Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Jangan Berikan Kekuasaan Kepada Mereka Yang Memintanya

17 September 2020 | Opinion

Beberapa pekan lalu, kita dihebohkan dengan statement Puan Maharani selaku Ketua DPR RI dari parpol PDI Perjuangan yang mengatakan “semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila”.

Jangan Berikan Kekuasaan Kepada Mereka Yang Memintanya

Beberapa pekan lalu, kita dihebohkan dengan statement Puan Maharani selaku Ketua DPR RI dari parpol PDI Perjuangan yang mengatakan “semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila”.

Pernyataan Puan Maharani itu menuai protes sejumlah tokoh masyarakat inangkabau (Sumbar) hingga memunculkan acara di Indonesia Lawyer Club (IL) yeng bertajuk “Sumbar belum Pancasilais?”. Kalau memang beliau berdarahkan Minang, sepatutnya beliau telah mengetahui budaya dan adat Minangkabau, bahkan sebelum Pancasila itu muncul dan belum mengenal Pancasila, masyarakat Minangkabau telah terlebih dahulu menerapkannya.

Mengutip penjabaran dari Ustad Abdul Somad yang memberitahukan secara perinci tentang Pancasila dalam Minangkabau, sebagai berikut:

  1. Untuk sila pertama, Minangkabau tidak hanya berTuhan, mereka justru membuat orang yang tidak kenal Tuhan menjadi berTuhan. Saya (UAS) menyampaikan tausiyah di sebuah pulau di Aceh di sana saya diajak berziarah ke makam tua, dan orang tua yang sebarkan Islam itu berasal dari Minangkabau. Saya bertausiah ke Palu Sulawesi Tengah, diatas bukti penyebar agama juga berasal dari Minangkabau. Maka, Minangkabau adalah pembawa suluh di tengah gelap.
  2. Untuk sila kedua, di depan rumah Minangkabau ada rantiang tempat menyimpan beras dan beras itu di bagi-bagi lagi, ada beras yang dimakan keluarga, tapi juga ada beras yang jadi makanan untuk fakir miskin. Masyarakat Minangkabau sangat peduli terhadap kemanusiaan. Mereka tidak menganggap pekerja sebagai kuli yang di gaji, tapi dianggap sebagai saudara yang system bagi hasil.
  3. Untuk sila ketiga, Orang Minangkabau amat sangat cukup rukun dan syarat untuk buat negara. Diplomasi tidak ada yang paling hebat dari diplomasi Haji Agus Salim. Dia berhadapan dengan orang Belanda, orang Eropa, berbagai macam bahasa dunia dia kuasai. Tentang masalah ekonomi, kita tahu Bapak Koperasi Indonesia itu Bung Hatta. Tentang agama, jangan tanya lagi, orang Minangkabau, represtasi agamanya bukan tingkat nasional, tapi Imam Masjidil Haram, Syeh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Universitas Al Azhar dalam sejarah hanya sekali memberikan penghargaan gelar Dr Honoris Causa kepada seoarang ayah yang anaknya juga mendapatkan gelar Honoris Causa dia adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) dan ayahnya Abdul Karim Amrullah juga mendapatkan Honoris Causa dari Al Azhar. Ekonomi, politik, agama, orang Minangkabau punya. Bagaimana dengan tentara? Tentara-tentara Minangkabau tidak dididik di Indonesia, seperti Haji Gobang, Haji Sumanih, Tuanku Nan Receng, mereka adalah tentara yang luar biasa. Tapi kemudian mereka tidak buat negara, melainkan gabung dengan NKRI.

  4. Untuk sila keempat, tentang musyawarah, bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik. Air menjadi bulat kalau lalu di pembuluh, sedangkan kata bulat kalau ada musyawarah mufakat. Orang Minangkabau tidak ambil keputusan sendiri dengan kepalanya, dia tahu mungkin bisa salah, khilaf dan lupa. Orang Minangkabau mengenal filosofi tigo tungku sajarangan. Kalau kita memasak ada tiga tungku di sana, tungku ini yang menampung dandang yang begitu besar dan merasakan panas api di bawah. Tigo tungku sajarangan, ninik mamak, alim ulama, cerdiak pandai. Orang Minangkabau berkata, duduk sendiri sampik, duduk basamo lapang. Duduk sendiri terasa sempit, tapi duduk bersama terasa lapang. Kenapa demikian? Karena mereka lebih mengutamakan musyawarah dan mufakat.
  5. Untuk sila kelima, orang Minangkabau amat sangat adil. Anak didukung, kemenakan dipangku. Perempuan Minangkabau tidak pernah pergi jauh dari kampung halaman untuk cari makan. Karena mereka ada ninik mamak yang adil. Perempuan tidak pernah mendapat perlakuan yang tidak adil, mereka mempunyai harato tinggi yang tidak dibagi. Sebagian ulama mempersoalkan kenapa harta tinggi tidak dibagi sebagai harta waris. Karena itu sebenarnya adalah wakah keluarga. Ketika seorang perempuan tidak punya suami, ayah, dan saudara laki-laki, siapa yang akan memelihara dia, beri makan dia, ada harato tinggi, ini soal keadilan.

Tidak bisa dibayangkan jika sekelas Muhammad Natsir berada dalam forum ILC tersebut, selaku orang yang berdarah Minang tulen mendengar ucapan Puan Maharani, dan Natsir adalah salah satu lawan debat kakeknya Puan Maharani (Soekarno) terkait dasar negara Indonesia. Mungkin forum ILC akan menjadi terbelalak dengan statement Muhammad Natsir seorang yang kokoh memperjuangkan Islam sebagai dasar negara Indonesia.

Bisa kita lihat dan nilai disini, sebelum masyarakat Minangkabau mengenal Pancasila mereka telah telah mengenal dan menerapkannya jauh-jauh hari. Lantas, apa tujuan statement Puan Maharani memberi legitimasi kepada masyarakat Minangkabau seperti itu? Apakah PDI Perjuangan memiliki jejak sakit hati di Pemilu Sumatera Barat yang hampir tidak mendapatkan kursi di Pemilu 1999 – 2019?

Jika memang didasarkan karena jejak sakit hati Pemilu tersebut, maka kita dapat membaca hadits riwayat Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “janganlah engkau meminta kekuasaan karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk menjalankannya. Namun, jika engkau diberi kekuasaan karena memintanya, engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut”.

“Jaranglah orang berjasa yang mendapat pangkat dunia. Sebab pangkat dunia itu didapat dengan saling berebutan dan saling berkejaran, saling menekan, dan saling memfitnah”.

-Buya Hamka –

Jas Putih

Judul : Jas Putih
Penulis : Rachmad Abdullah, S•Si., M.Pd.
Penerbit : Al Wafi Publishing
Ukuran : 14 x 20,5 cm
Halaman : 292 Halaman
Berat : 310gr
Jenis : Soft Cover

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021