Catatan Penting Dalam Perang Salib; Analisis Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi

By : Rulian Haryadi | 9 Juni 2020

   Abad pertengahan memang menjadi abad yang penuh dengan kesatria baik dari di dunia Barat atau di dunia Islam. Pada abad ini (abad-11)  juga tidak hanya dikerahkan soal peperangan fisik tetapi juga mulai dicanangkannya perang urat saraf (Ghazwul Fikr). Alhamdulillah dalam masa itu Islam berhasil memenangkan pertandingan dan menguasai elite global paling tidak sampai beberapa abad kedepan saat memuncaknya renaissance di tubuh masyarakat Barat yang sudah tidak percaya kepada gereja dan hilangnya supremasi Paus.

   Perang Salib memang selau menjadi daya Tarik tersendiri sampai-sampai Presiden Bush saja yang melancarkan agresi militer ke Afghanistan menyebutnya dengan istilah “Perang Salib”. Atau di era sebelumnya ada Jendral Edmund Alenby yang menendang makam Shalahuddin al-Ayyubi dengan mengatakan “Perang Salib sudah selesai”. Namun ada tiga hal yang perlu dipetik saat kecamuknya “Perang Salib”, saya coba nukil catatan penting ini dari ulama sejarah kontemporer yang sangat fokus terhadap kebangkitan Islam ialah Ali Muhammad Ash-Shalabi. Berikut catatan penting dalam Perang Salib :

  • Pertama sekali yang harus di perhitungkan adalah ekonomi. Efek bangkai atas pertempuran dan wabah penyakit. Mayat manusia sangat lekat sekali saat pertempuran sedang bergemuruh maupun setelahnya. Kejadian ini terekam dari pendapat Syaikh Abu Syamah dalam sebuah tulisannya yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya “Bidayyah wan Nihayyah” ia mengatakan, “selama sebulan dalam waktu setahun Al-Malik Al-Adil (adik Shalahuddin al-Ayyubi) menyediakan kain kafan kurang lebih dua ratus dua puluh ribu mayat yang ia beli dengan menggunakan hartanya sendiri”. Lanjut ash-Shalabi menuturkan dengan gambaran pada masa itu “di Mesir pada saat itu, bangkai anjing dan bangkai-bangkai lainnya terpaksa harus dimakan. Bahkan banyak anak-anak yang harus dipanggang oleh kedua orang tuanya sendiri untuk dimakan”. Dalam situasi seperti ini orang-orang awam yang kurang tertarbiyah paling rentan untuk murtad atau menjadi kanibal dan juga wabah penyakit pun akan hinggap karena penumpukkan mayat.
  • Kedua adalah bencana alam. Pada tahun 597 H terjadi gempa yang sangat besar. Gempa ini di mulai dari Syam sampai ke negara-negara Al-Jazirah (Mesopotamia -sekarang Iraq selatan), negeri-negeri Romawi dan Iraq. Gempa yang sangat dahsyat ini paling parah menimpa desa di Bushra karena sampai terkubur ke tanah. Sementara di Nablus yang tersisa hanya daerah Harat As-Samirat. Ada 30ribu korban yang tertimbun tanah dan juga bangunan di Syam tumbang terutama Masjid Damaskus yang mengalami di bagian menara-menaranya.
  • Ketiga adalah minggalnya para Ulama. Kematian ulama dalam pertempuran merupakan bencana besar. Pasalnya para Mujahiddin akan kesulitan menentukan persoalan yang pelik tentang sikap hukum syar’i dan tidak hanya itu manusia kehilangan ahli ilmu, orang yang bertaqwa dan semua ini berat di sisi Allah dan keberkahan sedikitnya berkurang dalam jihad. Dalam kasus Perang Salib ada beberapa ulama dunia yang wafat disaat panas-panasnya situasi dunia ialah :
  1. Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ja’far Al-Jauzi yang sampai hari ini deknal dengan nama Ibnu Jauzi (Wafat 598 H).
  2. Maklabah bin Abdullah Al-Mustanjadi (Wafat 597 H) seorang ulama berkebangsaan Turki yang di kenal zuhud nya.
  3. Al-Imad Al-Katib Al-Ashbahani (Wafat 597 H) seorang Qadhi dan seorang Mufti besar namun sejarah mengenangnya sebagai Katib karena saat pasuka Shalahuddin mengepung Aleppo sang imam Ashbahani ini direkrut menjadi ajudan langsung Shalahuddin Al-Ayyubi
  4. Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Maqdisi (Wafat 600 H) bernama lengkap Taqiyuddin alias Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisi. Sebagai tonggak ahli hadits pada zamannya dan juga sempat berguru dengan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.
  5. Fakhruddin Ar-Razzi (Wafat 606) seorang ahli Ushul Fiqh dan Tafsir yang sangat di segani.

   Kita bisa memetakan solusi untuk resiko-resiko di atas, walau memang tidak bisa di hindari poin-poin di atas namun kita bisa mencari solusi seperti menyiapkan kekuatan ekonomi baik di sekala global sampai UKM agar umat bisa bertahan dalam goncangan situasi global, mepersiapkan para ahli medis dan memperkokoh dengan ilmu-ilmu dasar kesehatan untuk masyarakat, dan mencari cara cepat membrangus jikalau ada wabah. Semoga Allah melapangkan niat ikhlas kita mempersiapkan dan memantaskan diri untuk menyambut janji Allah dan Rasulnya tentang kebangkitan Islam.

Referensi :
– Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit Runtuhnya Dinasti Ayyubiyyah, (Jakarta, Indonesia: Al-Kautsar 2017)

Opinion

History

Shop

Physical Book

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :