Farag Faoda Nasib Tragis Penantang Syariat Islam – Figure

Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE


Beli Buku






Farag Faoda Nasib Tragis Penantang Syariat Islam

By : Rulian Haryadi | 30 Mei 2022

Farag Fouda (فرج فوده) kadang-kadang ditulis Faraj Foda, Faraj Fowda adalah seorang aktivis sekuler dari Mesir. Ramadhan as-Sherbini dalam sebuah artikel berjudul “Slain Egyptian Anti-Islamist Writer Faraj Fouda Remembered” pada Gulfnews 2013, orang liberal di Mesir membentuk forum menggelar upacara penghormatan bagi Fouda dan memberi julukan “Martir Pencerahan.”


Baca

Farag Faoda Nasib Tragis Penantang Syariat Islam

Farag Fouda (فرج فوده) kadang-kadang ditulis Faraj Foda, Faraj Fowda adalah seorang aktivis sekuler dari Mesir. Ramadhan as-Sherbini dalam sebuah artikel berjudul “Slain Egyptian Anti-Islamist Writer Faraj Fouda Remembered” pada Gulfnews 2013, orang liberal di Mesir membentuk forum menggelar upacara penghormatan bagi Fouda dan memberi julukan “Martir Pencerahan.” Menarik untuk kita ulas pada kolom yang singkat karena Fouda erat sekali bersinggungan dengan politik dan sekaligus menjadi musuh abadi bagi para pemikir Ikhwanul Muslimin.

Nama lengkapnya Farag Ali Fouda. Ia lahir di Danietta dekat Delta Nil, pada tanggal 20 Agustus 1945 dan meninggal pada tanggal 8 Juni 1992 dalam usia 46 tahun. Dia memiliki dua putra dan dua putri. Secara formal, pendidikan Farag Fouda bukanlah pendidikan yang bersentuhan langsung dengan wacana keislaman. Dia merupakan doktor bidang ekonomi dan pertanian. Ia memperoleh gelar Bachelor (sarjana) Pertanian pada bulan Januari tahun 1967. Pada tahun 1975, Fouda memperoleh gelar Master of Science dalam bidang Pertanian dan Ph.D di bidang ekonomi pertanian dari Universitas Ain Syams pada tahun 1981 dengan judul disertasi Iqtisadiyat Tursyidu Istikhdama Miyah al Ray fi Misr.

Sedari remaja ia sudah terpikat oleh pemikiran sekuler yang diwariskan oleh Ali Abdul Raziq yang menentang kembalinya institusi Khilafah pasca runtuhnya 1924. Fouda menceburkan dirinya dalam aktivitas politik pada partai Wafd, sebuah partai yang anggotanya campur antara nasionalis, liberalis, dan feminis. Namun pada 1984 ia meninggalkan partai tersebut karena sikap politik partai yang dinamis untuk berkolaaborasi dengan Ikhwanul Muslimin dalam parlemen. Seusai keluar dari partai Wafd ia mendirikan partainya sendiri yang diberi nama Mustaqbal (The Future).  Sampai kematiannya pun partai ini tidak pernah mendapat legal dari pemerintah Mesir.

Sembari mengajar di Universitas Ain Syams ia juga aktif sebagai kolomnis majalah di Mesir. Ide-idenya mengerucut tentang sekularisme dan membantah pendirian khilfah, penegakkan syariat Islam, dan wacana dari para pemikir Ikhwanul Muslimin. Pernah pada Januari 1992 digelar debat terbuka pada acara pameran buku. di Kairo. Ada dua kubu yang berdebat. Yang satu terdiri dari Fouda dan Muhammad Ahmad Khalafallah (lahir 1926) dan kubu yang lain terdiri dari Muhammad Al-Ghazali (1917-1996), Ma‟mun Al Hudaibi dan Muhammad Imara. Konon 30.000 orang menghadiri debat yang sempat difilmkan namun di Youtube kita hanya bisa dapat cuplikan sedikit tanpa suara sound yang jelas.

Lontaran pernyataan dari Fouda tidak hanya di perhatikan oleh Ikhwanul Muslim namun jama’ah Islam yang lain pun turut gusar karena melanggar kaidah dan memperolok  ayat al-Quran dengan penafsiran Barat. Tidak hanya itu para petingi al-Azhar pun memperhatikan tindak-tanduk Fouda. Pada 3 Juni 1992 al-Azhar memberikan fatwa daftar intelektual yang menghujat Islam dan Fouda termasuk dalam daftar itu. Penafsiran singkat dari Jama’ah Islamiyah Mesir bergerak untuk mengambil momen ini sebagai aksi pembunuhan atas Fouda.

Salah seorang pembunuh Fouda bernama Abdul Rabbuh yang dibebaskan oleh Muhammad Mursi pada 2012 dan dalam salah satu wawancaranya di televisi Saudi “Al-Arabiya” Abdul tidak menyesali pembunuhan terhadap Fouda dan apa yang dilakukannya sudah benar karena Fouda teleh menghina Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

Beberapa alasan diantaranya tentang sekularisme, Menurutnya pemisahan ini perlu dilakukan demi kebaikan agama dan negara. Agama terhindar dari manipulasi politisi, dan pemerintahan terlaksanakan tanpa beban partikularisme keagamaan. Selaras dengan ini fouda menentang penerapan syariat karena menurutnya penerapan syariat hanya akan mengarah ke negara keagamaan (daulah diniyyah). Ia menentang segala bentuk kerahiban dan kekudusan dalam dunia politik karena kehidupan politik didasarkan atas kepentingan dan keharusan sosial.

Menganggap penerapan syariat Islam adalah ilusi dan tidak melihat pada kenyataan hidup (utopia). Ia berkata, “Karena itu kalau anda ingin lebih cermat mengamati mereka, tantanglah mereka untuk menghadapi kenyataan hidup. Katakan pada mereka bahwa syariat Islam sendiri tidak akan berwujud dan terejawantah kecuali di dalam masyarakat yang benar-benar Islami.”

Ia serampangan menafsirkan sejarah Islam dengan mengambil contoh disebagian kecil kekejaman di era Khilfah dengan secara implisit kita menganggap 13 abad yang telah memayungi kaum Muslimin dianggap tidak ada nilainya. Kalua mau di komparasi dengan cara pandang Fouda justru dalam 100 atau 200 tahun terakhir bukti kesadisan, kekejaman, dan segala tuduhan Fouda atas Khilafah justru lebih parah padahal baru 2 abad berjalan bentuk modern.

Sebagai seorang kolumnis dan penulis satir, tulisan Farag Fouda banyak dimuat pada majalah mingguan Mesir “October” dan majalah al-Ahrar. Artikel-artikelnya di media massa bahkan telah dibukukan dengan judul “Faraj Fawdah wa-Ma’rikuhu al-Siyasiyyah” (Compilation of Press Articles).

Buku karangan Fouda lumayan beragam dan banyak. Karya pertamanya adalah “Al-Wafdu wa al-Mustaqbal.” Buku ini bercerita tentang keluarnya Fouda dari keanggotaan Partai Wafd dan mendirikan Partai Mustaqbal (The Future). Sebagai alternatif perjuangan kaum sekuler Mesir.

Buku-buku yang sangat pedas terhadap Islam antara lain “Qabla al-Suquth” yang berbicara tentang polemik formalisasi syariat Islam di Mesir, “al-Haqiqah al-Ghayibah”, yaitu tinjauan kritis terhadap sejarah kelam kekhilafahan dalam Islam sejak zaman sahabat hingga daulah Abbasyah, dan “Hiwar Hawla `al-Almaniyyah”, tentang polemik sekularisme di Mesir dan dunia Islam.

Selain itu, Fouda juga menulis al-Mal‟ub (tentang bank Syariah dan skandal pencucian uang), “an-Nazir” (tentang ekstremisme beragama), dan “al-Irhab” (tentang asal-usul pemikiran teroristik). Karya-karya lainnya adalah “Hatta la Yumkinu Kalaman fi al-Hawa, Zawaj al-Mut’ah”, “Nakun aw La Nakun.” Sementara itu, acara debat dalam rangka Pameran Buku Kairo pada bulan Januari 1992 yang juga diikuti oleh Farag Fouda dan Muhammad Ahmad Khalafallah (lahir 1916) dari kubu sekuler, dan kubu yang lain terdiri dari Muhammad al-Ghazali (1917-1996), Ma’mun al-Hudaibi, dan Muhammad Imarah, juga dibukukan oleh Khalid Muhsin dengan judul “Misr baina al-Daulah al-Islamiyah wa al-Daulah al-Almaniyah.”

Sejak kematian Fouda agenda liberalisasi dari syariat dan penentangan penerapan syariat Islam terus tumbuh subur bahkan seorang penulis Baha Taher mengatakan, “cara berpikir Fouda tetap menginspirasi..” bahkan bukunya bertajuk “al-Haqiqah al-Ghayibah” yang diterjemahkan menjadi “Kebenaran yang Hilang adalah buku yang menjadi rujukan para aktivis JIL untuk membungkam wacana publik untuk mengenyahkan penerapan syariat Islam di Indonesia. Padahal di Mesir sendiri buku Fouda dilarang keras terbit.

Pada tanggal 8 Juni 1992 Farag Fouda ditembak mati oleh dua orang bersenjata bertopeng yang mengendarai sepeda motor di luar kantornya di Nasr City di luar Kairo. Kedua pria bersenjata dilaporkan telah memantau gerakan Farag Fouda dan mengawasi rumahnya di daerah al-Nuzha di Heliopolis selama beberapa minggu.

Referensi;
– Alex madani, Studi Analisis Pandangan Farag Fouda tentang Hubungan Agama dan Negara dalam Siyasah Syar’iyyah, (Medan: Prodi Hukum Pasca IAIN Sumatera Utara 2014)
– Farag Fouda, Kebenaran yang Hilang, (Jakarta: Paramadina 2007)
– Memri TV, “Egyptian Islamist Justifies His Assassination of SecularistIntellectual Farag Foda in 1992”, Transkip, https://www.memri.org/tv/egyptianislamist-justifies-hisassassination-secularist-intellectual-farag-foda-1992/transcript, Video Youtube, https://www.memri.org/tv/egyptian-islamist-justifies-his-assassinationsecularist intellectual-farag-foda-1992. Diakses pada hari Selasa Tanggal 05 September 2017.
– Ramadan Al Sherbini, Slain Egyptian Anti-Islamist Writer Faraj Fouda Remembered. Artikel tanggal 12 Juni 2013, https://gulfnews.com/world/mena/slain-egyptian-anti-islamist-writer-faraj-fouda-remembered-1.1196122 diakses pada tanggal 05 September 2017


Kembali

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman


Beli Sekarang

Populer

Quran Produk Budaya: Nasr Hamid Abu Zayd

By : Rulian Haryadi

Sang Pengubah Padang Sahara: Abdullah bin Yassin

By : Rulian Haryadi

Salman Rusdhie & Ayat-ayat Setan

By : Rulian Haryadi

Muhammad Zia ul Haq: Presiden Mujahid

By : Rulian Haryadi

Quran Produk Budaya: Nasr Hamid Abu Zayd

By : Rulian Haryadi

Sang Pengubah Padang Sahara: Abdullah bin Yassin

By : Rulian Haryadi

Salman Rusdhie & Ayat-ayat Setan

By : Rulian Haryadi

Muhammad Zia ul Haq: Presiden Mujahid

By : Rulian Haryadi

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :

© Copyright Boombox Zine 2021


Facebook


Instagram


Youtube