Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Ihsan Ilahi Zahir Pembrantas Ahlu Bidah

6 Februari 2021 | Figure

Syaikh Ihsan Ilahi Zahir lahir pada tanggal 31 Mei 1945 di Sialkot, salah satu kota di Punjab, Pakistan. Ayahnya Haji Zahoor Ilahi adalah seorang yang religius dan saleh. Syaikh Ihsan menghafal Quran di Madrasah Dar al-Ulum Asy-Shihabiyah di Sialkot

Ihsan Ilahi Zahir Pembrantas Ahlu Bidah

Syaikh Ihsan Ilahi Zahir lahir pada tanggal 31 Mei 1945 di Sialkot, salah satu kota di Punjab, Pakistan. Ayahnya Haji Zahoor Ilahi adalah seorang yang religius dan saleh. Syaikh Ihsan menghafal Quran di Madrasah Dar al-Ulum Asy-Shihabiyah di Sialkot. Kemudian ayahnya mengirimnya ke Al-Jamiyah Al-Islamiyah di Gujranwala, dan kemudian Syaikh Ihsan pergi ke Al- Jamiyah As-Salafiyah di Fayslabad, dan setelah itu belajar di Universitas Madinah pada tahun 1961.

Ayah Syaikh Ihsan Ilahi Zahir adalah seorang pengusaha kaya yang bercita cita agar anak laki- lakinya menjadi ulama yang menyebarkan Islam dan sang ayah memang benar-benar menyokong kuat dana untuk perbekalan anaknya. Ayahnya rajin menghadiri ceramah Syaikh Muhammad Ibraheem Mir As-Sialkoti, yang merupakan ulama Ahlul Hadits senior, dan dia juga sangat terkesan dengan Syaikh Tsanaullah Al-Amritsari, Syaikh Muhammad Ismail As-Salafi, Syaikh Dawud Al- Ghaznawi, Hafiz Abdullah Ar-Ropuri, dan lainnya. Ayahnya menginginkan putra tertuanya Syaikh Ihsan menjadi serupa dengan Syaikh Ibrahim Mir As-Sialkoti dan Tsanaullah Amritsari yang menulis banyak buku menentang sekte dan Kristen, Hindu dan lain-lain.

Syaikh Ihsan Ilahi Zahir menulis di “Al-Majallah Al-Arabiyah”, beliau mengatakan dalam tulisan beliau bahwa dia menghafal Al Qur’an pada usia 9 tahun dan ayahnya mendorong dirinya untuk mencurahkan waktunya untuk mempelajari ilmu agama saja dan meniatkannya sebagai Wakaf untuk Allah, dan dia juga mendorongnya untuk fokus di dalam Dakwah kepada Allah.

Setelah menyelesaikan studinya di Madinah, Syaikh berangkat ke Lahore di mana ia menjadi Imam Masjid Ahlul Hadits ChiniyaWali, yang merupakan Masjid Ahlul Hadits bersejarah di mana Syaikh Muhammad Husayn Al-Batalwi, Syaikh Abdul Wahid Al-Ghaznawi dan Syaikh Dawud Al- Ghaznawi dulunya adalah Khatib di sana.

Sekembali di Pakistan, Syaikh melanjutkan pendidikannya dan memperoleh beberapa gelar Magister dari Universitas Punjab diantaranya: bahasa Arab, bahasa Persia, bahasa Urdu, bahasa Inggris, bidang Filsafat, Syariah dan dalam bidang hukum dan politik. Dan beliau terus belajar hingga disebutkan telah mendapatkan 6 Ijazah magister, 5 ijazah ia dapatkan dari Universitas Punjab dan sebuah ijazah dari Universitas Karachi.

Juga Syaikh dipilih sebagai editor majalah “Al-Itisam” oleh Syaikh Ismail As-Salafi yang pada saat itu menjadi majalah resmi Markazi Jamiyat Ahlil-Hadith Pakistan, tetapi setelah Syaikh Ismail as- Salafi wafat, beberapa perbedaan terjadi, dan Syaikh Atatullah Al-Bhujiyani mengambil kembali majalah di bawah kendalinya.

Syaikh Ihsan Ilahi Zahir kemudian meluncurkan majalah “Tarjuman Al-Hadits”. Syaikh Ihsan memainkan peran besar dalam membuat MJAH di Lahore aktif (Markazi Jami’at Ahl Hadits), syaikh juga aktif memberikan ceramah di semua kota dan desa di Pakistan. Sayangnya, setelah beberapa perselisihan dengan Mian Fazlul-Haq dan Syaikh Muinudin Al-Lakhwi, Syaikh Ihsan mendirikan Jami’atnya sendiri yang disebut “Jamiyat Ahlul Hadith Pakistan”, yang pemimpinnya adalah Syaikh Muhammad Abdullah, dan Nazim Al-‘Ala (pengurus tertinggi) adalah Syaikh Ihsan Ilahi Zahir.

Pada tahun 1972, Syaikh Ihsan Ilahi Zahir bergabung dengan partai politik “Tahreek Al-Istiqlal”, yang kemudian beliau tinggalkan pada tahun 1978. Beliau pernah ditawari untuk bekerja di kerajaan Saudi Arabia namun beliau menolaknya, beliau memilih untuk mengabdikan dirinya di negara asalnya Pakistan, beliau menolak tawaran itu seraya membaca ayat Al-Qur’an:
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. At Taubah: 122)

Syaikh Ihsan Ilahi Zahir adalah orang yang berani, tidak takut akan ancaman dari sekte sesat yang dia bantah. Dia menulis dalam buku “At-Tasawwuf Al-Mansya’ Wal Masyodir”: “Jiwaku, tubuh, kekayaan dan kehormatanku semuanya untuk wajah Allah dan untuk mencari keridhaan-Nya.”

Pada masa Zulfikar Ali Bhutto, gubernur Punjab yang naik adalah seorang komunis, maka Syaikh Ihsan mengumpulkan sekelompok ulama dan mengkritik mereka dengan keras. Dan suatu ketika saat gubernur tersebut menyelesaikan pidatonya, Syaikh Ihsan berdiri dan membantahnya di depan orang-orang, beliaupun dipuji atas tindakannya yang berani terhadap gubernur komunis yang sesat itu.

Kemudian, ada pula seorang gubernur Punjab yang merupakan seorang Sufi, dan dia akan secara terbuka membasuh makam Ali Al-Hujweiri di Lahore untuk mencari Tabarruk darinya, dan Syaikh Ihsan menjelaskan kepadanya bahwa tindakan seperti itu adalah Syirik dan bertentangan dengan Syariah.

Imam sekte Al-Isma’iliyyah, Kareem Agha Khan (merupakan seorang miliarder) mengundang Syaikh Ihsan Ilahi Zahir ke Inggris untuk menasehatinya agar tidak menulis buku yang menentang sekte Al-Isma’iliyyah, dan dia siap untuk mengirim pesawat pribadinya ke Pakistan untuk menjemput Syaikh, tetapi Syaikh Ihsan menolak tawaran ini, maka Kareem Agha Khan mengiriminya surat yang berbunyi: “Kamu harus menulis sesuatu tentang mengumpulkan barisan Muslim dan bukan tentang memecah belah mereka” lalu Syaikh Ihsan menjawab surat ini dengan mengatakan dalam suratnya: “Betapa Indahnya persatuan barisan Muslim yang beriman kepada Allah saja dan pada Rasul-Nya dan dalam ajaran mereka, dan bukan kesatuan barisan Muslim dengan orang-orang kafir yang mengingkari finalitas kenabian Muhammad (صل الله عليه وسلم) atau orang-orang yang percaya pada Risalah Muhammad ibn Isma’il”.

Suatu ketika, seorang Ayatullah datang dari Iran untuk mengunjungi Syaikh di rumahnya, dan mengundangnya atas nama Al-Khomeini untuk mengunjungi Iran, dan mengatakan bahwa Al- Khomeini menyukai buku “Al-Baabiyah” dan “Al-Bahaiyah” dari Syaikh Ihsan , namun Syaikh Ihsan menolak dan tetap mengkritik keras Al-Khomeini.

Juga di antara keberaniannya, Syaikh Ihsan selalu sigap untuk bergegas ke Pakistan di mana pun dia mendengar bahwa para Ahli Bid’ah mencoba untuk mengambil paksa Masjid Ahlul Hadits, dan Syaikh akan memastikan bahwa Masjid tersebut akan dikembalikan ke Ahlul Hadits.

Al-Khomeini telah menetapkan harga 100.000 USD untuk kepala Syaikh bagi siapapun yang bisa membunuh Syaikh Ihsan, dan meskipun ada ancaman ini, Syaikh tetap berjalan di jalan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Syaikh mengalami peristiwa penembakan berkali-kali dan selamat dari serangan-serangan tersebut atas izin Allah.

Pada tanggal 23 Maret 1987, Sebuah bom waktu meledak saat Syaikh berpidato di Qil’ah Kishman Singh di Rawi Rd di Lahore, Syaikh Ihsan pun terluka karena ledakan tersebut. Pada tanggal 29 Maret, atas rekomendasi dari Kind Fahd ibn Abdul Aziz, Syaikh diangkut ke rumah sakit militer Faysal di Riyadh untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut, tetapi Syaikh meninggal 22 jam kemudian.

Setelah tinggal 4 hari di rumah sakit di Lahore, Syaikh dibawa ke Riyadh untuk perawatan lebih lanjut, dan dia berbicara dengan wartawan di bandara Lahore mengatakan bahwa ia insya Allah akan kembali dan melanjutkan Dakwahnya, tetapi Syaikh Ihsan kemudian meninggal dunia. Di Riyadh, tubuhnya dimandikan di sana, dan Syaikh Ibn Baz memimpin shalat jenazah salah satu muridnya yang berprestasi itu, dan kemudian jenazah Syaikh diangkut ke Madinah, dan beberapa ulama Madinah menerima jenazah Syaikh Ihsan dipimpin oleh Syaikh Atiyah Salim, kemudian orang-orang melakukan sholat jenazah di Masjid Nabawi, dan setelah itu, Syaikh dimakamkan di Al-Baqi’. 

Referensi :
– https://adviceforparadise.com/profiles/18/
– http://www.saaid.net/Warathah/1/taher.htm
– الشيخ إحسان إله ظهري :Merupakan ringkasan biografi dari sebuah disertasi doktoral berjudul .3

ي

منهجه وجهوده ِف تقرير العقيدة والرد على الفرق المخالفة (رسالة جامعية) المؤلف : د. على بن موسى الزهرا ِن. ييي

Disusun oleh: Dr Ali bin Musa Az Zahrani

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021