Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Dimana Kaum Humanis dan Toleran Dalam Kasus Palestina?

17 Mei 2021 | Opinion

Sudah barang tentu dalam suasana akhir ramadhan yang penuh berkah terkhusuk memanjat do’a untuk saudara-saudara terkhusus sesama Muslim dan taufiq bagi seluruh umat manusia namun

Dimana Kaum Humanis dan Toleran Dalam Kasus Palestina?

Sudah barang tentu dalam suasana akhir ramadhan yang penuh berkah terkhusuk memanjat do’a untuk saudara-saudara terkhusus sesama Muslim dan taufiq bagi seluruh umat manusia namun, seketika mata kita di sugguhkan berita bentrokan jama’ah di Al-Aqsha. Selang beberapa jam hujatan terhadap mujahidin Brigade Al-Qassam yang dikenal dengan kekokohan militernya tidak bergerak merespon. Tak perlu waktu lama roket-roket HAMAS itu menghujani Tel Aviv dan beberapa distrik di Israel sungguh aksi nyata dan konkret.

Kisah diatas adalah background yang kita saksikan perkembangan beritanya sampai detik ini. Israel membalas aksi-aksi para mujahidin dengan membombardir Gaza, memporakporadakan rakyat sipil, dan gedung-gedung. Tapi kematian Komandan Qassam Bassem Issa’ saja yang terus yang digoreng media pro-Israel. Sepatutnya respon kaum Muslimin lebih geliat memberitakan kekejian IDF (Israel Defense Force) pada saudara-saudara di Palestina.

Aksi demonstrasi di berbagai negara Barat sudah berkoar yang melihat bahwa Israel telah melampaui batas dalam merespon konflik Palestina-Israel. Negeri-negeri Barat yang notabene menjunjung sekularisme saja bisa melihat dengan telanjang bahwa Israel adalah sumber kebiadaban. Menariknya dalam beberapa hari ini di Indonesia kaum yang mendeklarasikan dirinya bahwa ia tidak butuh dengan pahala karena membantu sesama hanya butuh kemanusiaan (Humanism) dan juga orang-orang yang teriak keras jika kaum Muslimin menerapkan syari’at adalah orang tidak toleran tiba-tiba bergeming diam. Sepatah kata atau mungkin memposting kekejian Israel pun mereka tidak.

Baik, terlebih dulu saya coba runut mengapa konflik Palestina-Israel ini harus diangkat besar-besar dan ditendensiusi. Pertama, Israel adalah penjajah bagi tanah Palestina. Palestina bukan jarahan perang dunia pertama, bangsa Arab melawan pada Inggris sampai adanya deklarasi Balfour 1917 yang membuka gerbong besar datangnya orang Yahudi ke tanah Palestina. Meski tidak secara eksplisit dinyatakan pendirian negara Israel didalam deklarasi Balfour Rakyat Palestina dari awal sudah menggugat bahwa kedatangan orang Yahudi dikhawatirkan akan menuntut pemerintahan berbasis Zionis. Kaum Muslimin terus memprotes dan melakukan aksi mogok kerja sampai tercetusnya White Book MacDonald oleh komisi Peel (Komisi Woodhead) dan Israel melibas semua diplomasi karena hasrat mereka sudah adalah menjajah bangsa Arab.

Kedua, konflik Palestina-Israel bukan hanya konflik politik atau isu agama (Islam dan Yahudi) lebih dari itu konflik ini menentukan amanat ilahi karena ada masjid Al-Aqsha yang merupakan kiblat pertama umat Islam dan penyadaran ukhuwah Islamiyyah. Ketiga, konflik Palestina-Israel bukan konflik konspirasi yang melibatkan kelumit yang mengawang-awang untuk dibahas. Kami rasa kalian tidak perlu memahami dengan segudang jurnal dan bahan bacaan lainnya untuk memahami bahwa Israel adalah penjahat yang harus diadili di kancah internasional.

Barangkali bagi orang-orang yang menyematkan status humanis dan toleran pada dirinya tidak memposting atau peduli terhadap Palestina dikarenakan penolakan secara emosionil, ketakutannya dicap kubu Islamis, atau takut rusaknya karir karena imbas dari konflik ini. Semua itu bisa dikatakan karena ketidak hadirannya hati (matinya hati red) terhadap Palestina disebabkan tidak belajar Islam. Yang mengagetkannya lagi dalam beberapa hari ini segolongan orang yang menyematkan diri pada salafushaleh (Salafy) membombardir fitnah bahwa HAMAS (Harakah Muqawamah Islamiyah) adalah bentukan Yahudi dan HAMAS sebenarnya Syi’ah.

Menyikapi tuduhan terhadap HAMAS bisa kita lihat dari cari berpikir mereka yang tidak utuh dan sangat keropos karena terlalu sentimental terhadap gerakan jihad. HAMAS yang terang-terangan memusuhi Israel sejak awal perlawanan Intifadhah 1987 sampai hari ini HAMAS paling konsisten untuk menggebuk Israel. Berbeda dengan PLO (Palestine Liberation Organization) yang terkesan lunak dan selalu mengadakan perjanjian atau kesepakatan yang imbasnya makin merosotnya moral perjuangan dan tidak adanya hasil konkret. Coba kita pakai cara berpikir mereka kepada pemerintahan Saudi Arabia, jika dihembuskan isu bahwa Saudi adalah bentukan Yahudi dan tuduhan itu diperkuat dengan tidak adanya respon militer terhadap konflik Palestina. Pasti mereka kelabakan untuk mengkonter isu itu dan ini cara pemikiran yang amat sangat bodoh terlebih untuk dilemparkan kepada para mujahid.

Sementara tuduhan Syi’ah terhadap HAMAS membuktikan bahwa tidak mengertinya dinamisme politik dan perhelatan internasional. HAMAS menarik Iran untuk mem-backup suplai senjata karena Iran konsisten menolak keras Amerika. Sementara negara-negara Arab yang kaya-raya tidak mau mendukung dalam bentuk militer pada HAMAS karena takut di sekat perdagangan internasionalnya. Hal ini digunakan HAMAS sebagai langkah strategist oh memang yang dilawan adalah Yahudi. Langkah ini tidak berarti bahwa HAMAS adalah simpatisan Syi’ah dan mengimani teologi atau manhaj orang Syi’ah. Rasulullah ﷺ adalah qudwah manusia yang paling sempurna pun mencontohkan koalisi dengan orang kafir seperti saat Hudaybiyyah kubu Nabi ﷺ berkoalisi dengan Bani Khuza’ah. Jika cara berpikir atas tuduhan Syi’ah itu dipakai dengan menghembuskan isu bahwa pihak kerajaan Saudi adalah orang Nasrani karena diplomasi bisnis dengan Donald Trump.

Sepatutnya kita harus malu terhadap perempuan bernama Rachel Corrie yang menyibukan waktu sampai mati untuk perjuangan melawan Israel. Rachel sendiri adalah seorang yahudi namun ia mengutuk keras kebiadaban IDF (Israel Defense Force) kepada kaum Muslimin yang tidak memegang senjata. Ia terus berteriak sampai wafatnya dilindas oleh bulldozer Israel yang meremukan seluruh tubuhnya. Kita harus malu karena tidak mampu secara konkret membantu aksi militer atau pun aksi kemanusiaan dalam tindakkan nyata.

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021