Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Jangan Membentur Islam Dengan Kemanusiaan

12 Juli 2021 | Opinion

Hari ini perlu kita sadari bersama sudah banyak sekali umat Islam terbiasa dan menelan untuk menerima hal-hal bentuknya ambigu yang dikemas secara halus dan rapih untuk meyakinkan khalayak dengan ke-ambigu-an itu yang pada akhirnya suatu hal yang biasa dan patut sekaligus terlihat atau terdengar keren

Jangan Membentur Islam Dengan Kemanusiaan

Hari ini perlu kita sadari bersama sudah banyak sekali umat Islam terbiasa dan menelan untuk menerima hal-hal bentuknya ambigu yang dikemas secara halus dan rapih untuk meyakinkan khalayak dengan ke-ambigu-an itu yang pada akhirnya suatu hal yang biasa dan patut sekaligus terlihat atau terdengar keren. Di mulai dari pola pikir sampai kepada kalimat-kalimat yang bentuknya jika diperhatikan adalah suatu hal yang syubhat (sesuatu yang belum jelas halal-haram)  kemudian diamini.

Mungkin sudah tidak aneh ketika ada isu-isu yang bergesekan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) kita mendengar maupun membaca kalimat-kalimat syubhat hari ini, di mulai dengan kalimat yang sering kita dengar seperti, “dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah sadaramu dalam kemanusiaan” yang sering disandarkan kalimat tersebut kepada sahabat mulia Ali bin Abi Thalib, tanpa ada keraguan di dalam kalimat tersebut untuk mencari tahu bukti shahih atau tidak. menariknya kalimat itu ditulis berdasarkan kata Ali bin Abi Thalib AS (Alaihissalam), untuk khalayak yang ngeh dalam pemberian gelar “AS” sesudah nama sahabat mulia Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam tersebut kemudian pasti ada pertanyaan, semenjak kapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib disematkan gelar keNabian?

Setelah kita mulai mencoba telusuri secara sederhana melalui portal web untuk memastikan keberadaan kalimat tersebut diatas, kita hanya akan mendapatkan portal-portal web Syiah, dengan sederhananya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidaklah aneh ketika gelar keNabian disematkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu oleh kelompok Syiah.

Acap kali kita menemukan kalimat-kalimat di kolom komentar pada sosial media hari ini dengan kalimat, “siapapun boleh merasa tidak berdosa, asal jangan menggap bahwa dosa hanya milik orang lain. Siapa saja boleh mengklaim memiliki surga, asal jangan menggap neraka pasti milik orang lain”, kalimat tersebut adalah suatu jawaban ketika kita mulai menyampaikan pesan-pesan yang haq.

Terhadap kalimat diatas, kita hanya bisa menjawab, “maaf jika ada penyampaian yang salah, tolong ingatkan jika ada perbuatan yang sudah mulai keluar dari koridor yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala beserta Rasulullah Muhammad ﷺ dan terima kasih sudah mengingatkan”. Yang perlu kita tekankan di sini adalah untuk saling ingat-mengingatkan kepada yang lain sesuai dengan apa yang Allah ta’ala berikan ilmu kepada kita, tidak boleh keluar dari apa yang telah kita ketahui. Adapun salah satu hujjah ketika kita ditanya masalah kewajiban tersebut, sesuai dengan perintah Allah ta’ala dalam surat Ali Imran [3] : 110 yang artinya Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.

“Sebelum belajar agama, belajarlah menjadi manusia. Agar jika kau bela agamamu, kau tetap sebagai manusia, tidak bertindak sebagai Tuhan”. Diantara kita sudah tidak asing juga dengan kalimat tersebut bahkan sudah banyak kalimat-kalimat yang terdengar syubhat untuk mengikis sedikit demi sedikit ghirah umat Islam pada umumnya. Pertanyaan terhadap kalimat tersebut adalah, bagaimana kita bisa mengetahui menjadi kriteria manusia yang ideal? Jika kita telisik perkataan itu ada dua kemungkinan pertama menolak agama, kedua mereka tanpa sadar sudah menjadi tuhan.

Ketika kita belajar untuk menjadi manusia, sangatlah mudah bagi umat Islam dengan merujuk pada Al-Quran dan As Sunnah Nabi ﷺ. Salah satu pembelajaran menjadi manusia yang ideal berada dalam surah An Nahl [16] : 90 yang artinya, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut, Allah ta’ala memberitahukan bahwa Dia memerintahkan hamba-hambaNya untuk berbuat adil, yakni mengambil sikap tengah dan penuh keseimbangan, serta menganjurkan untuk berbuat kebaikan. Kemudian firman Allah ta’ala, “Dan Allah melarang dari perbuatan keji dan munkar” Kata fawaashisy berarti berbagai perbuatan yang diharamkan. Sedangkan munkaraat berarti perbuatan haram yang tampak dilakukan seseorang. Sedangkan al-Baghyu berarti permusuhan terhadap umat manusia, yang dalam sebuah hadits disebutkan, “Tidak ada dosa yang paling layak untuk disegerakan Allah siksanya di dunia di samping siksa yang disiapkan untuk pelakunya di akhirat, selain al baghyu (sikap permusuhan) dan pemutusan silaturahmi”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Satu hal lagi, kalimat yang ingin menyaingi orang-orang kafir Quraisy jahiliyah dengan mengeluarkan kalimat “semua agama sama, merujuk kepada satu tuhan, hanya cuma cara beribadahnya saja yang berbeda”. Kalimat tersebut adalah kalimat yang ingin menyaingi orang-orang jahiliyah, oleh karena itu dalam surah Al-Kafirun sebagai ayat penutup dalam surah tersebut adalah “untukmu agamamu, untukku agamaku”. Semua agama pasti tidak ingin disamakan aqidahnya dengan yang lain, oleh karena itu suatu hal yang tidak masuk diakal ketika kita menemukan makhluk ciptaan Allah ta’ala memiliki konsep berfikir seperti itu. Atau mungkin saja bagi orang-orang yang seperti itu ingin menjadi neo-jahiliyah.

Jika kita merujuk pada pendapatnya Abu Ridha dalam bukunya Asep Syamsul M. Romli, S.IP, beliau menyebutkan salah satu program ghazwul fikri adalah Tadzwib, yakni pelarutan budaya dan pemikiran. Di sini kaum kuffar melakukan pencampuradukan antara hak dan bathil, antara Islam dan non Islam, sehingga umat Islam kebingungan mendapatkan pedoman hidupnya.

Allah ta’ala telah memberikan manusia keutamaan yang menyebabkan manusia dia lebih tinggi daripada makhluk yang lain. Pemberian Allah ta’ala tersebut ialah akal dan pikiran. Bertambah maju kehidupannya, bertambah maju pula pikirannya. Sedang binatang hanya mempunyai instinct saja, sehingga kehidupan binatang tidak ada kemajuan.

Jelaslah para pemuda yang jauh dari Islam selalu lebih mudah terbius dengan jargon-jargon yang sok humanis, membenturkan agama dengan kemanusiaan seolah beragama belum tentu menjadi yang manusiawi. Padahal dalam pandangan Islam jika seorang itu cacat dalam akhlaknya kepada manusia maka tercoreng pula keIslamannya. Jika kita selalu disusupi kalimat syubhat yang sok humanis diatas pastaslah jiwa kita sulit untuk menerima kebenaran dan lemah dalam mencari kebenaran seperti tergambar kaliamat Moh. Natsir “Kalimah haq lebih tajam dari mata pedang.”

Referensi :
Asep Syamsul M. Romli, S.IP, Demonolgi Islam, (Jakarta 2001 : Gema Insani Press)
Mohammad Natsir, Kalimah Haq Lebih Tajam Dari Mata Pedang, Marahmah, (Malaysia : Marhamah)
DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, Pandangan Hidup Muslim, (Malaysia : Pustaka Aman Press)

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021