Bentrok Pemikiran Tentang Tasawuf (Bantahan H.M Rasjidi terhadap Harun Nasution)

By : Rulian Haryadi | 10 Januari 2021

   Sebagaimana kita ketahui dewasa ini perdebatan tentang tasawuf atau sufi menjadi polemik. Tasawuf ekstrim yang sempat membuat umat lemah dalam perang salib dan kemandegkan dalam berijtihad di era Utsmaniyah adalah serangkaian harap-harap cemas bagi kaum Muslimin. Anggapan ini dibenarkan oleh Al-Ghazali sendiri dalam “Ihya ‘ulumuddin” dan juga di elaborasi oleh Dr. Majid Irsan al-Kilani dalam “Hakadza Zhahara Shalahuddin, wa hakadza ‘adhatul Quds.”

   Sebelum memulai bentrok pemikiran tentang tasawuf patutnya kita melihat pendapat orang diluar Islam mengenai asal-usul tasawuf. Ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari luar Islam, seperti dari kebudayaan Persia, Kristen, India, dan filsafat Yunani. Seorang orientalis seperti F.A.D. Tholukc, Reinhard P. Dozy, dan W.H. Palmer mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kebudayaan Majusi, Persia. Argumen yang mereka kemukakan kerena di awal kemunculannya, para sufi banyak yang berasal dari Persia yang kemudian masuk Islam dan membawa ajaran Majusi dan kebudayaan Persia ke dalam Islam.

   Beberapa figur seperti Von Kremer, Ignaz Goldziher, Asin Palacios, Julian Baldick, Margareth Smith, dan Ibrâhîm Hilâl mengidentifikasi bahwa tasawuf berasal dari Kristen. Argumen yang mereka kemukakan salah satunya bahwa, praktik zuhud dalam tasawuf berasal dari kebiasaan rahib-rahib Kristen Timur sebelum kedatangan Islam. Bahkan, penggunaan kain wol (s}ûf) dalam tradisi sufi juga dianggap berasal dari tradisi Kristen.

   Horton dan Richard Hartmann, sebagai disampaikan al-Taftazânî menyatakan bahwa tasawuf bersumber dari India. Mereka memandang bahwa terdapat beberapa konsepsi dan praktik-praktik dalam tasawuf yang memiliki kesamaan dengan ajaran-ajaran Budhisme India.

   Prof. Dr. Harun Nasution seorang tokoh yang terkenal gigih ingin memodernisasi pemikiran Islam. Ia pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah zaman Menteri Agama Mukti Ali di orde Baru. Bukunya “Islam ditinjau dari berbagai aspek” adalah usahanya untuk merasionalisasi Islam dan menuruti cara pandang Barat.

   Harun juga sebenarnya mengetahui akan kemelut asal-usul sufisme. Meski demikian Harun Nasution menganggap jalur sufisme tetap penting untuk pendekatan diri terhadap Allah. Kita juga mengetahui bahwa Sufisme berjenjang-jenjang ada yang mengambil jalur zuhud sebagai pendekatan diri, ada yang mengambil filosofis atas hasil spiritual, dan yang terakhir ialah mistik dalam ritual. Harun Nasution menganggap bahwa semua itu sejalan dengan Islam.

   Prof. Dr. H.M Rasjidi yang pernah mengajar di pusat kampus Orientalis di McGill University dan merupakan Menteri pertama Republik Indonesia menolak memandang bahwa Islam pada dasarnya tidak menganjurkan praktik-praktik mistik. Dengan demikian, keberadaan sufisme, yang disepakati sebagai mistisisme Islam juga ditolak oleh H.M. Rasjidi. Di dalam Alquran maupun hadis tidak ditemukan dalil-dalil yang secara tekstual menganjurkan praktik-praktik mistik tersebut. Jika demikian, jelas bahwa sufisme tidak memiliki landasan di dalam Islam. Dalam kritiknya, H.M. Rasjidi mengatakan, “Dengan begitu, maka mistisisme bukan semata-mata aspek Islam. Islam adalah ajaran Tuhan untuk mengatur hubungan masyarakat, yakni hubungan manusia dengan manusia serta mengatur hubungan manusia dengan Tuhan melalui tuntunan ibadah-ibadah.”

   Sebagaimana yang sudah umum barangkali ditataran publik tradisional Indonesai mengenal tingkatan-tingakan  mengenal Allah seperti; Tariqah (Tarekat), Hakikat (Hakekat), Ma’rifat. Tingkatan spiritual ini yang nantinya dianggap sebagai jalur spiritual untuk mencapai kedekatan dengan Allah yang disebut al-ittihâd.

   Harun Nasution menggunakan kata al-ittihâd atau mystical union untuk menggambarkan inti ajaran sufisme, yakni agar manusia mencapai tujuan bersatu dengan Tuhan. Bagi Harun Nasution, al-ittihâd adalah puncak dari perjalanan spiritual yang ditempuh oleh para sufi. Dalam literatur tasawuf, istilah al-ittihâd selalu disandarkan kepada tasawuf Abû Yazîd al-Bustâmî. Akan tetapi berdasarkan pengertian di atas, Harun Nasution menggunakan istilah al-ittihâd untuk menggambarkan “kebersatuan manusia dengan Tuhan” secara umum. Harun Nasution mengatakan bahwa kebersatuan manusia dengan Tuhan bisa mengambil bentuk al-hulûl dan wahdat al-wujûd. Harun Nasution berpendapat, untukmencapai tujuan “bersatu dengan Tuhan,” ada beberapa proses dan tingkatan yang harus dilalui seorang sufi, yang pertama adalah al-maqâmât dan al-hâl. Setelah itu, seorang sufi akan sampai pada tingkatan al-mah}abbah dan al-ma‘rifah.

   Menurut H.M. Rasjidi, ungkapan tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan dalam hal ini, H.M. Rasjidi juga mengidentifikasi Harun Nasution telah terpengaruh oleh doktrin Kristen. Harun Nasution mengatakan dalam ajaran sufisme “Tuhan bukan suatu Zat yang ditakuti, melaikan untuk dicintai dan dikasihi.” Menurut H.M. Rasjidi, ungkapan tersebut jelas bersumber dari doktrin Kristen. H.M. Rasjidi mengatakan bahwa istilah “Cinta” yang digunakan Harun Nasution berasal “God is Love” dalam doktrin Kristen.

   Ia juga mengatakan bahwa dengan jelas Alquran menggunakan kata ittaqâ untuk menggambarkan rasa takut kepada Allah. Alquran juga menggunakan kata khashiya dan khawf yang secara harfiah mengandung arti takut kepada Allah. Rasa takut tersebut berarti hormat dan cinta kepada Allah. Dengan demikian, H.M. Rasjidi memandang bahwa rasa takut kepada Allah sudah meliputi rasa cinta kepada Allah.

   Penolakan terhadap konsepsi al-ittihâd bukanlah hal baru dalam sejarah tasawuf. Komentar senada pernah dikemukakan oleh al-Ghazâlî terhadap para sufi, terutama terhadap al-Hallâj dan al-Bustâmî karena ungkapan shatahât yang mengindikasikan kebersatuan dengan Tuhan. Al- Ghazâlî dengan tegas mengatakan bahwa ungkapan tersebut berbahaya dan tidak sesuai dengan ajaran agama.

   Singkatnya barangkali bisa disimpulkan bahwa harus ada pemaknaan yang tegas terhadap ajaran Islam seperti Tazkiyyatun Nafs, Zuhud, Wara’ dan sebagainya tanpa melekatkan kepda istilah atau ritual para sufi.

   Tasawuf yang ditumbuh kembangkan oleh tokoh-tokoh sufi seperti Jalaluddin Rumi, Shamsy Tabriz, Abu Yazid al-Bustami, Manshur al-Hallaj, Junaid al-Baghdadi, dan lain sebagainya tak jarang menjadi bahan yang empuk untuk diolah oleh para orientalis sebagai pembenaran atas serangkaian tafsir dalam ajaran Islam. Para orientalis yang melihat tafsir ajaran Islam orang-orang sufi dipakai untuk melemahkan terhadap syari’at seperti Jihad, Hudud, Qishas dan sebagainya. Pandangan para sufi yang tidak peduli dengan hal-hal iqomatuddin dan penyimpangan pemaknaan syari’at dianggap orientalis adalah suara atau buah pemikiran Islam itu sendiri.

Referensi :
– Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya: Jilid II. (UI-Press : 1985)
– Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. (Bulan Bintang : 2010)
– H.M Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Nurcholis Madjid tentang, Sekularisasi, (Bulan Bintang : 1972)
– H.M Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.” (Bulan Bintang: 1997)
– Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik dalam Islam, (Pustaka Firdaus: 2003)

Opinion

History

Shop

Physical Book

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :