Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Hamka Bersama Haji Rasul Berbicara Komunis Islam

9 Juni 2020 | History

Hari ini cukup ramai perdebatan perihal Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang dinilai mengabaikan TAP MPRS XXV/1966. Melansir dari Catatan Rapat Badan Legislasi Pengambilan Keputusan Atas Penyusunan Rancangan Undang-Undang Tentang Haluan Ideologi Pancasila tanggal 22 April 2020

Hamka Bersama Haji Rasul Berbicara Komunis Islam

Hari ini cukup ramai perdebatan perihal Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang dinilai mengabaikan TAP MPRS XXV/1966. Melansir dari Catatan Rapat Badan Legislasi Pengambilan Keputusan Atas Penyusunan Rancangan Undang-Undang Tentang Haluan Ideologi Pancasila tanggal 22 April 2020, RUU HIP adalah RUU yang diusulkan oleh DPR RI dan disebut telah ditetapkan dalam Prolegnas RUU Prioritas Tahun 2020. Berdasarkan catatan rapat tersebut, dikatakan bahwa saat ini belum ada Undang-Undang sebagai sebagai landasan hukum yang mengatur mengenai Haluan Ideologi Pancasila untuk menjadi pedoman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga diperlukan Undang Undang tentang Haluan Ideologi Pancasila. Hingga sampai saat ini menjadi persoalan RUU HIP bukan hanya sebatas tidak dicantumkannya TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1996 soal Pembubaran PKI dan Larangan Ajaran Komunis/Marxisme sebagai konsideran RUU.

Kali ini kita fokuskan kepada pembahasan seorang ulama menjadi komunis. Haji Datuak Batuak, seorang murid salah satu ulama Minangkabau yang sekaligus ayah Buya Hamka bernama Dr. H. Abdul Karim Amrullah (lahir dengan nama Muhammad Rasul) atau sering dijuluki Haji Rasul yang selama ini terkenal dengan alimnya dan beberapa tahun telah diizinkan pula mengajar di kampungnya Koto Lawas dan sangat disayangi oleh beliau, telah kembali dari perlawatannya ke tanah Jawa dan ke Aceh. Di tanah Jawa Ulama yang masyhur itu rupanya sudah bertemu dengan Semaun, Alimin, uso, Darsono dan lain-lain. Dari mereka Haji Datuak Batuah endapat kursus Komunis. Di Solo dia bertemu Haji Misbach seorang Ulama yang juga menjadi komunis.

Rasa melawan dan tidak puas kepada pemerintah Belanda sajalah yang menyebabkan mereka memasuki Komunis. Kursus berdalam-dalam tentang History Materialisme belumlah dimasukkan kepada mereka. Yang terpenting lebih dahulu ialah rasa menentang “Kapitalisme Imperialisme”. Di Minangkabau belum ada pergerakan rakyat yang radikal. Sudah mati sejak patahnya perlawanan menolak belasting di Kamang. Maka mana yang masuk lebih dahulu, itulah yang lebih dahulu pula akan dimakan mereka. Rasa benci kepada penjajahan telah tersalur dalam Komunis.

Jiwa orang Minangkabau adalah jiwa Islam. Kaum Paderi, Kaum Muda dan Ulama-Ulama telah menanamkan bibit ke-Islaman dalam dada mereka. Merekapun ingin hendak bergerak, hendak berjuang dan hendak berpolitik.
Adakah gerakan politik berdasarkan agama pada waktu itu?
Ada, yaitu Sarekat Islam! Tetapi nama Sarekat Islam telah jatuh. Beberapa pemimpinnya telah menggunakan kekayaan partai untuk kepentingan sendiri. Sama saja di Jawa dan di Sumatera. Banyak yang telah kaya dari harta benda kepunyaan orang banyak.

Dan ketika Haji Rasul melawat ke Jawa di tahun 1917, dianjurkan Cokroaminoto memimpin Sarekat Islam di Sumatera, beliau tolak! Beliau tidak suka politik, padahal murid-muridnya berjiwa politik. Bukan sedikit pengaruh Zainuddin Labai yang senantiasa menulis dalam “Al Munir” menerangkan riwayat Mustafa Kamil memimpin gerakan kebangsaan di Mesir.

Sebab itu tidaklah heran, jika Komunis yang diterima mereka. Nama Komunis, tetapi tidak tercerai dari Islam. Haji Datuak Batuah sendiri seorang yang dari dahulu berjiwa “berontak”. Sebab itu dia telah menjadi “Komunis Islam”! Atau “Islam Revolusioner” diberi nama Komunis!

Haji Datuak Batuah dan Natar Zainuddin, keduanya mengeluarkan surat kabar. Haji Datuak Batuah mengeluarkan “Pemandangan Islam” dan Natar Zainuddin mengeluarkan “Jago Jago”. Ayat-ayat dan hadits yang keras isinya yang menganjurkan kebencian kepada pemerintah asing, penuh diisikan ke dalam “Pemandangan Islam” itu. Salah satu syair Haji Datuak Batuah yang pada masa itu dipandang sangat radikal ialah “Pandanglah bui surga dunia!”

Ada sebuah buku bernama “Arradu alad Dahriyin” karangan Jamaluddin Al Afghani. Haji Rasul baca buku itu dengan seksama, maka dapatlah beliau ketahui bahwasannya Komunisme atau Marxisme rupanya adalah menentang segala agama.

Dengan tidak berfikir panjang lagi, sebagaimana kebiasaannya bila melihat perkara yang pada keyakinannya bertentangan dengan agama, maka dalam fatwa-fatwanya mulai ditentangnya Komunis.

Tentang ini Haji Rasul tidak hati-hati, sebagaimana hati-hatinya Zainuddin Labai El Yunusi, yang seketika perasaan itu telah merata dalam kalangan murid-murid, dia hanya berdiam diri. Dan kalau dicoba orang hendak memasukkan karangan dalam “Al Munir” yang berbau propaganda Komunis, tidak dimuatnya. Asisten Residen Belanda di Padang Panjang, kerapkali membuat hubungan dengan Haji Rasul, supaya Haji Rasul menentang Gerakan itu dan mempertahankan pemerintah Belanda. Dalam fatwa beliau. “Cukup dengan Islam saja, tidak perlu memakai faham lain!”.

Nasib Haji Rasul seketika itu serupa benar dengan nasib Cokroaminoto di tanah Jawa. Dihantam, dicaci, dan dimaki habis-habisan dalam surat kabar kaum Komunis, dituduh pemeras rakyat, penipu dan menggelapkan uang. Orang yang menggelapkan uang kas negeri disebut “mencokro!” Tidak dibedakan urusan personal dengan urusan faham. Tuduhan-tuduhan yang hina mulai dilemparkan kepada Haji Rasul, “Pemeras rakyat, minta sedekah, menjual ayat untuk kepentingan sendiri!”

Ujian yang maha berat bagi jiwa Haji Rasul, yang selama ini pantang dibantah dan belum pernah mengalami sistim yang di pakai kaum Komunis menjatuhkan lawannya. Kebencian dan rasa tidak puas selama ini dari kalangan murid rupanya telah menjelma dan ke luar dengan terus terang, sebab diperalat oleh kaum Komunis buat menjatuhkan pengaruh Haji Rasul yang amat besar itu.

Meskipun telah putus hubungannya dengan murid-muridnya yang telah menentangnya, namun dari pemerintah Belanda mulailah hilang kepercayaan kepadanya. Ketika diajak memberantas komunis oleh Belanda, komunis diberantasnya, tetapi faham Islam dikemukakannya. Kawan-kawannya sesama Ulama mendapat bintang dan Haji Rasul dapat “peringatan”.

Di ujung tahun 1923, Haji Datuak Batuah tertangkap  dan dibuang. Kelihatan pula wajah Haji Rasul yang muram seketika mendengar kabar penangkapan itu. Haji Rasul berkata kepada Buya Hamka, “Sudah tertangkap Haji Datuak Batuah! Sayang dia alim besar, terbenam saja ilmunya. Waang (engkau) jangan masuk Komunis pula.”

Haji Rasul dapat memperteguh jiwanya karena segala cobaan itu. Dzikir, Wirid, membaca Al Qur’an dan mengarang. Waktu itulah Haji Rasul mengarang bukunya “Sendi Aman Tiang Selamat”. Salah satu diantara buku Haji Rasul yang indah, mengenai akhlak, masyarakat dan adab.

Dapat kita mengambil pelajaran yang intinya, kita bisa atau dapat mempelajari faham apapun yang ada di dunia ini dengan catatan haruslah diperkuat terlebih dahulu tekait ilmu ke-Islaman kita agar tidak mudah diperdaya oleh bahasa atau kalimat setan yang berada di luar Al Quran dan As Sunnah.

“Cukup dengan Islam saja, tidak perlu memakai faham lain!”
-Dr. H. Abdul Karim Amrullah-

Referensi: Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah dalam bukunya “Ayahku”

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021