Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Dr. Daud Rasyid Membungkam Snouck Hurgronje dan Harun Nasution

30 April 2021 | Opinion

Sunnah sebagai pondasi dan sekaligus sumber hukum dalam Islam adalah hal yang mahsyur, jelas, dan tidak diragukan lagi. Sontak sangat mengherankan jikalau seorang menolak sunnah/hadits Nabi ﷺ dalam menjalankan ajaran Islam. Namun hal demikian ada dan nyata terjadi

Dr. Daud Rasyid Membungkam Snouck Hurgronje dan Harun Nasution

Sunnah sebagai pondasi dan sekaligus sumber hukum dalam Islam adalah hal yang mahsyur, jelas, dan tidak diragukan lagi. Sontak sangat mengherankan jikalau seorang menolak sunnah/hadits Nabi ﷺ dalam menjalankan ajaran Islam. Namun hal demikian ada dan nyata terjadi, berbagai sekte menamakan dirinya ahli Quran atau yang semisal itu menolak hadits Nabi ﷺ lantaran syubhat seperti taat kepada Allah wajib karena Quran terdokumentasi secara apik sementara hadits dihafal oleh manusia yang sulit dipercaya keabsahannya, hadits Nabi mulai dibukukan diatas abad ke II Hijriyyah, dan berbagai macam syubhat yang sebenarnya remeh-temeh karena dangkalnya pengetahuan mereka tentang metodologi Islam.

Sebagai sumber ajaran Islam yang kedua, sunnah menempati posisi yang sangat esensial. Oleh karenanya tidak mengherankan jika pelbagai kalangan yang tidak senang atas perkembangan dan kemajuan Islam berupaya dengan gigih untuk mencari-cari titik kelemahannya. Tujuan mereka adalah untuk menggoyahkan kepercayaan umat Islam sendiri terhadap sunnah. Hal ini dikarenakan bahwa jika sunnah dapat disingkirkan dari kehidupan umat Islam, maka secara otomatis Islam tidak akan dapat berdiri tegak, sebab mustahil mempraktekkan Islam tanpa sunnah Nabi. Demikian juga yang terjadi karena Islam adalah mayoritas di Indonesia, berbagai golongan mencoba mengkritik dan menyerang kedudukan sunnah dalam ajaran Islam. Dalam kitab yang berjudul As-Sunnah fi Indunisiyya: baina Ansariba wa Khusumiha, Daud Rasyid seorang ulama keluaran darul Ulum Mesir yang fokus pada ilmu hadits, banyak menguak tentang  fenomena-fenomena sebagian kalangan baik dari akademisi atau orientalis yang hidup di Indonesia yang mengingkari sumber ajaran Islam kedua tersebut.

Daud Rasyid memaparkan pemelencengan terhadap sunnah sebagai otoritas ajaran Islam yang kedua setelah Quran, Merupakan fenomena yang sangat serius dan harus ditanggulangi dengan karya ilmiah mengingat pada saat itu penelitian semacam ini di Indonesia rasanya juga masih sangat minim. Berangkat dari sini ia mulai menyusun karya ilmiah di jenjang doktoralnya yang kemudian dibukukan menjadi As-Sunnah fi Indunisiyya: baina Ansariba wa Khusumiha.

Daud Rasyid memulai penelitian dengan melihat di era kolonial Belanda, Ia dengan lugas menunjuk bahwa Abdul Ghoffar atau biasa yang kita kenal Snouck Hurgronje adalah tokoh yang bertanggung jawab atas peruntuhan sunnah di Indonesia. Di antara pemikiran yang ditelurkan oleh Snouck dalam disertasinya “Het Makkaansche feest” adalah bahwa Islam tidak mendatangkan sesuatu yang baru bahkan dalam ritualnya sekalipun. Ia mencontohkan ritual dalam haji. Sesungguhnya ritual haji, menurut Snouck, merupakan ritual yang sebelumnya dilakukan oleh agama Yahudi. Kata Ka’bah juga bukan merupakan bahasa arab melainkan berasal dari warisan masa Jahiliyah. Sebagaimana ritual-ritual lain yang berkenaan dengan pelaksanaan ibadah haji seperti thawaf di Ka’bah dan mengecup hajar aswad diibaratkan oleh Snouck sebagai ritual yang berbau syirk (menyekutukan Tuhan).

Di bagian lain dari bukunya, ia sengaja “menyerang” perawi-perawi hadits dan mengatakan bahwa andil para ahli kitab yang masuk Islam seperti Ka’b al-Ahbar dan Wahab bin Munabih sangatlah signifikan dalam pengajaran Islam. Snouck lebih percaya apa yang diriwayatkan oleh para muallaf ahli kitab tersebut daripada yang apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Lebih parah lagi ia mengatakan bahwa riwayat Ibnu Abbas adalah cacat dan terdapat cela (majruh).

Daud Rasyid kemudian membantahnya dengan mengatakan bahwa Ka’bah merupakan asli dari bahasa Arab yang berarti bangunan segi empat. Selanjutnya Daud Rasyid mengatakan bahwa thawaf yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah dengan ritual muslim sangatlah berbeda. Jika orang-orang jahiliyyah melaksanakannya dengan telanjang, justru di Islam haruslah dengan keadaan suci dan menutupi aurat. Menurut Daud mencium hajar aswad dan menghadap Ka’bah bukanlah keduanya yang diagungkan dan disembah melainkan Dzat Agung di balik keduanyalah yang disembah. Adapun ketika meluruskan Snouck tentang celanya Ibnu Abbas dan perawi lain, Daud Rasyid mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Snouck bersifat subjektif dan tidak sesuai dengan kaidahkaidah motode ilmiah dan cenderung mengambil nash atau dalil sesukanya.

Setelah dari era kolonial yang paling menonjol dalam meruntuhkan sunnah Nabi ialah Harun Nasution. Seorang sarjana yang dikirim oleh H.M Rasjidi ke McGill University dengan harapan dapat menanggulangi pemikiran Barat malah menjadi agen terbesar kesesatan di kurikulum Islam. Harun Nasution yang ingin dikenal sebagai pembawa Islam rasionalis ini meragukan sunnah atau hadits Nabi ﷺ yang dapat disimpulkan sebgai berikut:

  1. Pengingkaran Harun Nasution terhadap penulisan hadits dan penghafalannya oleh para sahabat pada masa Nabi. Ini dibuktikan dengan ketidakjadian Umar bin Khatab dalam membukukan hadits Nabi.
  2. Pembukuan hadits hanya terjadi pada abad II H. sehinnga tidak mungkin melacak perbedaan antara hadits shahih, hadis da’if, bahkan mawdu‘.
  3. Abu Bakar menyeleksi ketat diterimanya hadits, beliau meminta supaya ketika menyeleksi hadits harus dibawah saksi yang memperkuat hadis itu berasal dari Nabi, dan Ali bin Abi Thalib meminta supaya pembawa hadits bersumpah atas kebenarannya. Ini menunjukkan keraguan Harun Nasution terhadap kebenaran rawi disebabkan tersebarnya hadits mawdu‘.
  4. Penulisan hadits secara besar-besaran hanya terjadi pada abad III H. oleh pengarang-pengarang al-Kutub al-Sittah.
  5. Tiada kesepakatan ulama (ijma‘) terhadap kriteria kesahihan hadits. Sehingga, posisi kehujahan Sunnah tidak seperti kehujahan Al-Quran.
  6. Para sahabat, demi mencari solusi masalah, mereka menerima semua hadits yang sampai kepada mereka walaupun itu mawdu‘.

Dalam menyikapi kerancauan pemikiran Harun Nasution, Daud Rasyid meluruskannya dengan mengatakan bahwa faktor yang dominan dilarangnya penulisan hadits adalah ditakutkan bercampurnya antara Al-Quran dan as-Sunnah. Disamping itu pula agar proyek penulisan Al-Quran tidak terganggu oleh penulisan al-hadits. Selain itu juga ada pandangangan lain yang mengatakan bahwa pelarangan tersebut berlaku bagi orang yang tidak kuat hafalannya. Adapun bagi yang kuat hafalannya dan mampu membedakan antara teks hadis dan Al-Quran, maka diizinkan untuk mencatatnya. Mengenai tidak dihafalnya hadits oleh para sahabat, Daud Rasyid meng-counter dengan membalikkan pertanyaan bagaimana hadits sampai pada generasi selanjutnya jika tidak dihafal dalam sanubari para sahabat?

Pada masa Nabi ﷺ, pada awal mulanya memang beliau melarang menulis hadis karena mengutamakan pada konsentrasi Al-Quran. Hanya saja sebagian sahabat atas nama pribadi dan secara diam-diam mencatat hadits-hadits tersebut bahkan menghafalnya. Maka bermuncullah teks-teks (sahifah) nama-nama dari pengumpulnya. Di antara sahabat yang mencatat naskah atau teks hadits adalah Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang sahifahnya dinamakan “al-Sadiqah”. Olehnya inilah salah satu catatan hadis yang telah ada pada zaman rasulullah dan abad I hijrah. Hal senada juga diungkapkan oleh H.M. Rasjidi dalam bukunya yang secara khusus mengkoreksi terhadap bukunya Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Ia mengatakan bahwa Harun Nasution dalam pemikirannya mengutip kata-kata Nicholson dan H.R. Gibb yang menguatkan keaslian Al-Qur’an, tetapi secara tegas juga ia mencoba untuk menyerang sumber kedua Islam yaitu sunnah. Lebih lanjut H.M. Rasjidi mengatakan bahwa keterangan Harun Nasution tersebut sudah cukup untuk memasukkan rasa goyah dalam keimanan generasi muda kita, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh kaum orientalis yang tidak suka Islam menjadi kuat.

Sejatinya pengingkar sunnah atau hadits ialah para orientalis dan orang-orang yang belajar kepadanya. Beratnya pemikiran sekuler dan liberal yang telah diakarkan oleh kolonial tidak hanya mematikan alur politik Islam tetapi sudah sampai pada taraf sumber hukum Islam setelah Quran yaitu Sunnah Nabi ﷺ.

Referensi :
– Daud Rasyid,, Islam dalam Bergai Dimensi, (Jakarta 1998 : Gema Insani Press)
—————-, Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan, (Jakarta 1993 : Usamah Press)
—————-, As-Sunnah fi Indunisiyya: baina Ansariba wa Khusumiha, (Jakarta 2001 : Usamah Press)
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta 1986: Universitas Indonesia Press)
M Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. harun Nasution Tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta 1977 : Bulan Bintang)

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021