Hustle Culture Budak Seribu Mimpi – Opinion

Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE


Beli Buku






Hustle Culture Budak Seribu Mimpi

By : Rulian Haryadi | 20 Agustus 2022

Beberapa pekan yang lalu saya sempat menegur teman yang tengah sibuk merampungkan target pekerjaannya, padahal kita sedang bersantai dihari libur. Beririsan dengan hal itu saya teringat tagline Makna Creative


Baca

Hustle Culture Budak Seribu Mimpi

Beberapa pekan yang lalu saya sempat menegur teman yang tengah sibuk merampungkan target pekerjaannya, padahal kita sedang bersantai dihari libur. Beririsan dengan hal itu saya teringat tagline Makna Creative yang selalu di cuitkan dalam instagramnya pada medio 2015, “Pressure it’s good for you.” Keterlintasan tagline ini membuat saya mencoba melihat sedikit dalam tentang fenomena teman saya tadi.

Ketika hendak surfing di google yang terlintas dalam benak adalah kata “workaholic”, ketika kasak-kusuk dengan keyword tersebut saya digiring kepada satu kata “Hustle Culture.” Dan boomb saya mulai menemukan konteks yang dicari. Fenomena yang teman saya sedang idap tipikalnya termaktub sebagaimana nilai-nilai hustle culture. Diantaranya khawatiran berlebih, tidak mengatur waktu kerja, dan berkomunikasi jarang menatap wajah.

Singkatnya Hustle Culture benihnya bisa kita tracking sejak 70-an akhir dimana kesan manusia sibuk adalah ciri profesionalitas. Namun di era internet yang sudah mulai mapan kultur tentang profesionalitas berubah menjadi akulturasi kecepatan. Dalam segala bidang usaha di persepsikan kecepatan pelayanan adalah kemenangan. Berbagai klinik bisnis dan seminar digalakan untuk memotivasi para pemimpi yang sedang mengukir kerajaan bisnisnya.

Saya tidak menampikkan butuhnya multi taksking pada personal dalam berbagai bidang usahanya. Namun sisi gelapnya kultur ini seolah menjadi pembahasan yang jarang digandrungi parahnya lagi jika mempersoalkan tentang hustle culture dianggap sebagai orang yang lemah dan tidak bisa bersaing. Sikap hustle culture ini dipertegas dengan pernyataan Jack Ma tentang “996” (masuk jam 9 pulang jam 9 selama 6 hari) sebagai basic kesuksesan.

Hustle culture juga di sanjung sebagai percepatan ekonomi negara, tidak hanya China, Amerika, Jepang dan Korea sebagai contoh negara berkembang seperti India, Brazil, dan Afrika Selatan juga menyanjung kultur tersebut.

Mirisnya dalam kultur ini kita hanya mendapati kebesaran makro ekonomi saja. Dampak buruknya terlalu banyak mulai dari fisik minim olahraga, kesehatan mental, sulitnya jam beribadah selama pekerjaan dan memburuknya nilai komunikasi antar masyarakat. Tak jarang kita temui kasus-kasus depresi hingga meregang nyawa di negara-negara yang saya sebut diatas.

Dikutip dari Sophomore, yang juga mengambil sumber dari jurnal Occupational Medicine, menunjukkan bahwa orang dengan jam kerja lebih panjang dari normal cenderung lebih murah mengalami depresi dan gangguan tidur. Sedikitnya 55% pekerja di Amerika Serikat mengaku alami stres akibat pekerjaan. Jumlah pekerja yang stres di AS ini 20% lebih tinggi ketimbang negara lain di dunia. Selain itu, mengacu pada hasil riset Mental Health Foundation, ada 14,7% pekerja di Inggris yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Jepang, yang kita kenal masyarakatnya gila kerja, menunjukkan angka 3 kali lebih tinggi dari rata-rata negara lain di dunia dengan pekerja yang mengalami gangguan mental dan kesehatan.

Demagogi dari para kapital tentang hustle culture sebenarnya menipu para karyawan. Mereka di perdaya untuk jangan bilang tidak tidak pada tugas. Serta para kapital menjual mimpi kebebasan finansial. Padahal faktanya yang dirugikan paling mendasar adalah para buruh atau karyawan.

Yang lebih parah dari itu ialah masa depan dakwah. Tak jarang kita temui gugurnya para thalabul ilmi karena pekerjaan kantornya belum lagi hilangnya para aktivis dakwah dalam program keumatannya. Hustle culture telah membeli mimpi kita dengan omong kosong motivator.


Kembali

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman


Beli Sekarang

Populer

Pengalaman Jihad Dr. Abdullah Azzam di Palestina

By : Rulian Haryadi

Stoikisme Bukan Bahan Bakar Perubahan

By : Rulian Haryadi

Kesalahan Berpikir atas Tuduhan Teroris pada Jama’ah Ansharusy Syariah

By : Rulian Haryadi

Masa Depan Politik Jihad, Jihad al-Ummah atau Jihad an-Nukhbah?

By : Rulian Haryadi

Pengalaman Jihad Dr. Abdullah Azzam di Palestina

By : Rulian Haryadi

Stoikisme Bukan Bahan Bakar Perubahan

By : Rulian Haryadi

Kesalahan Berpikir atas Tuduhan Teroris pada Jama’ah Ansharusy Syariah

By : Rulian Haryadi

Masa Depan Politik Jihad, Jihad al-Ummah atau Jihad an-Nukhbah?

By : Rulian Haryadi

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :

© Copyright Boombox Zine 2021


Facebook


Instagram


Youtube