Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Jamaluddin Al-Afghani & Pan-Islamisme

8 Juli 2021 | Figure

Dalam situasi yang sulit dimana terdapat reformasi (Tanzimat) dalam tubuh Khilafah Turki Utsmani. Terdapat jarak antara para pemuda yang terdidik dalam keilmuan Barat dan para pemuda timur yang jauh dari gemerlap revolusi industry. Lahir lah seorang pembaharu dari Asadabad, Kabul, Afghanistan pada bulan Sya’ban 1254 H/Oktober 1838 M

Jamaluddin Al-Afghani & Pan-Islamisme

Dalam situasi yang sulit dimana terdapat reformasi (Tanzimat) dalam tubuh Khilafah Turki Utsmani. Terdapat jarak antara para pemuda yang terdidik dalam keilmuan Barat dan para pemuda timur yang jauh dari gemerlap revolusi industry. Lahir lah seorang pembaharu dari Asadabad, Kabul, Afghanistan pada bulan Sya’ban 1254 H/Oktober 1838 M, berasal dari keluarga Afghan yang bersambung nasabnya kepada Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhuma dan bertemu juga nasabnya kepada Imam As-Sayyid Ali At Tirmidzi, ulama Hadits yang terkenal. Beliau adalah Muhammad Jamaluddin bin Safdar Al-Husainy Al-Asadabadi Al-Afghani.

Al-Afghani menuntut ilmu pada masa kecilnya di Kabul, Afghanistan, ia belajar Bahasa Arab dan Farsi, menghafalkan Al Qur’an di usianya ke-12 tahun, serta menimba beberapa disiplin ilmu dien, lalu pada usia 18 tahun ia pergi ke India untuk belajar ilmu sains dan teknologi eropa, kemudian pergi melaksanakan haji yang pertama pada tahun 1857 M, setelah itu kembali ke Afghanistan.

Dalam dunia politik saat bergabung dengan Amir Dost Muhammad Khan pendiri dinasti Barakzai yang berpusat di Kabul, Afghanistan sebagai tangan kanan Amir. Ketika Inggris datang menghasut kudeta di Afghanistan pasca wafatnya Amir Dost Muhammad Khan yang kemudian digantikan oleh Muhammad A’dzam Khan, Inggris memainkan politik Devide Et Impera (politik adu domba) menggulingkan A’dzam Khan dan mengangkat Sher Ali Khan. Al-Afghani meninggalkan Afghan setelah peristiwa tersebut dan memutuskan untuk berhaji yang kedua kalinya melalui India menuju Mesir dalam perjalanan laut selama 40hari.

Saat Al-Afghani di Mesir ia aktif menuntut ilmu di Mesir dan baru sampe Makkah pada 1869, setelah berhaji ia pergi menuju Al Astanah (Istanbul, Ibukota Kesultanan Utsmani) di tahun 1870 M, maka di sanalah Al Afghani mendapatkan kedudukan yang tinggi pada pemerintahan As Shadru Al A’dzam (Perdana Menteri) Ali Pasha, ia menjadi anggota majelis ulama tertinggi di masanya dan menyerukan perbaikan sistem pemerintahan Daulah Utsmaniyyah. Namun kedekatan Al-Afghani dalam pemerintah Turki tidak disukai oleh segelintir orang makai a memutuskan untuk berjalan lagi menuju Mesir.

Di Mesir Al-Afghani disambut sebagai pemikir Islam dan banyak dihadiri masyarakat ketika dirinya berkhutbah. Khutbah-khutbahnya yang menggelegar anti Imperialis memunculkan ketegangan antara Inggris bersama para pemimpin Mesir dengan Al-Afghani terus memanas, puncaknya adalah pada masa Khedive Taufiq Pasha memerintah, Al-Afghani untuk kedua kalinya terusir dari Mesir pada tahun 1879 M, setelah menetap selama 8 tahun di sana.

Dari Mesir Al-Afghani pergi ke India, lalu pindah ke London, setelah itu menetap di Paris bersama muridnya Syaikh Muhammad Abduh. Keduanya kemudian bersama-sama mendirikan Jam’iyyat Al-Urwah Al-Wutsqa (Society of Indissoluble Bond), dan menerbitkan majalah dengan nama yang sama pada tahun 1884 M. Tujuan diterbitkannya majalah itu antara lain untuk mendorong bangsa-bangsa timur dalam memperbaiki keadaan politik dan sosial negeri mereka, mencapai kemenangan dan menghilangkan rasa putus asa, mengajak kembali dan berpegang teguh pada ajaran islam yang lurus. Majalah itu juga merupakan buah pemikiran Al-Afghani yang berisi seruan terhadap persatuan ummat, serta mengkritik sistem Penjajahan dan pemerintahan otoriter.

Saat-saat itulah Al-Afghani aktif menulis tentang politik, penyampaiannya yang bersifat dinamis, keras, tajam, serta revolusioner menyebar di berbagai surat kabar Paris. Namun, penerbitan majalah Al Urwatu Al Wutsqa harus terhenti setelah edisi ke-18 yang elah diterbitkan selama 8 bulan, majalah tersebut mendapat boikot oleh pemerintah kolonial Inggris di India dan Mesir.

Setelah dari Paris, Al-Afghani kemudian mendapat undangan dari Shah Iran “Nashiruddin” untuk datang ke Tehran, di sana ia mendapatkan popularitas dan perhatian dari rakyat iran yang menginginkan Al-Afghani untuk mengajarkan mereka buah pemikirannya, namun Shah akhirnya merasa kekuasaannya terancam oleh pemikiran Al-Afghani, merasa situasi politik tidak menguntungkan, Al-Afghani pun meninggalkan Iran dan pergi menuju Moscow dan Saint Petersburg.

Al-Afghani berpindah tempat dari satu negeri ke negeri yang lain, dan sempat kembali ke Iran pada tahun 1889 M atas undangan kedua kalinya dari Shah “Nashiruddin” untuk memperbaiki kondisi perpolitikan negeri, namun, naas ia harus di extradisi kedua kalinya dari Iran ke Turki pada tahun 1892 M, yang kemudian ia diundang oleh Khalifah Daulah Utsmaniyyah Sultan Abdul hamid II ke Istanbul untuk mengajak ummat islam bersatu untuk menolong Khilafah Utsmaniyyah melawan musuh dari luar (barat), yang kemudian idenya tersebut dikenal dengan konsep/teori Pan-Islamisme (persatuan Islam atau إتحاد الإسلام) atau sebagian mengistilahkannya dengan Nasionalisme Islam, yang bersifat global tanpa memandang etnis dan suku.

Kelihatannya semasa Jamaluddin Al-Afghani di Istanbul adalah seorang tamu terhormat Khilafah Turki Utsmani, tetapi hakikatnya ia menjadi tawanan Sultan Abdul Hamid II dan berdiam di “sangkar emas” istana Sultan, sebab sang Sultan menyukai gagasan Al-Afghani tentang persatuan ummat tapi tidak menyukai gagasan anti-otokrasi nya Al Afghani yang berpotensi menganggu kekuasaannya, oleh karna itu Al-Afghani menetap di Istanbul hingga wafat pada tahun 1897 M.

Jamaluddin Al-Afghani dalam perjalanannya sebagian dikaitkan para penulis yang menjelaskan kaitan Al-Afghani dengan organisasi Freemasonry, dan ada pula sebagian penulis Syiah yang secara tendensius mengklaimnya sebagai seorang pengikut Syiah.

Adapun tuduhan bahwa Al-Afghani adalah merupakan seorang Zionis, maka hal ini tidaklah benar, Al-Afghani dalam beberapa literatur memang diceritakan pernah masuk organisasi Freemason dengan tujuan untuk membuka jalan baginya ke dalam perpolitikan Mesir, namun ketika ia menyadari bahwa agenda organisasi tersebut adalah jalan memuluskan penjajahan Inggris di Mesir, ia pun keluar dari organisasi tersebut.

Dan adapun sebagian kalangan Syiah yang mengklaim bahwa Al-Afghani adalah Syi’i (pengikut syiah) berasal dari Asadabad, Iran, bermadzhab Ja’fari, adalah berdasarkan keterangan- keterangan yang tidak kuat, sedangkan penisbatan namanya dengan julukan terkenal: Al-Afghani (orang Afghanistan) merupakan bukti yang kuat bahwa ia berasal dari negeri yang mayoritas Sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah). Dan bukti lain yang paling kuat adalah bahwa tulisan-tulisan Al-Afghani menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang Afghan Sunni, dan bukan seorang Irani Syi’i. Dalam buku Al-Afghani yang berjudul Tatimmatul Bayan fi Tarikhi Afgan, disana  ia mengatakan; “Dan keseluruhan orang Afghan adalah bermadzhab dengan madzhab imam Abu Hanifah Rahimahullah Ta’ala, dan mereka tidak bermudah-mudahan baik laki-laki atau wanita, orang kota ataupun orang kampung dalam perkara shalat dan puasa, kecuali kelompok Nouri, sesungguhya mereka terjerumus kepada Tasyayyu’ (condong ke arah syiah), mereka memelihara tradisi memperingati kematian Al Husain (Radhiallau Anhu) pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, dan mereka memukul-mukul punggung dan pundak mereka dengan rantai dengan bertelanjang dada”.

Referensi;
Sa’dun Al-Masyhadani, Al-Islam As-Siyasi Minal Khawarij ila Mantiqatil Khadra (الإسلام السياس من الخوارج إلى المنتطقة الخضاء)
Mushtofa Abdurrazaq, Al Urwatul Wutsqa, Jamaluddin Al Afghani Wa Muhammad Abduh, (العروة الوثق- جمال الدين الأفغاب ومحمد عبده)
Jamaluddin Al-Afghani, Tatimmatul Bayan Fi Tarikhi Afghan (تتمة البيان ف تاري خ الأفغان)
Abdul Qadir Al-Maghribi, Jamaluddin Al-Afghani (جمال الدين الأفغاب)

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021