Demokrasi Adalah Sistem Penghasil Para Tiran

By : Rulian Haryadi | 15 Oktober 2020

   Demokrasi yang kita kenal hari ini lahir secara kontoversial dalam panggung politik sejarah kekuasaan negara, akibat muaknya masyarakat Eropa atas kekuasaan para Raja, Bangsawan, maupun institusi Gereja yang senantiasa mengatasnamakan Tuhan untuk melegitimisasi kedzalimannya. Tidak hanya itu demokrasi di ukir sedemikian rupa agar menjadi wajah masa depan bagi sistem tatanan dunia.

   Pergolakan ini berakhir dengan suatu jalan tengah, yaitu pemisahan agama dari kehidupan yang mengakibatkan pemisahan agama dari negara (Sekularisme). Inilah yang menjadi dasar demokrasi, yang melahirkan dua konsep mutlak yaitu :

  1. Kedaulatan ditangan Rakyat.
  2. Rakyat sebagai sumber kekuasaan.

   Dan pada akhirnya rakyatlah yang berwenang dalam segala hal. Yang sebelumnya peran Tuhan dianggap sebagai satu-satunya yang berhak membuat hukum disingkirkan. Sudah kita ketahui bersama bahwa paham ini di eksport ke negeri-negeri Islam dengan dalih prinsip Musyawarah mufakat itu ada dalam demokrasi sehingga demokrasi dianggap sebagai paham yang berasal dari Islam. Sungguh sangat ironis sekali tatkala suara rakyat dianggap sama dengan kedaulatan Allah. Tokoh-tokoh pendukungnya seperti Ali Abdul Raziq seorang sekularis asal Mesir mendeklarasikan bahwa Islam tidak mengakomodir negara lewat kitabnya “Al-Islam wal Ushul  al-Hukm.”

   Jika kita melihat dengan kacamata sejarah sadarkah kita bahwa demokrasi tak luput dari penguasa -penguasa tirani dan saya rasa demokrasi tak bisa lepas dari itu. Ibarat sebuah berangkas tak dikunci, sekalinya dikunci pasti akan terjebak didalam berangkas tersebut, kecuali ada orang yang memaksa membukanya. Semakin mendalami demokrasi maka semakin dalam kita terjatuh dalam ketirani-an.

   Apakah itu tirani? Tirani merupakan kekuasaan yang digunakan sewenang-sewenang oleh pemimpin rakyat.  Kita sudah melihat begitu banyak fakta-fakta kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang, takala demokrasi menjadi ladang yang begitu subur bagi kekuasaan para tirani.

   Tirani kekuasaan dijadikan sebagai alat untuk menguasai negara dengan segala macam isinya, dari mulai kekayaan Alam hingga tak luput menimbulkan banyak kerugiaan yang diterima bagi masyarakat, menyuburkan kapitalis, hilangnya keadilan dan menumbuh kembangkan penguasa yang baru menjadi tolok ukur estafet kedepannya. Siklus ini terjadi ketika penguasaan tumbang munculah calon para tirani baru yang siap naik panggung.

   Beberapa tools yang menyuburkan para tirani itu bermekaran adalah; (1) Ketidak adaan filter dalam demokrasi dan tidak adanya kepastian legeslatif karena selalu merubah-rubah hukum. Dua hal ini fatal selama kita tarik sejarah seperti Amerika, Prancis, Belanda, dan negara-negara lain penyeru demokrasi telah memunculkan para tirani kelas kakap. Korban yang nyata dari demokrasi adalah kaum Muslimin, para orang-orang lemah, dan hilangnya moral manusia.

   Pertama, tidak adanya filter untuk menjadikan seseorang itu layak mengatur negara. Seorang pemabuk lagi perampok bisa menjadi penguasa. Tak heran Kolumbia di era 80-an bisa meloloskan Pablo Escobar sebagai calon yang sah terpilih sebagai badan legeslatif. Seorang alim tidak akan bisa terpilih jika tidak bisa bermain culas dalam demokrasi, sebut saja Hekmatiyar sahabat karib Abdullah Azzam yang anjlok hasil suaranya di pemilu Presiden Afghanistan.

   Kedua, hukum yang tidak pasti. Ini terjadi lantaran sistem itu membuka lebar-lebar masyarakat menentukan hukum menurut hawa nafsunya. LGBTQ, Feminisme, seks bebas bisa menjadi hal legal dalam demokrasi. Seburuk-buruknya pemerintahan Gereja di era Romawi Byzantium sampai era Tsar Nikola II belum pernah ada pelegalan di dunia tentang LGBTQ. Karena dalil utama demokrasi negara tidak menindak pelaku dosa dalam kacamata agama.

   Jangan lagi berbicara keadilan kolektif dalam demokrasi karena yang ada adalah hawa nafsu kolektif. Hawa nafsu ini pun saling terkam-menerkam (homo homini lupus) untuk mengatakan pada publik bahwa kami lah sang pemberi kesejahtraan. Selaras seperti firman Allah ﷻ dalam Quran, “janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al-Baqarah : 11)

   Sampai detik ini para ulama tidak ada yang menghalalkan demokrasi sebagai bagian kehidupan bernegara yang diakui dalam dunia Islam. Yang ada hanya ikhtilaf (perselisihan) apakah demokrasi ini bisa dipakai untuk perjuangan menerapkan syariat ataukah tidak. singkatnya sampai detik ini perjuangan melalui jalur demokrasi tidak ada yang berhasil mulai dari Mesir, Aljazair, Pakistan, dan Indonesia.

Opinion

History

Shop

Physical Book

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :