Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Civil Society Watch Preman Baru Indonesia

1 Juli 2021 | Opinion

Aksi Ade Armando membanyol dengan dalih kritik kepada BEM UI dimedia sosial merupakan hal yang paling menjijikan di akhir bulan Juni. Ade benar-benar memainkan apa yang ia sebut Civil Society Watch. Ade mengatakan Civil Society Watch masih berupa organisasi kecil.

Civil Society Watch Preman Baru Indonesia

Aksi Ade Armando membanyol dengan dalih kritik kepada BEM UI dimedia sosial merupakan hal yang paling menjijikan di akhir bulan Juni. Ade benar-benar memainkan apa yang ia sebut Civil Society Watch. Ade mengatakan Civil Society Watch masih berupa organisasi kecil. Orang-orang yang terlibat di dalamnya, kata dia, adalah mereka yang selama ini bergelut di Cokro TV dengan dirinya. Dikutip dari Tempo, Senin, 7 Juni 2021. “Sebagian orang-orang di CSW adalah orang-orang di Cokro TV yang selama ini sudah terlibat, cuman kami kemudian khususkan perhatian gimana caranya jadi pengawasnya civil society.”

Tidak cukup sampai disana kita bisa melihat kasus sejumlah pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) mengalami peretasan terhadap akun media sosialnya. Peretasan terjadi setelah unggahan akun Instagram BEM UI soal Jokowi The King of Lip Service menuai polemik. “Telah terjadi peretasan akun media sosial kepada beberapa pengurus BEM UI 2021,” kata Ketua BEM UI Leon Alvinda Putra lewat keterangan tertulis, Senin, 28 Juni 2021. Rentetan kabar yang berkaitan ini membuktikan Civil Society Watch diduga tidak hanya mencibir oposisi dan argument rakyat kepada pemerintah namun lebih jauh dari itu mereka juga tidak segan meretas akun.

Pria yang lahir 24 September 1961 bernama Ade Armando memang mendeklarasi dirinya pendukung Jokowi dibanyak media. Pada 6 Juni 2021 Ade memang memberitahu warga dunia bahwa ia dan kawannya di Cokro Tv akan membuat Civil Society Watch (CSW). Seperti klaim Ade di atas dirinya menerangkan bahwa CSW bertujuan untuk “menjaga agar kelompok-kelompok LSM, NGO, media massa, dan ormas tetap menjadi kekuatan yang sehat dalam demokrasi.” Dengan cepat kabar itu meluas dan mendapat respon dari Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara menilai keliru bila lembaga swadaya masyarakat atau civil society mengawasi LSM. Sebab tugas LSM untuk mengawasi jalannya pemerintah dan perangkat negara, termasuk Komnas HAM.

Civil Society Watch (CSW) ini memang sungguh menggelikan hal ini kita bisa lihat secara organik pada orang-orang dibalik Cokro Tv yang benar mati-matian menghalau arus Islam dalam kekuatan politik. Segala bentuk gerakan ormas Islam tak luput dari cuitan dan komentar di channel Youtube Cokro Tv. Ade yang mempunyai slogan “pakai logika” atau “pakai akal sehat”. Dalam kacamata demokrasi Society Watch adalah tools untuk check and balance (pengkoreksi kebijakan) untuk pemerintah, jalannya pemerintahan akan sempurna dalam (kerangka demokrasi) saat kebijakan berhasil memenuhi keinginan rakyat atau mencukupi hajat hidup orang banyak. Sementara dengan hadirnya CSW malah kebalikan dari semua filosofi berdemokrasi. Hobbes, Locke, dan Rousseau akan menangis seraya mendenggulkan kepala Ade jika ia melihat Ade soal CSW.

Kebebasan berbicara, berekspresi, dan berserikat nampaknya hanya jadi lip service karena adanya gerakan CSW. Belum lagi nanti kekerasan kepada ulama, dan tokoh Islam akan mudah sekali di sasar oleh CSW. Banyak kasus pengaduan dari para anggota Cokro Tv yang selalu melaporkan para ulama dan tokoh Islam hanya karena berlaian pendapat dengan kebijakan pemerintah.

Selain itu, yang menjadi pertanyaan utama adalah terkait apa urgensi-nya untuk membuat Civil Society Watch?, hal mana dilansir dari nasional.tempo.co (Kamis, 01 Juli 2021) Ade Armando  menjelaskan alasannya membentuk Civil Society Watch ini. Ia menilai salah satu problem Indonesia ialah perlu adanya masyarakat sipil yang berintegritas, kritis, dan kuat agar jangan gampang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu, baik pemodal maupun politik.

Ketika kita perhatikan alasan tersebut, malah akan bertentangan dengan alasan beliau, karena jika ingin mengatur agar masyarakat sipil jangan gampang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu, baik pemodal maupun politik, artinya jika kita lihat debat Ade Armando vs Delpedro Marhaen yang mengutarakan tentang demokrasi, tidak akan tercapai jika alasan dari pembetukan CSW apa yang diutarakan oleh beliau.

Lebih jauh, ketika adanya pernyataan agar jangan gampang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu dan lainnya, sama saja beliau menginjak-injak pilihan hidup seseorang yang hidup di negara demokrasi ini, atau memang beliau benar apa yang dikatakan oleh Feri Amsari, Direktur Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Universitas Andalas Sumatera Barat, “Pengawas masyarakat sipil yang mirip hansip atau Pam Swakarsa”.

Sekedar memberikan masukan terkait pola pikir yang kurang fair degan menyandang gelar “Dosen”, yang seharusnya memiliki literasi maupun relasi yang memadai dan harus berimbang dengan data-data yang diperlukan untuk mengeluarkan ke publik satu isu. “Gunakanlah akal sehat, agar Bung Ade Armando beserta kawan-kawan CSW lainnya bisa fair dalam setiap isu. Ketika satu pendapat tanpa adanya ruang diskusi, maka yang terjadi adalah onani intelektual dan bersenggama bersama delusi hipokrit”.

Tapi, kami sebagai seorang Muslim yang di ajarkan melihat sesuatu fenomena dalam kacamata hikmah, ide Civil Society Watch Ade Armando ini dinilai akan menciptakan perubahan besar di Indonesia. Dimana kaum Muslimin yang tertindas atas sikap CSW yang selalu mengintai mimbar-mimbar khutbah, halaqah, dan kegiatan sosial kaum Muslimin berefek pada persatuan umat Islam. Atas persatuan umat inilah nantinya akan merubah tatanan sosial Indonesia dengan memboyong penerapan syari’ah untuk berbangsa dan bernegara.

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021