Apakah Khilafah Seperti Sistem Teokrasi Kepausan?

By : Rulian Haryadi | 10 November 2020

   Sejak revolusi Prancis di gelorakan wajah perpolitikan dunia berubah. Revolusi ini menginspirasi beberapa bangsa seperti revolusi Amerika, Revolusi Bolshevik, Revolusi negara-negara bangsa yang mengusir para kolonial yang bercokol di negeri-negeri jajahannya. Tidak hanya berhenti disitu karena Revolusi Prancis memberi signature atas setiap gerakannya yaitu melepaskan dari cengkraman sistem Teokrasi yang dimana Raja dan para Paus menentukan hak hidup rakyatnya, menetapkan dosa atau hukuman kepada para rakyatnya, dan sewenang-wenang atas nama wakil tuhan di dunia. Raja dan Paus berkolaborasi mengatur negara.

   Ada beberapa kesalahan pandangan kaum Muslimin yang mencocoklogikan Khilafah Islamiyyah dengan sistem Teokrasi di Eropa pada abad pertengahan. Cara pandang ini mengakibatkan ia memilih jalan sekularisme sebagai pilihan filosofi bernegara ketimbang Khilafah yang telah dipersepsikan sebagai Teokrasi.

   Kita bisa pahami psikologi pada era perang dunia ke-I berkecamuk. Berbagai sugguhan ideologi bertaburan sementara kaum Muslimin terburu-buru menanggalkan Quran yang dianggap sepaket dengan kesalah langkahan para sultan di perang dunia. Ali Abdul Raziq ulama asal Mesir misalnya yang getol mengkampanyekan bahwa Khilafah bukanlah sistem islami dan Islam tidak mengurusi bentuk negara. Ini adalah syubhat yang dimana mereka mengenyahkan hukum Allah yang telah ditetapkan dari langit ketujuh menjadi terhalang karena cara pandang yang salah atas Khilafah Islam.

   Problem teokrasi di Barat sudah tentu jelas berbeda dengan Islam yang memiliki komponen Universal dan memiliki nilai yang layak disetiap zaman dan tempat. Islam memberikan ketatapan hukum namun mekanismenya bisa disesuaikan, Islam memiliki kebebasan dan menjamin hak hidup semua agama. Secara sederhana kita bisa melihat gerakan emansipasi, HAM, dan penghapusan gelar bangsawan lahir dari Barat sementara 13 abad problem tersebut tidak lahir pada dunia Islam.

   Secara sistem pun Islam memiliki hak utuh kepada rakyat dimana seorang Khalifah bisa diturunkan apabila ia melanggar konstitusi Islam. Rakyat pun bisa mengontrol jalannya sistem negara dengan amar ma’ruf nahi munkar. Rakyat juga mendapatkan jaminan utuh beribadah, muamalah kepada orang kafir dan juga mereka terjaga darahnya, kehormatannya, dan juga keturunannya.

   Bukti sederhana ialah Gereja-gereja baik di Syam, Mesir, Maghrib, Spanyol, atau di Persia sekalipun masih berdiri kokoh. Bangsa dan para penganutnya pun masa ada sampai detik ini. Sekarang kita putar kasusnya adakah Masjid bersejarah umat Islam di Eropa yang aktif hari ini? Atau adakah komunitas suatu bangsa Muslim yang dari dulu dilindungi sampai hari ini? Tentu saja kalian tidak akan mendapatkan jawabannya. Maka inilah contoh sederhana mengapa Khilafah Islam berbeda dengan Teokrasi Barat.

   Seorang pemikir Islam dari Pakistan Syaikh Abul A’la al-Maududi menyebut bahwa sistem Teokrasi adalah sistem setan. Karena tampak jelas perbedaan sistemnya dan kerancuan Teokrasi.

   Jika kalian ingin melihat bentuk Teokrasi modern maka kalian lihat saja negara Iran hari ini. Disana mereka memakai para Mullah atau Ayatullah (Wilayatul Faqih) sebagai hak pengatur tertinggi negara. Adapun Presiden yang dipilih secara demokrasi tetapi tetap secara struktural dan kewenangan tertinggi ada pada Ayatullah (Wilayatul Faqih).

   Fatalnya pemahaman ini menjadikan seseorang memandang bahwa Islam hanya agama ritual dan menolak segala bentuk aturan Islam yang bersifat sistem negara dan hukum karena mengambil trauma orang-orang Eropa atas sistem Teokrasi.

   Saya setuju bahwa sistem Teokrasi yang ada dibarat harus tidak boleh muncul lagi karena sistem ini membuat manusia tidak berkembang. Terbukti banyak ilmuwan di era abad pertengahan yang harus kehilangan nyawa atau diasingkan hanya karena penemuan atau sains yang ia bawa tidak sejalan dengan cara pandang Gereja.

   Di sistem Islam para ilmuwan tumbuh subur untuk mengeksplorasi kepakarannya. Tak jarang juga kita temui asal muasal teori atau produk materi hari ini berasal dari teori-teori ilmuwan Muslim yang gigih di abad pertengahan. Adapun mengapa umat Islam tertinggal secara peradaban dan terkesan tidak mendukung teknologi belakangan ini bisa jadi karena salah cara pandang tentang sistem Islam yang Universal di qiyaskan dengan sistem Teokrasi ala Barat.

   Jika kalian masih beranggapan bahwa Teokrasi adalah nama lain dari Khilafah Islam ada dua kemungkinan; pertama kalian tidak pernah membaca sejarah sampai menelan bulat-bulat tuduhan keji kepada Islam. Yang kedua kalian benar-benar tidak objektif dalam menilai sesuatu dan saya tidak sampai hati membuat kemungkinan yang ketiga.

Referensi :
– Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, (Bandung: Mizan 2007)
– Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqih daulah dalam perspektif Al-Quran dan sunnah, (Jakarta, Indonesia: Pustaka Alkautsar 1997)
– Dr. Yusuf Qardhawi, Pengantar Politik Islam, (Jakarta, Indonesia: Pustaka Alkautsar 2019)

Opinion

History

Shop

Physical Book

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :