Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Ahmad Syah Mas'ud Dari Mujahid Sampai Murtad

16 April 2021 | Figure

Ahmad Syah Mas’ud namanya paling akrab ditelinga kita ketika membaca kecamuk invasi Uni Soviet ke Afghanistan (1979-1989). Dirinya saat muda sangat dikagumi dan sangat diandalkan untuk meretas wilayah yang diduduki oleh rezim komunis Afghanistan

Ahmad Syah Mas'ud Dari Mujahid Sampai Murtad

Ahmad Syah Mas’ud namanya paling akrab ditelinga kita ketika membaca kecamuk invasi Uni Soviet ke Afghanistan (1979-1989). Dirinya saat muda sangat dikagumi dan sangat diandalkan untuk meretas wilayah yang diduduki oleh rezim komunis Afghanistan pada era Daud Khan. Sosok yang dibela habis-habisan oleh Syaikh Abdullah Azzam karena mahir menguasai senjata dan mengkordinir mujahidin, bahkan sempat disetarakan dengan Winston Churchill, Josip Broztito, dan Che Guevara dari timur ini mengejutkannya diakhir hidupnya memilih berwala dengan orang kafir yang dihukumi murtad dengan merujuk pembatal keislaman (نوقض الاسلم).

Mas’ud terlahir di desa Bazarak suatu tempat di wilayah Panjshir pada 1953. Ayahnya seorang kolonel yang mengabdi pada Raja Muhammad Zahir Syah, Mas’ud kecil berpindah-pindah tempat sempat di Herrat dan akhirnya di masa remajanya ia bertempat di Kabul. Mas’ud tercatat sebagai murid di Franco-Afghan Lycée Esteqlal sebagai murid yang cerdas. Setelah lulus dari Lyccèe ia melanjutkan kuliah di Kabul mengambil jurusan Tehnik. Saat dibangku kuliah inilah ia melihat sosok besar Islam seperti Burhanuddin Rabbani, Ghulbuddin Hekmatiyyar, dan Abdul Rasul Sayyaf.

Pada tahun 1973 partai PDPA (People’s Democratic Party Afghanistan) yang berhaluan komunis tulen mendukung habis mantan Perdana Menteri Mohammad Daud Khan untuk mengkudeta Raja dengan tujuan Daud sebagai Presiden, menghapus kerjaan serta Syari’at Islam, dan membuka keran demokrasi liberal.

Berjalannya rezim Daud Khan ini melahirkan orang-orang Komunis dari PDPA (People’s Democratic Party Afghanistan) untuk menguasai kebijakan parlemen di Afghanistan, pada saat itulah aktivis Islam yang mayoritas berpusat di Kabul mulai menggelorakan perlawanan terhadap rezim Daud Khan. Mas’ud mengikuti diskusi-diskusi berat yang buat oleh Burhanuddin Rabbani dalam Jami’at Islam.

Pada 1975 Mas’ud sempat Mas’ud berkesempatan untuk ikut dengan aksi militer berperang melawan rezim di tanah kelahirannya dan berharap ia mendapat dukung dari kampungnya. Alhasil masyarakat setempat malah mengepung pasukan Islam yang mengakibatkan Mas’ud harus naik kepegunungan.

Layangan protes dan aksi-aksi mahasiswa terhadap rezim Daud Khan tidak membuat rezim bergeming, mengejutkannya Daud Khan malah ditumbangkan oleh orang komunis yang berhimpun di PDPA (People’s Democratic Party Afghanistan) dan berhasil membunuh Daud Khan pada 1978 yang dikenal dengan Revolusi Saur 1978. Nur Muhammad Taraki yang memimpin Partai Komunis mengambil jabatan Presiden dan mulai membuka keran penerapan Komunisme, namun karena dianggap ingin bermain bersih dalam penerapan komunisme maka Soviet membuat konspirasi untuk membunuh Taraki dan menggantinya dengan Hafizhullah Amin yang lebih patuh pada titah Kremlin. Dari sinilah invasi Soviet datang pada 1979 yang melahirkan perang Afghanistan atau yang dikenal kaum Muslimin dengan nama jihad Afghan. Dalam situasi yang mencekam karena kedatangan beruang merah (tentara merah), Mas’ud kemudian mengambil kendali penuh atas Panjshir, memukul mundur pasukan komunis Afghanistan. Oliver Roy menulis bahwa pada periode berikutnya, “prestise pribadi Massoud dan efisiensi organisasi militernya membujuk banyak komandan lokal untuk datang dan belajar darinya.”

Mas’ud menghindari betul konfrontasi secara langsung dengan militer rezim atau dengan beruang merah. Ia memilih jalur gerilya dan menaklukkan kampung-kampung dengan sabar. Syaikh Abdullah Azzam dalam Tarbiyyah Jihadiyyah mengemukakan bahwa pasukan Mas’ud sampai menghabiskan waktu tiga hari mengangkut ghanimah yang didapatkan dalam sebuah operasi gerilya menuju markas Basyghur.

Abdullah Azzam juga pernah mendo’akan Ahmad Syah Mas’ud saat mendengar kabar syahidnya Syafiyyullah seorang komandan yang lebih senior dari Mas’ud dengan mengatakan, “kesyahidan Syafiyyullah adalah kerugian besar bagi pihak mujahidin. Kami berharap semoga Allah ﷻ menggantikannya dengan yang lebih baik untuk kita, insyaAllah. Dan kami berharap semoga Allah ﷻ menjaga keselamatan Ahmad Syah Mas’ud, insyaAllah”.

Mas’ud yang sedari dulu mengkritisi habis paham komunisme, memuncak saat dirinya berhadapan dengan tentara merah soviet sampai Mikhail Gorbachev menarik pasukan komunis pada 1989. Mas’ud yang mendapat angin segar atas kabar itu pun tidak langsung merasa lega bahkan ia mencoba melancarkan kepada basis komunis (Supreme Soviet Tajik) di Tajikistan.

Saat nafas terakhir komunisme di Afghanistan mulai menyedak lajur pemerintahan rezim komunis ditambah runtuhnya Soviet Presiden terakhir rezim komunis Najibullah melepas kursinya. Ahmad Syah Mas’ud yang telah di elu-elukan oleh para mujahidin dan politisi Muslim tidak langsung bergegas menuju Kabul untuk menempati masa transisi pemerintahan. Mas’ud juga melarang para mujahidin yang dari utara untuk datang ke Kabul sampai status di Ibu Kota Afghan tersebut sudah jelas dan stabil secara politik.

Sesaat setelah PBB menbahas perdamaian di Afghanistan Mas’ud yang ingin bahwa semua faksi memiliki andil dalam mengatur Afghanistan, sementara Gulbudin Hekmatiyar menginginkan pengukuhan pemerintah tanpa ada koalisi antar faksi karena dikhawatirkan menjadi lemah dan menimbulkan perdebatan yang panjang. Maka Mas’ud mengemukakan untuk menyanggah ide Hekmatiyar dalam satu acara di radio “Semua pihak telah berpartisipasi dalam perang, dalam jihad di Afghanistan, jadi mereka harus memiliki andil dalam pemerintahan, dan dalam pembentukan pemerintahan. Afghanistan terdiri dari berbagai negara. Kami khawatir tentang konflik nasional antara suku yang berbeda dan kebangsaan yang berbeda. Untuk memberikan hak kepada setiap orang dan juga untuk menghindari pertumpahan darah di Kabul, kami menyerahkan berita kepada para pihak sehingga mereka harus memutuskan tentang negara secara keseluruhan. Kami membicarakannya untuk tahap sementara dan setelah itu harus disiapkan dasar untuk pemilihan umum.”

Melihat perselisihan antara Mas’ud yang mewakili basis mujahidin di utara dan Hekmatiyar di Peshawar, Usamah bin Laden datang untuk menengahi dan membujuk Hekmatiyar untuk melebur bersama saudara-saudara Muslim yang lain. Namun kubu dari Mas’ud melihat bahwa Usamah bin Laden yang orang diluar Afghan lebih memihak pada Hekmatiyar karena bin Laden sudah aktif dengannya sejak pertengahan 80-an. Memanasnya politik antar mujahiddin berubah menjadi penunggangan politik syiah antara Hizb Ittihad al-Islami yang dikerahkan oleh Abdul Rasul Sayyaf (Sunni) dan kubu Hizb-i Wahddat oleh Abdul Ali Mazari (Syi’ah).

Dalam kecamuk perang saudara di Afghan pasca Uni Soviet Burhanuddin yang merupakan senior Mas’ud saat di kampus dipilih menggantikan Sibghatullah sebagai Presiden Afghanistan, Mas’ud sebagai Menteri Pertahanan, dan Hekmatiyar ditunjuk sebagai Perdana Menteri. Meski begitu ketegangan tetap berlanjut dan luka atas perang saudara 1992 di tubuh masyarakat masih amat membekas. Terjadinya penjarahan dan ketidak pastian hukum membuat rakyat carut marut.

Mullah Umar seorang pemuda yang sempat mengikuti aktivitas jihad pada akhir 80-an membuat suatu gerakan Amar ma’ruf nahi munkar guna melayani masyarakat yang miskin dan melindungi rakyat dari buasnya perampokan. Gerakan ini yang nantinya disebut dengan nama Taliban. Dengan meningkatnya pengaruh Taliban mengakibatkan konfrontasi dengan pasukan Mas’ud yang ingin menjaga ketat Kabul. Namun pada 1995 Mas’ud menarik pasukannya untuk menjaga kota Herrat dan berfokus di utara, maka Kabul pun futuh (terbuka) dengan dengan pemerintahan besutan Mullah Umar dan Jalalludin Haqqani.

Taliban yang mulai menguat dan menerapkan syari’at Islam mendapat dukungan rakyat yang sudah lelah dengan konflik para militer dan politisi Mujahid. Dalam perjalanan perluasannya Taliban menggunakan senjata yang mengakibatkan bentrok dengan pasukan Mas’ud. Maka pada 1996 Ahmad Syah Mas’ud membentuk Jabhah Mutahid Islami yang media Barat sebut Northerren Alliance (Aliansi Utara) yang didalamnya terdiri dari Abdul Rashid Dostum (Veteran Militer dan Nasionalis Afghan), Abdul Ali Marazi (militan syi’ah), dan Karim Khalili (yang nantinya menjadi wakil Presiden boneka buatan Amerika Hamid Karzai). Pasukan Aliansi Utara ini hanya mampu merebut 30% dari wilayah Afghanistan.

Dalam pertempurannya antara Taliban dengan Aliansi Utara hanya wilayah yang dikendalikan oleh Ahmad Syah Mas’ud yang mampu bertahan dari ekspansi Taliban. Taliban juga menawari Mas’ud untuk bergabung dengan Taliban namun ia menolak dan dalam salah satu wawancaranya ia meyakinkan bahwa Taliban untuk bergabung dengan proses politik yang mengarah pada pemilihan demokratis di masa mendatang, karena ia menganggap bantuan dari mujahidin luar Afghan dan intervensi Pakistan akan meninggalkannya.

Pada akhir 1999 Mas’ud yang sudah kepalang tanggung menyebur dalam konflik dengan Taliban menggagas sebuah forum persatuan. Mas’ud memilih jalur nasionalis dengan menarik simpatisan etnis-etnis untuk merontokkan Taliban. Pada fase ini para Mujahid masih menghormati Mas’ud dan melihat ini hanya proses politik yang harus dibayar. Namun ketika forum persatuan etnis besutan Mas’ud yang dinamai Front Bersatu ini membawa penyelesaiannya ke Eropa dan berpidato di Brussel meminta bantuan Internasional dengan dalih kemanusiaan. Saat taraf permainan politik yang sudah keluar dalam batas syar’i para mujahid Taliban menyayangkan sikap Mas’ud yang memilih meminta bantuan orang kafir dalam penyelesaian konflik internal sesama Muslim, hal ini dalam timbangan syar’i adalah bentuk pembatalan ke Islaman.

Tepat dua hari sebelum peristiwa WTC 2001, pada 9 Septembernya Mas’ud yang sedang gencar ingin memberikan wawancara pada media tiba-tiba di Khwājah Bahā ud Dīn. Dalam wawancara itu meledak dan menewaskan sang veteran jihad Soviet. Ia bisa lolos dari serangan pembunuhan KGB, tentara Merah, pasukan Komunis KHAD, dan berbagai intelijen namun berakhir ditangan mujahidin. Karena kematian Mas’ud yang berdekatangan dengan peristiwa 9/11 WTC sontak media dan para pengamat mengaitkan Usmah bin Laden adalah dalang dari kematian Mas’ud. Namun hal ini tidak ada bukti yang kuat sampai Hamid Karzai pada 2003 membuat tim Investigasi atas kematian Mas’ud.

Referensi;
– Abdullah Azzam – Tarbiyyah Jihadiyyah
– Abdullah Azzam – Ayyatur Rahman Fii Jihadil Afghan
– Neamatollah Nojumi – The Rise of the Taliban in Afghanistan: Mass Mobilization, Civil War, and the Future of the Region 
– Olivier Roy – Islam and resistance in Afghanistan
-https://rwa3d54qhejkblwd2lvpqkz7fm-mkzbd4dzakkw2-web-archive-org.translate.goog/web/20060925043421/http://www.orient.uw.edu.pl/balcerowicz/texts/Ahmad_Shah_Masood_en.htm
– https://m.youtube.com/watch?v=hkw-g27AUKE

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021