Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Ahmad Hassan Reformer Islam Di Indonesia

22 Februari 2021 | Figure

Perdebatan dalam Islam adalah salah satu opsi atau opsi terakhir jika dakwah dihadang dan situasi meminta untuk melontarkan argumen. Namun debat juga memiliki syarat salah satunya harus dengan cara yang baik seperti dalam firman-Nya

Ahmad Hassan Reformer Islam Di Indonesia

Perdebatan dalam Islam adalah salah satu opsi atau opsi terakhir jika dakwah dihadang dan situasi meminta untuk melontarkan argumen. Namun debat juga memiliki syarat salah satunya harus dengan cara yang baik seperti dalam firman-Nya “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”  [QS. An-Nahl [16]: 125]. Karena Allah juga sangat membenci orang yang paling keras berdebat, seperti yang dikatakan Rasulullah : “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras debatnya“ (HR. BUKHARI NO. 4523)

Ahmad Hassan ialah ulama yang ahli mendebat para orientalis, tokoh Kristen, Ahmadiyyah, sampai orang-orang Atheis sekalipun.  Dimana pada era itu kebanyakan gerakan dakwah Islam meembuat pesantren dan mengkaji kitab-kitab fiqh Syafi’iyyah.

Ahmad Hassan lahir 31 Agustus 1887 di Singapura dengan nama Hassan bin Ahmad, terlahir dari keluarga keturunan India. Ibunya Muznah berasal dari keturunan Palekat-Madras, walaupun saat itu sudah bermukim dan lahir di Surabaya. Sedangkan Ayahnya Sinna Vappu Maricar atau dipanggil Ahmad adalah pria India yang berprofesi sebagai Penulis, Pedagang dan Ulama di Singapura. Kedua orangtuanya bertemu dan menikah di Surabaya saat Ayahnya sedang berniaga di kota itu, namun kemudian mereka menetap di Singapura.

Hassan kecil kental dengan lingkungan Islami, Ia dikenal cerdas dan cepat dalam memahami ilmu. Ia mulai mengkaji Al-Quran di Kampung Kapur Singapura dengan seorang guru perempuan, kemudian melanjutkan pembelajarannya kepada ulama-ulama dan guru besar di Singapura. Hassan menguasai berbagai bahasa, Melayu, Arab, Tamil serta bahasa Inggris. Semuanya Ia kuasai saat remaja.

Sejak usia remaja ia terbiasa bekerja, Ia pernah menjadi pelayan toko, berdagang, mengajar di madrasah hingga tingkat tsanawiyah dan Ia juga pernah bekerja di Utusan Melayu yang diterbitkan oleh Singapore Press. Disana Ia menulis artikel yang berisikan nasihat-nasihat yang kritis. Tulisan pertamanya dianggap membuat heboh masyarakat Singapura kala itu, tulisan yang mengkritik hakim (qadi) yang mengadili suatu perkara dengan mengumpulkan lawan jenis dalam satu ruangan. Kritik ini amat langka, karena tak pernah sebelumnya yang berani mengkritik hakim secara terang-terangan di media massa. Beliau mengatakan bahwa hal ini dilarang dalam agama Islam, laki-laki dan perempuan patutnya dipisah.

Syaikh Ahmad Surkati mengatakan tentang A.Hassan “Sebagai seorang yang terpelajar, beliau mempunyai tingkatan tauhid tinggi dan seorang pembela agama Allah yang selalu berjuang menghindarkan umat Islam dari kesesatan”.

Penguasaan ilmunya yang modernis dengan tidak bertaqlid membuat dirinya mendapat gesekkan dengan kaum tradisionalis. Ia pernah mengkritik budaya taqbil (mencium tangan) seseorang yang dianggap sayid (keturunan Nabi Muhammad). Kritik ini membuat jaksa setempat memberikan peringatan kepada Hassan, hingga Ia tidak diperbolehkan lagi untuk berpidato dan berdakwah agitasinya oleh Pemerintah Singapura. Kondisi ini yang membuatnya harus pindah ke Surabaya pada tahun 1921.

Jika di ringkas pandangan Ahmad Hassan adalah teologi Islam tidak dapat ditegakkan tanpa membasmi syirik, sunnah tidak mungkin dihidupkan tanpa memberantas bid’ah, dan ruhul intiqad tidak dapat dihidupkan tanpa memberantas taqlid.

Dalam perkembaangannya  organisasi Persatuan Islam (PERSIS) terwakili oleh sajian keilmuan yang diusung A. Hassan jelas menjadi acuan dalam pergerakannya. Hal ini yang kerap kali PERSIS dikatakan wahabi oleh kaum tradisionalis.

Ahmad Hassan dan Persis memang tak dapat dipisahkan, walaupun Ia baru bergabung di Persis setelah tiga tahun organisasi ini berdiri (12 September 1923). Ketika itu ia pergi ke Bandung hanya berniat untuk berniaga dan belajar menenun, namun saat indekos di rumah K.H. M. Yunus salah seorang pendiri Persis Ia mulai bersentuhan dengan Persatuan Islam. Dengan kecerdasan dan kedalaman ilmu agama membuat tokoh-tokoh Persis memintanya untuk bergabung. Sejak itulah kiprah besar A. Hassan dalam perkembangan Persis dimulai.

Nama A. Hassan memang tak sepopuler ketimbang Rais Akbar Nahdathul Ulama (NU) K.H. Hasyim Asy’ari, dan K.H. Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah atau nama ulama besar lainnya. Namun Ia disebut-sebut menjadi salah satu tokoh utama di Persis. Hingga dikatakan sebagai Trio Reformer Islam dimasa pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Selaras dengan Persis dalam misi pemurnian Islam sesuai ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, Hassan selalu pasang badan jika agamanya dihina. Beliau dengan elegan menghadapi lawan-lawannya lewat pemikiran baik melalui tulisan maupun diselesaikan di meja debat.

Dibanding organisasi Islam awal abad ke-20 lain yang lebih mengutamakan penyebaran pemikiran baru secara lunak dan tenang, Persis dan A. Hassan seakan-akan lebih enjoy dengan arena perdebatan keilmuan.

Dalam bukunya Tiar Anwar Bachtiar, “Membaca Pemikiran Politik A.Hassan” dalam Risalah Politik A. Hassan

“A.Hassan adalah ikon utama organisasi Pembaharu Islam abad ke-20, Persatuan Islam, sekalipun ia baru bergabung sekitar tiga tahun setelah organisasi ini berdiri. Bahkan boleh dikatakan bahwa A.Hassan telah memberi warna dan identitas bagi Persatuan Islam. Pemikiran-pemikiran A. Hassanlah yang nanti menjadi fondasi dasar pengembangan pemikiran di Persatuan Islam”.

Sebagai pemikir dari organisasi pembaharuan Islam di Indonesia, hubungan beliau dengan para aktivis pergerakan sangatlah dekat, seperti dengan HOS. Cokroaminoto, Agus Salim, M. Natsir, dan Sukarno, serta tokoh-tokoh lainnya.

Beliau dikenal sebagai ulama yang pandai dalam berdebat. Puluhan kali ia berdebat dengan berbagai golongan, tidak hanya kalangan tradisionalis dan modernis saja akan tetapi juga dengan para pendeta, tokoh-tokoh Ahmadiyah dan orang-orang Atheis. Tak heran jika ia harus digelari singa debat.

Perdebatan yang ramai dibincangkan di antaranya debat dengan organisasi tradisional seperti Al-Ittihadul Islamiyah di Sukabumi, Majlis Ahli Sunnah di Bandung, dan Nahdlatul Ulama di Ciledug pada tahun 1936. Bahkan saat bersua dengan NU Ia beradu argumen langsung dengan ketua NU saat itu, K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Demikian kiprah beliau membuat namanya melambung karena sering dimuat dalam surat kabar dan juga tulisan-tulisannya melalangbuana menjawab persoalan umat.

Bagi A. Hassan, perbedaan pendapat adalah hal biasa namun harus disikapi lapang dada. Tak perlu ada caci maki, tak perlu ada “teror” dari massa untuk mengusir kelompok yang tak sepakat dengannya. Seperti yang dikatakan pula oleh para kyai NU Lawan hujah dengan hujah, lawan dalil dengan dalil. Dan dilansir dalam majalah Al-Lisaan milik Persis :
“Masing-masing berpisah dengan tjara persaoedaraan jang baik. Moedah-moedahan tjara jang begini didjadikan tjontoh boeat lain kali di sini dan di tempat-tempat lain.”

Pada fase politik kemerdekaan Indonesia, Hassan pun secara aktif ikut serta dalam dialog terbuka akan arus pemikiran yang hidup di masyarakat. Hanya bertujuan untuk mengangkat pemikiran pribumi dan melepaskan pengaruh asing/penjajah dalam gerakan kemerdekaan kala itu.

A.Hassan pun pernah berdebat dengan Sukarno terkait posisi agama dan negara dalam pemerintahan, namun bukan berarti Ia menolak gerakan pembebasan untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Ia hanya menentang tegas pemerintahan yang diatur dengan cara sekuler.

Beliau meminta kepada umat Islam ketika itu untuk bersabar dalam perjuangan, karena menurutnya melakukan konfrontasi fisik dengan sesama anak bangsa dalam konteks negara yang baru merdeka hanya akan menimbulkan kekacauan yang besar.

“yang dikejar tidak dapat, yang dikandung berceceran,”
begitu kata A. Hassan

Ia mengkritisi gagasan nasionalismenya Sukarno, menurutnya pemahaman Sukarno tentang kebangsaan sangatlah sempit dan mampu memecah-belah kaum muslim daerah satu dengan daerah lainnya. Padahal, seharusnya makna gerakan nasionalisme adalah gerakan anti-penjajah atau anti imperialisme.

Beliau pun mengatakan bentuk nasionalisme Sukarno seperti Ashabiyyah Jahiliyah pada jaman Jahiliyah di Arab sebelum datangnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Ia mengutuk nasionalisme sebagai kelanjutan dari budaya Jahiliyah yang jelas-jelas dilawan Islam sejak dahulu. Mendewakan suatu bangsa haruslah dihindari karena akan menimbulkan kemusyrikan dan bisa mencairkan keyakinan tauhid seseorang dalam baktinya kepada Tuhan.

Meskipun begitu, hubungan A. Hassan dan Sukarno jauh dari kata permusuhan. Polemik dan debat di antaranya keduanya berlangsung dalam atmosfir intelektual, yang betapa pun kerasnya masih menjunjung tinggi respek kepada yang lain. Bagi Sukarno, A. Hassan adalah sahabat sekaligus gurunya dalam mempelajari Islam.

Seperti hal nya Sukarno, banyak tokoh bangsa yang terpikat dan terinspirasi oleh sosok A. Hassan, seperti Mohammad Natsir, Haji Agus Salim, KH. Isa Anshary dan masih banyak lainnya.

Harumnya nama beliau dan ganasnya kritikan dalam tulisan atau pun debat ternyata beliau seorang yang santun, tekun, dan sederhana dalam kehidupaannya, serta Ia adalah sosok tuan rumah yang sangat ramah kepada tamunya. Seperti yang dikatakan para tokoh yang pernah menginap di rumahnya.

Pada tahun 1940 A. Hassan pindah dari Bandung ke Jawa Timur, tepatnya di Pasuruan, di desa kecil bernama Bangil. Di desa inilah beliau wafat dan mengakhiri kisah hidupnya sebagai singa debat pada tanggal 10 November 1958. Disini pula ia mendirikan pondok pesantren yang berhaluan Persis dan mewariskan puluhan karya yang masih sangat epik hingga kini.

Referensi;
– Agustya Rahman – Pemikiran Politik A. Hassan (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta).
– Aqwam Fiazmi Hanifan Mei 2019 – https://tirto.id/dakwah-persis-ala-a-hassan-sebarkan-islam-lewat-debat-publikasi-dFXM.
– Iswara N Raditya Januari 2017 – https://tirto.id/si-raja-debat-yang-gigih-membela-islam-cgGY.
– Tamar Djaja – Riwayat Hidup A. Hassan, (Jakarta: Mutiara Jakarta, 1980).
Tiar Anwar Bachtiar – “Membaca Pemikiran Politik A.Hassan” dalam Risalah Politik A. Hassan, (Jakarta: Pembela Islam Media, 2013).

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021