Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Etika dan Integrasi Kedokteran Dalam Islam

1 Juli 2021 | Opinion

Baru-baru ini kita di suguhkan unggahan video dr. Kevin Samuel Marpaung tentang persalinan yang diduga melecehkan perempuan. Hal demikian menambah daftar tenaga kesehatan (nakes) yang tak memperhatikan etika profesi di media sosial.

Etika dan Integrasi Kedokteran Dalam Islam

Baru-baru ini kita di suguhkan unggahan video dr. Kevin Samuel Marpaung tentang persalinan yang diduga melecehkan perempuan. Hal demikian menambah daftar tenaga kesehatan (nakes) yang tak memperhatikan etika profesi di media sosial. Lantas apa yang membuat tim medis memamerkan profesinya ini di dunia maya? dr. Kevin mengunggah video itu lewat akun TikTok-nya, @dr.kepinsamuelmpg, berdurasi 15 detik, pada Sabtu (17/4/2021), namun video itu telah dihapus. Videonya sudah viral di platform media sosial lain, termasuk Twitter.

Video itu berisi adegan dr Kevin sedang memperagakan pemeriksaan vagina dengan teks percakapan dengan bidan. Dalam video itu, muncul teks, “Dok, Tolong Cek Pasien Ny. A udah pembukaan berapa…? Lalu dr. Kevin menjawab, “Oke, kak…” dr Kevin mengernyitkan mata dan menggigit bibir bawah, mengacungkan dua jari (jari telunjuk dan jari tengah) menunjukkan persiapan melakukan pemeriksaan vaginal touche (pengecekan pembukaan leher rahim). Dokter tersebut kemudian memutar mata ke atas dan mendongak dengan keterangan ‘Awkward moment’. Sambil bergoyang-goyang, dr. Kevin menjawab, “Pembukaan 3 kak.” Demikian isi konten TikTok itu.

Mengenaskan status mulia sebagai penolong kemanusian seperti dokter harus merosot di hadapan publik lantaran mendobrak nilai adab pada kedokteran itu sendiri. Selain harus piawai dalam ilmu tehnik yang memuat jam terbang praktek seorang dokter terutama Muslim harus mempelajari worldview (cara pandang) Islam. Karena cara pandang Islam ini yang nantinya akan membedakan niat saat menangani praktek.

Ada beberapa etika atau adab umum mengenai kedokteran sebagaimana dituturkan Abuddin Nata antara lain: (1) memperhatikan jenis penyakit, (2) memperhatikan sebab terjadinya penyakit, (3) mengetahui Kondisi badan pasien, (4) memperhatikan kekuatan pasien, (5) mengetahui kondisi yang terjadi secara tidak alami, (6) mengetahui umur pasien, (7) mengetahui kebiasaan pasien, (8) mengetahui musim tahunan, (9) mengetahui Negeri asal pasien, (10) mengetahui keadaan udara di waktu sakit, (11) meneliti obat yang dapat melawan penyakit, (12) meneliti kekuatan obat dan tingkatannya, (13) memiliki tujuan yang bukan hanya bertujuan menghilangkan penyakit tetapi menghilangkannya dengan cara yang menyebabkan penyakit tersebut tidak terulang lagi, (14) memulai pengobatan dengan yang paling mudah, (15) memastikan pasien Apakah bisa diobati atau tidak, (16) jangan tergesa-gesa dalam mencampur obat, (17) memiliki keahlian dalam bidangnya, (18) bersikap lembut, (19) menggunakan cara yang alamiah dan ilahiyah, dan (20) mendasarkan pengobatan pada memelihara kesehatan, mengembalikan kesehatan, menghilangkan penyakit, atau menguranginya, dan meninggalkan hal yang berbahaya dalam pengobatan.

Etika kedokteran tersebut sering digunakan para ahli sebagai jembatan bagi integrasi ilmu kedokteran dengan ajaran Islam. Hal ini didasarkan pada alasan, bahwa pada wilayah ontologi dan aksiologinya, antara kedokteran Islam dengan kedokteran umum sama, dan karenanya tidak ada Islamisasi pada aspek ontologi, epistemologi atau konten (praktis) ilmu kedokteran. Seorang dokter Muslim atau non muslim, misalnya sama saja dalam menyuntik, serta pemberian kadar dan ketepatan obat. Apakah dalam menyuntik tersebut diawali dengan membaca basmallah bagi seorang Muslim, atau tidak membaca basmallah bagi nonmuslim, sama saja. Jika menyuntiknya salah, atau obat yang diberikan salah atau kadar, ukuran atau dosisnya salah, tetap akan membahayakan pasien.

Dalam hal ini maka ilmu kedokteran kauniyyah (sesuatu yang terjadi sesuai hukum alam, Namun kita bisa mengintegrasi kedokteran dengan Islam bisa terjadi bukan hanya pada aksiologinya, yakni pada pemanfaatan ilmu tersebut untuk tujuan kebaikan manusia melainkan juga pada wilayah ontologi dan aksiologinya pada ontologinya, sumber kedokteran Islam bukan fenomena alam jagat raya, melainkan juga fenomena sosial, wahyu dan intuisi sebagaimana telah dijelaskan di atas. Selanjutnya, pada aspek epistemologinya, bahwa pengembanngan ilmu kedoktran islam bukan hanya berdasarkan pada hasil riset empiris, seperti observasi dan eksperimen, melainkan juga pada reset bayani (penjelasan), ijtihad (usaha sungguh-sungguh) terhadap ayat-ayat Al-Quran dan al-Hadits, juga pada riset Irfani, yakni melalui pendekatan diri kepada Allah subhanahu wata’ala.

Bedasarkan uraian dan analisa sebagaimana dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa :

Pertama, bahwa ilmu kedokteran, termasuk salah satu bidang ilmu terapan yang mendapatkan perhatian yang besar di kalangan umat Islam. Ilmu kedokteran dalam Islam pernah berkibar dan menyebar besar-besaran, melebihi perhatiannya pada bidang-bidang ilmu lainnya. Hal ini antara lain bisa dilihat dari nama-nama besar yang mengubah wajah kedokteran hari seperti Ibnu Nafis menemukan perbedaan darah minor dan sirkuit paru-paru, Abul Qassim az-Zahrawi penemu ilmu bedah, Abu Ali Muhammad al-Haitsam (Ibnu Haitsam) menemukan cara kerja mata, dan banyak sekali nama-nama penemu dalam bidang kedokteran lain Ibnu Thufail, Ibnu Sina, Ar-Razi, dan masih banyak lagi.

Kedua, bahwa integrasi ilmu kedokteran dalam pandangan Islam, bukan hanya pada aspek aksiologi atau pemanfaatan ilmu, melainkan juga pada wilayah ontologi dan epistemologi. Yakni bahwa pada wilayah ontologi, meliputi fenomena alam, fenomena sosial, wahyu, intuisi dan falsafah. Adapun pada wilayah epistemologinya, mencakup riset bayani (penjelasan), irfani (pendekatan spiritual), įjbari (mewariskan ilmu), jadali (berdiskusi), dan burhani (pembuktian ilmiah).

Ketiga, bahwa kedokteran dalam Islam pernah mengalami perkebangan yang luar biasa. Hal ini merupakan bagian dari upaya membangun kesejahteraan hidup manusia yang seimbang antara jasmani dan rohani. Lebih lanjut bahwa kedokteran dalam Islam dibangun atas karakteristik ajaran Islam yang berbasis tauhid. Yaitu pandangan, bahwa antara hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan manusia merupakan satu kesatuan, karena semuanya itu merupakan bagian integral ajaran tauhid.

Hukum mempelajari ilmu kedokteran ini dalam Islam juga mendapatkan porsi sanjungan yang amat tinggi. Ia ditempatkan sebagai ilmu fardhu kifayyah yaitu jika dalam suatu lingkungan tidak memiliki orang yang mendalami hal yang menangani hajat hidup orang banyak maka dosa atas semua orang yang tidak belajar, hukum itu akan berubah (tidak berdosa) mana kala ada satu orang saja yang belajar ilmu fardhu kifayyah.

Referensi : Abuddin Nata , Islam dan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2019)

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

Yang Harus Berguncang Di Meja Santai

Opinion | Rulian Haryadi

Klandestin Ghazwul Fikri

Opinion | Geutha Suwirna

Tafsir Quran Ala Setan

Opinion | Muhammad Dyan

© Copyright Boombox Zine 2021