisy Syariif
    (Kelengkapan dalam Menuntut Ilmu Syar`ie)
  3. Al `Umdah fie I`daadil `Uddah
    (Bekal dalam Mempersiapkan Kemampuan)
  4. Da`watut Tauhid
    (Da`wah Tauhid)
  5. Al Hujjah fie Ahkami Millatil Islamiyyah
    (Hujah dan Kedudukannya dalam Hukum Islam)
  6. Hadzaa Bayaan Lin Naas: Al Irhaabu minal Islaam
    (Penjelasan Bahwa Teror adalah Bagian dari Islam)

Namun dalam perjalanan intelektual Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz ini mendapatkan kritik yang tajam dari para ulama jihadis karena dinilai ghuluw (berlebihan) terutama dalam masalah takfir yang membabi buta. Dalam kitab Al Jaami` fie Tholabil `Ilmisy Syariif menjadi bahan kritikan oleh Syaikh Abu Qatadah al-Filistini dalan kitab Thali’ah ar-Radd ‘ala Kitabil Jami’. Abu Qatadah menyampaikan bahwa penulis mencela buku yang ditulis dengan tema fikih, memvonis kafir dan murtad kepada Muslimin yang masih dikategorikan Muslim, mengkafirkan daulah Utsmaniyyah, mengatakan Shalahuddin dan Muhammad al-Fatih adalah sufi ahlul bid’ah dan hal ekstrim lainnya.

Nama Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz sendiri sebenarnya adalah nama alias untuk penerbitan kitab-kitab yang publish oleh Jama’ah Jihad. Sementara pada saat penulisan Jaami` fie Tholabil `Ilmisy Syariif, para editor menilai kitab ini butuh revisi namun Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz menolak dan menerbitkannya sendiri dan tetap memakai nama Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz.

Referensi : Abu Qatadah Thali’ah ar-Radd ‘ala Kitabil Jami’.
– https://www.kiblat.net/2013/05/23/pemikiran-syaikh-abdul-qadir-bin-abdul-aziz-tentang-pelaksanaan-jihad-ketika-tidak-ada-ulil-amri/
– https://www.arrahmah.com/syaikh-abdul-qodir-bin-abdul-aziz/

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021