Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Ismail Raji Al-Faruqi Penggagas Islamisasi Ilmu

2 Januari 2021 | Figure

Di tanah Palestina yang penuh keberkahan kala itu, anginnya sejuk berdesir menunjukan kedamaian dan penuh keharmonisan, Lahirlah Al-Faruqi pada tanggal 1 Januari 1921 di Yaifa daerah di Palestina. Ayahnya bernama

Ismail Raji Al-Faruqi Penggagas Islamisasi Ilmu

Di tanah Palestina yang penuh keberkahan kala itu, anginnya sejuk berdesir menunjukan kedamaian dan penuh keharmonisan, Lahirlah Al-Faruqi pada tanggal 1 Januari 1921 di Yaifa daerah di Palestina. Ayahnya bernama Abdul Huda al-Faruqi adalah seorang hakim Muslim yang sangat patuh pada Agamanya. Al-Faruqi banyak mendapatkan pendidikan agama dari rumah terutama ayahnya dan masjid lokal setempat.

Sebelum berkecimpung dan mengudara dengan pemikirannya tentang Islamisasi pengetahuan, Al-Faruqi memulai pendidikan dasarnya di College Des Frese,Libanon sejak 1926 sampai 1936. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di The American University, Beirut, tempat ia memperoleh gelar BA-nya pada tahun 1941.Ia lalu masuk dalam pemerintahan, dan pada umur 24 tahun pada tahun 1945 menjadi gurbernur Galilee, arah kehidupan masa depannya sudah mantap.

Tapi jabatannya pun tak bertahan lama disebabkan dengan dibentuknya negara Israel pada tahun 1948, dan Al-Faruqi menjadi salah satu dari ribuan pengungsi Palestina yang  berimigrasi bersama keluarganya ke Lebanon. Meskipun begitu Al-Faruqi terus berusaha dalam mengejar gelar pendidikannya. Pada tahun 1952 Al-Faruqi berhasil mendapatkan gelar doktoral (Phd) dalam filsafat Barat dari universitas Indiana. Dari Universitas Indiana Al-Faruqi terbang menuju Kairo Mesir untuk melanjutkan pendidikan Islamnya di Universitas Al-Azhar selama 4 tahun dari 1954 sampai 1958. Sekembalinya dari Kairo ke Amerika Utara, ia menjadi profesor tamu studi-studi Islam di Institut Studi Islam dan menjadi mahasiswa tingkat doktoral penerima beasiswa pada Fakultas Teologi di Uneversitas McGill dari tahun 1959 sampai 1961, tempat ia belajar tentang Kristen dan Yahudi.

Dalam memulai karir profesionalnya sebagai guru besar studi Islam di Institut Pusat Riset Islam di Karachi , Pakistan dari tahun 1961 sampai 1963. Selama setahun berikutnya ia kembali ke Amerika, ia menjadi guru besar tamu dalam bidang sejarah agama di Universitas Chicago. Pada tahun 1964, ia memperoleh posisi permanen penuh pertamanya sebagai guru besar luar biasa di Jurusan Agama pada Universitas Syracuse. Ia akhirnya pindah ke Universitas Temple pada tahun 1968 untuk menjadi guru besar studi Islam dan sejarah agama. Ini adalah posisi yang didudukinya sampai ia wafat pada tahun 1986.

Selain mengajar, al-Faruqi juga mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT) pada 1980 di Amerika Serikat, sebagai bentuk nyata gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Kini lembaga tersebut memiliki banyak cabang di berbagai Negara, termasuk di Indonesia dan Malaysia. Sebelumnya pada tahun 1972, al-Faruqi telah mendirikan The Association of Muslim Social Scientist. Ke dua lembaga yang didirikannya itu menerbitkan jurnal Amerika tentang Ilmu-ilmu sosial Islam. Apa yang dilakukannya itu karena keyakinannya bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang telah sekuler dan jauh dari tauhid. Kemudian dia juga menelurkan konsep dan teori-teori agar kemajuan dan pengetahuan tidak berjalan jauh di luar etika, melalui konsep Islamisasi Ilmu dan Paradigma tauhid dalam pendidikan dan pengetahuan.

Kehidupan akademis al-Faruqi sangatlah produktif. Selama hidupnya ia telah menulis ratusan artikel. Hampir semua bidang ilmu dijelajahinya. Dari etika, seni, ekonomi, metafisika, politik, sosiologi, dan lain-lain, semua ia kuasai dan kemudian disajikan dalam bentuk komprehensif. Di antara karyanya Yaitu: On Arabism,Urabah and Religions, An Analysis of the Dominant Ideas of Arabism and of Islam as its Highest Moment of Conciousness (1962). Usul as-Sahyuniyah fi ad-Din Al-YahudiAl-Yahudi(Analytical Study of the Growth of Particuralism in Hebrew Scripture) (1964). Christian Ethics, Historical Atlas of the Religions of the World (1967). Selain itu, al-Faruqi juga menjadi penulis buku bersama seperti dalam buku, Historical Atlas of the World, The Great Asian Religions, dan The Cultural Atlas of Islam. Menjelang akhir hayatnya, al-Faruqi telah berhasil menuangkan konsep-konsep pemikiran yang dia miliki dalam magnum opusnya yang berjudul Tauhid: Its Implication for Thought and Life.

Ismail Faruqi adalah seorang pemikir Islam yang intens memadukan antara Islam dengan esensi ajaran tauhidnyadengan pengetahuan dan seni. Al-Faruqi menegaskan bahwa esensi pengetahuan dan kebudayaan Islam ada pada agama Islam itu sendiri. Sedangkan esensi Islam itu adalah tauhid. Ini artinya, tauhid sebagai prinsip penentu pertama dalam Islam, kebudayaannya, dan sainsnya. Tauhid inilah yang memberikan identitas pada peradaban Islam, yang mengikat semua unsurnya bersama-sama dan menjadikan unsur-unsur tersebut sebagai suatu kesatuan integral dan organis. Dalam mengikat unsur yang berbeda tersebut, tauhid membentuk sains dan budaya dalam bingkainya tersendiri. Berpegang teguh pada prinsip tauhid merupakan suatu keniscayaan dan merupakan fondamen dari seluruh kesalehan, religiusitas, dan kebaikan. Berpegang pada tauhid berarti menghayati perintah-perintah Tuhan sebagai kewajiban, dan mengaktualisasikan nilai-nilai yang tersirat dalam perintah-perintah tersebut. Doktrin tauhid ini memadukan penegasan klasik sentralitas keesaan Tuhan (monoteisme) dengan interpretasi modernis (ijtihad) dan penerapan Islam dalam kehidupan modern.

Menurutnya Tauhid merupakan esensi pengalaman keagamaan, inti Islam, dan prinsip sejarah, pengetahuan, sains, etika, estetika, umat, keluarga, serta tatanan politik, sosial, dan ekonomi. Secara khusus, tauhid sebagai esensi pengetahuan mengandung tiga prinsip: penolakan terhadap sesuatu yang tidak berkaitan dengan realitas, penolakan terhadap kontradiksi-kontradiksi hakiki, termasuk kontradiksi antara akal dan wahyu, dan keterbukaan bagi bukti yang baru dan/atau yang bertentangan. Prinsip-prinsip ini melindungi umat Islam dari literalisme, fanatisme dan konservatisme yang mengakibatkan kemandegan, sekaligus mendorong umat Islam kepada sikap rendah hati intelektual.Agar tidak terjadi kontradiksi antara wahyu dan pengetahuan, al-Faruqi merasa perlu untuk melakukan islamisasi pengetahuan (sains). Islamisasi sains ini harus diarahkan pada suatu kondisi analisis dan sintesis tentang hubungan realitas yang sedang dipelajari dengan pola hukum Tuhan. Karena sejatinya Islamlah yang menjadi solusi bagi problematika yang dihadapi manusia modern kini. Islamisasi sains dilakukan dengan mensintesakan Islam dan ilmu pengetahuan modern. Proses ini harus menempuh dua belas tahapan, yakni: penguasaan disiplin ilmu pengetahuan modern, survei disiplin ilmu, penguasaan khazanah Islam, dalam arti bahwa khazanah Islam harus dikuasai dengan cara yang sama, penguasaan terhadap khazanah Islam untuk tahap analisis, penentuan relevansi spesifik untuk setiap disiplin ilmu, penilaian kritis terhadap disiplin modern, penilaian kritis terhadap khazanah Islam, survei mengenai permasalahan yang dihadapi umat Islam, survei mengenai permasalahan yang dihadapi umat manusia, analisis kreatif dan sintesis, penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam bingkai Islam, dan terakhir adalah penyebarluasan ilmu yang telah diislamisasikan tersebut.Ekspresi estetis dari tauhid ini mewujud dalam beragam bentuk, seperti kaligrafi, ornamentasi, musik dan seni suara, sastra, dan seni ruang. Keseluruhan ekspresi seni Islam ini memiliki enam karakteristik yaitu: abtraksi, struktur modular, kombinasi berurutan, pengulangan tingkat tinggi, dinamis, dan memiliki detail yang rumit. Manifestasi agung dari keseluruhan karakteristik seni ini mewujud dalam al-Qur’an.

Al-Faruqi meninggal dunia pada tanggal 24 Mei 1986 atas sebuah konspirasi intelijen Mossad Israel. meskipun begitu namanya masih harum hingga saati ini, dan karya-karyanya masih menjadi salah satu referensi para pemikir dan Ilmuan Islam dalam menggali potensi-potensi nya.

Referensi :
– Ramayulis dan Syamsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, Mengenal Tokoh Pendidikan Islam di Dunia Islam dan di Indonesia, (Ciputat : Quantum Teaching, 2005)
– http//www.biographicon.com/view/b0pdb/Ismail_al_Faruqi/htm.
– Herry Mohammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta: Gema Insani,2006)
– John L.Esposito-John O Voll, Tokoh-tokoh Kunci Gerakan Islam Kontemporer, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002)
– Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, (Virginia: International Institute of Islamic Thought, 1989)

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021