Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Eksistensi Perempuan Dan Kerancuan Pemikiran Feminis

15 July 2020 | Opinion

Pada masa Pra Islam, perempuan dianggap sebagai sesuatu yang hina. Orang-orang Arab pada zaman Jahiliyah biasa melakukan perbuatan keji seperti mengubur anak-anak perempuan mereka secara hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan

Eksistensi Perempuan Dan Kerancuan Pemikiran Feminis

Pada masa Pra Islam, perempuan dianggap sebagai sesuatu yang hina. Orang-orang Arab pada zaman Jahiliyah biasa melakukan perbuatan keji seperti mengubur anak-anak perempuan mereka secara hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan, hanya karena ia seorang perempuan. Kemudian, Islam datang untuk meningkatkan derajat dan memuliakan perempuan melalui risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Islam menempatkan perempuan untuk memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki dalam menempuh pendidikan.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَة

”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no.224)
“Seorang Ibu itu adalah madrasah, ketika engkau mempersiapkan mereka maka hakikatnya mereka akan mempersiapkan suatu kaum yang pesat, akan mempengaruhi proses keberhasilan suatu masyarakat yang besar,” kata ustadz  Mu’tashim dalam kajian Muslimah: Peranan Wanita dalam Pendidikan Anak. Dalam hal ini perempuan memiliki peran dan kontribusi yang besar untuk mempersiapkan dan membentuk kepribadian anak-anak atau generasi berikutnya agar lebih meningkatkan kualitas pengetahuan-pengetahuannya.

Pada masa Nabi Muhammad ﷺ, banyak kalangan perempuan yang ikut serta menghadiri syiar keagamaan, sholat berjamaah, serta mendengarkan Rasulullah ﷺ, berkhutbah di mimbar. Sehingga keberadaan perempuan saat itu merupakan pengemban ilmu pengetahuan terutama dalam bidang periwayatan hadist. Salah satu Istri Rasulullah, yaitu ‘Aisyah Radhiyallahu’anha. merupakan seorang perempuan yang cerdas dan jenius ia berhasil meriwayatkan ribuan hadist hingga para sahabat dan tabi’in pun banyak mengambil hadist darinya.

Kontribusi perempuan untuk pendidikan juga dibuktikan pada tahun 859 M, seorang wanita asal Qairouan (saat ini dikenal dengan Tunisia) Fatimah al-Fihri berhasil mendirikan Universitas pertama di dunia, yaitu Universitas al-Qarawiyyin yang terletak di kota Fes, Maroko. Fatimah al-Fihri dan adiknya yang bernama Maryam menggunakan harta warisan peninggalan ayahnya untuk membangun masjid. Dari bangunan masjid inilah Fatimah mengembangkannya menjadi sebuah universitas Islam yang hingga kini  masih berdiri dan berhasil mencetak banyak lulusan terbaik. Masih banyak sebenarnya fakta-fakta yang tidak mungkin di ulas dalam tulisan yang terbatas ini seperti Maryam al-Ijliyya yang menemukan ilmu dasar tentang GPS, Muslimah tidak hanya berkesempatan menjadi penasihat sultan. Imam as-Suyuti pun tercatat pernah belajar kepada 33 guru perempuan, Itu berarti seperempat dari seluruh jumlah gurunya. Lalu ada Ibn Hajar yang belajar pada 53 guru perempuan. Imam as-Sakhawi yang belajar pada 68 guru perempuan. Riset itu dilakukan dan telah dipublikasikan oleh Aisha Abdurrahman Bewley dalam bukunya “Muslim Woman: A Biographical Dictionary.” Bahkan Nyai Walidah Ahmad Dahlan bisa dijadikan contoh bahwa kemampuan perempuan sangat luar biasa.

Namun memilukan rasanya ketika kita dihadapkan oleh fenomena feminisme (yang dibakukan gagasannya awal oleh Mary Wollstonecraft dalam bukunya “The Vindication of the Rights of Woman” dari Barat yang sebenarnya dalam Islam selama 14 abad tidak pernah terdengar tentang issue pertentangan gender atau hak-hak perempuan. Nabi     telah menempatkan perempuan ketempat yang tertinggi jauh sebelum Barat dengan isu feminisme.

Pada awalnya aktivitas para perempuan ini memicu tumbuhnya kesadaran mengenai ketertindasan perempuan yang kemudian mendorong munculnya berbagai organisasi untuk membela nasib.

Setelah berangsur-angsur pemikiran ini merebak dan mulai isu-isu yang dibawa pun melebar, memusatkan diri pada masalah yang mempengaruhi hidup perempuan secara langsung, seperti soal reproduksi, pengasuhan anak, kekerasan seksual (jika suami meminta berhubungan badan), dan sebagainya tentunya hal ini sangat kontradiktif, apabila kita melihat bagaimana sikap para feminis yang merasa nyaman jika didalam suatu ruangan antara perempuan dan laki-laki terpisah, sedangkan mereka merasa Islam tidak adil dengan aturannya yang menyuruh perempuan menutup aurat.

Singkatnya, dapat disimpulkan bahwa penghambat dan kemandulan perempuan muslim terletak pada virus-virus yang bernama feminisme. Yang pada dasarnya ide atau isu yang di hembuskannya merupakan penghalang bagi eksistensi perempuan di masa mendatang.

Referensi:
Sulaemang L. “Pendidikan Kaum Wanita Dalam Hadits (Telaah Hadis Riwayat ‘Aisyah)”. IAIN Kendari: Shautut Tarbiyah, Ed. Ke-32 Th. XXI, Mei 2015.
Mu’tashim. “kajian Muslimah: Peranan Wanita dalam Pendidikan Anak”. https://yufid.tv (Diakses 25 Maret 2016)
“Fatimah al-Fihri: Wanita Muslim Pendiri Universitas Pertama di Dunia”. http://ganaislamika.com (Diakses 27 Oktober 2017)

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021