Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Diskon Aqidah Demi Toleransi; Pandangan Buya Hamka

4 Mei 2021 | Opinion

Apakah perlu jika kita selaku umat Islam berurusan dengan kata “Toleransi” sampai mengorbankan aqidah? Saya rasa tidak, untuk urusan aqidah tidak ada yang namanya toleransi!!

Diskon Aqidah Demi Toleransi; Pandangan Buya Hamka

Apakah perlu jika kita selaku umat Islam berurusan dengan kata “Toleransi” sampai mengorbankan aqidah? Saya rasa tidak, untuk urusan aqidah tidak ada yang namanya toleransi!!

Hampir setiap tahun, di negara yang kita sebut Indonesia ini acapkali terlihat umat Islam bahkan sekelas da’i yang secara sengaja ataupun mereka silap atas pilihannya untuk berkhotbah/speech di tempat peribadatan umat lain yang menggelontorkan kata toleransi kepada umat lain tersebut demi terciptanya kerukunan antar umat beragama dengan memakai kalimat-kalimat yang syubhat apabila kita mau telaah. Bahkan, ketika sampai pada titik pertanyaan, apakah ini toleransi, sekularisme atau sinkretisme?

Gejala seperti ini yang sering kita lihat sekarang. Dengan setengah paksaan dianjurkan do’a bersama, ibadat bersama, kebaktian bersama di antara orang-orang yang berlainan kepercayaan, dan dikatakan itulah semangat Pancasila! Sehingga disadari atau tidak, Pancasila diatas segalanya dari semua agama, dan orang-orang yang sama sekali tidak mengamalkan satu agama, merasa dirinya pemimpin tertinggi, melebihi ulama dan pendeta, kyai dan pastor. Dan barangsiapa yang tidak menyetujui, dituduh anti Pancasila dan tidak toleransi, dan tidak menunjukkan ‘kepribadian’ Indonesia.

Buya Hamka yang paling tidak masyhur dikalangan umat Islam dan orang sekuler sekalipun, sampai mati Buya tidak mencabut fatwa MUI tentang haramnya mengucapkan selamat natal (1981). Dalam sebuah tulisan beliau kita bisa amati mengapa buya sangat keras terhadap pelucutan aqidah atas nama toleransi;

Buya Berkata, Selama pena ini masih bisa menulis dan mulut ini masih bisa berkata, kita katakan terus terang dan tegas: “Bukan begitu yang toleransi”!

Bahkan itu adalah merusak agama, memaksa orang menelan sesuatu yang berlawanan dengan inti kepercayaannya.

Orang agama lain itu sendiripun tidak akan dapat menerima suatu upacara baru yang tidak ada dalam agama itu. Dan ini hanya akan bisa dilakukan oleh pemeluk-pemeluk agama yang tidak punya pendirian, yang lupa tanggung jawabnya di hadapan Tuhan, karena hendak mengambil muka kepada khalayak ramai.

Sehingga pernah terjadi, seorang pembicara di dalam pertemuan besar mengatakan bahwa “Nabi Isa di salib” padahal dia pemuka Islam. Dan pernah terjadi seorang Kyai membaca do’a dihadapan umum, dan do’a itu diambilnya dari ”hutbah gunung”, pidato Yesus Kristus dalam lnjil yang beredar sekarang. Demi Toleransi, Kyai tidak membaca lagi do’a yang wariddari ajaran Rasulullah Shalallahu Ailaihi Wasallam.

Tentu orang-orang seperti itu dapat pujian khalayak ramai, dan disambut dengan tepuk tangan oleh orang-orang Kristen, tetapi dia tidak sadar bahwa dengan apa yang dinamainya “toleransi” itu dia telah mengorbankan akidah agamanya.

Zaman akhir-akhir ini sudah ada gejala toleransi paksaan itu, dalam hal-hal resmi atau tidak resmi. Untuk tenggang menenggang, seorang Kyai disuruh baca do’a maupun speech dihadapan umat agama lain dalam tempat peribadatannya dan untuk menunjukkan bahwa mereka berlapang dada. Tidak perlu kita nyinyir untuk menggemakan toleransi yang seakan-akan kita selaku umat Islam telah amnesia akan kata toleransi. Semua umat beragama pasti mengetahui dan menyadari apabila aqidah, cara peribadatan dan lainnya pasti berbeda-beda dan juga tidak perlu menggadaikan aqidah dengan kata TOLERANSI!!

Tidaklah mustahil pada akal, dalam beberapa tahun lagi, kalau umat Islam masih saja lalai dalam mempertahankan pokok akidahnya, bahwa nasib kita di sini akan sama dengan nasib umat Islam di Ethiopia. Golongan minoritas suku Amhara, yaitu, suku Kaisar Haile Selassie sendiri menindas umat Islam, dan menjalankan rencana mengkristenkan mereka dengan seluruh alat kekuasaan yang ada. Bahkan bisa lebih parah seperti peristiwa Bosnia 1995 karena over tolerance. Apalagi kalau umat Islam di sini masih saja bercakar-cakaran karena perebutan pengaruh sesamanya, kadang-kadang dalam perkara sepele, perkara qunut subuh atau tidak qunut, perkara di-talaffudzkan (diucapkan) niat atau tidak, dan sebagainya.

Sekiranya kita bisa renungkan perkataan syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi “Orang mengira bahwa hukuman dan ujian hanya berkisar pada hilangnya harta dan anak. Padahal (hukuman dan ujian) yang lebih besar daripada itu adalah seseorang melihat kebenaran, lalu Allah memalingkannya dari kebenaran tersebut.” Aqidah adalah kebenaran yang nyata dan tidak bisa dipalingkan dengan bujukan toleransi, jika kalian masih menganggap remeh masalah aqidah maka cari tahulah sendiri darimana kalian ditipu?

Referensi :
– Adian Husaini, Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam, (Jakarta 2009: Gema Insani Press)
Dr. Hamka, Dari Hati Ke Hati, (Jakarta 2016: Gema Insani Press)

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021