Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Jihad Menurut Buya Hamka

17 Mei 2021 | Opinion

Sudah barang tentu dalam suasana akhir ramadhan yang penuh berkah terkhusuk memanjat do’a untuk saudara-saudara terkhusus sesama Muslim dan taufiq bagi seluruh umat manusia namun

Jihad Menurut Buya Hamka

Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang memohon kepada Allah dengan sesungguhnya agar ia mati syahid, maka akan disampaikan Allah-lah ia ke tempat kedudukan orang-orang yang mati syahid itu walaupun ia mati ditempat tidurnya”. (diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, lbnu Majah, dan An-Nasa’i)

Hadits itulah yang Buya Hamka salin dalam bukunya yang berjudul Dari Hati Ke Hati, karena akhir-akhir ini timbul semacam ketakutan pada masyarakat bahwa umat Islam mengobarkan semangat Jihad atau mati syahid. lni ditandai dengan adanya “Komando Jihad”, yang perkaranya sampai ke muka Pengadilan Negeri, dan seakan-akan berjihad itu diartikan bahwa kaum Muslimin hendak melawan Pemerintah yang sah di Republik Indonesia ini. Apalagi di zaman yang telah lalu dengan munculnya DI (Darul Islam) dan TII (Tentara Islam Indonesia) menjadikan santernya propaganda ke arah itu, orang lupa bahwa di jaman RMS (Republik Maluku Selatan) yang berdasarkan Kristen itu telah pula mencoba memberontak dan gagal. Lalu pemimipin-pemimpin gerakan itu sama saja nasibnya dengan pemimpin-pemimpin dari pihak Islam yang berontak, yaitu hukuman mati!

Sejak saat itu orang takut menyebut-nyebut kata “Jihad”. Padahal kalau jihad tidak ada lagi, agama menjadi terasa lesu dan pemeluk agama itu menjadi pasrah kepada nasib, lalu memakai filsafat kehancuran, yaitu “sebaik-baik untung ialah teraniaya”.

Orang lain menuduh lslam disiarkan dengan pedang, untuk menutup kejahatan mereka yang telah merampas kemerdekaan negeri-negeri lslam dengan pedang dan meriam. Sudah lama lslam ini hancur kalau semangat jihad ini padam. Sudah lama Islam ini hancur kalau sekiranya ummatnya tidak tahan menderita kesusahan, kemelaratan dan tidak tahan digoncangkan.

Perkataan Jihad itu diambil dari pokok kata júhd, artinya bersungguh-sungguh, bekerja keras tidak kenal menyerah, mengeluarkan segala kekuatan dan tenaga untuk mencapai maksud yang mulia. Adapun ‘qital’ perang, hanya sebagian kecil saja dari Jihad bila dirasakan jalan lain telah tertutup. Sebab memang segala peperangan mesti dikerjakan dengan sungguh-sungguh, strategi yang matang, taktik yang sempurna, tehnik yang modern dengan mengingat medan dan cuaca. Oleh karena itu maka ahli-ahli Islam telah membagi tingkat Jihad menjadi delapan.

  1. Memerangi dan menentang segala usaha orang kafir, karena hendak membela agama Allah, dengan membendung usaha musuh yang hendak meruntuhkan kekuatan Islam. Bersedia berkorban demi meninggikan KalimatAllah dan kemuliaan Islam, dengan tidak mengenal lelah dan payah.
  2. Memerangi usaha orang-orang yang hendak memperingan agama dan menyediakan segala alasan yang kuat untuk menghadapi mereka sehingga usaha mereka itu gagal.
  3. Mengadakan dakwah sehingga orang banyak kembali kepada kebenaran, dan membawa mereka supaya kembali kepada tuntunan Allah dan Sunnah Nabi ﷺ.
  4. Berusaha memerangi hawa nafsu diri sendiri, dengan mengintrospeksi dan melengkapi diri sendiri supaya mempunyai budi pekerti yang luhur (fadha’il) dan menjauhi perangai-perangai yang tercela (madzmomah) dengan latihan-latihan (I’dad madi) yang tidak kenal lelah. Dan selalu pula melengkapi diri dengan mempelajari agama dengan lebih tekun dan lebih mendalam (I’dad Imani).
  5. Berjuang menahan pengaruh setan supaya diri jangan terperosok kepada yang syubhat (yang diragukan kebenarannya) dan syahwat (menurutkan kepentingan diri sendiri);

    “Wahai Orang-orang yang Beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, dan barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh kepada yang keji dan munkar, maka kalau bukan karena karunia Allah atas kamu dan rahmat-Nya, tidaklah akan terpelihara seorangpun diantara kamu daripadaNya selamanya. Tetapi Allah akan membersihkan barangsiapa yang Dia kehendaki, dan Allah adalah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S. An-Nur :21 )

  6. Jagalah dirimu agar tidak sampai berteman dengan orang-orang yang jalan hidupnya telah cacat, jangan berkawan dengan orang-orang jahat, jangan berkasihan dengan orang-orang yang maksiat, putuskan hubungan dengan orang-orang yang fasiq.
  7. Sediakan selalu waktu untuk memberikan pengajaran, petunjuk, tuntunan dan nasehat supaya orang pun paham akan Al-Quran yang mulia dan Hadits yang syarif, llmu Fiqh, disertai sejarah perjuangan Rasul, dan yang penting lagi sejarah Pejuang-pejuang Islam.
  8. Bersedia menerima kritik yang membangun dan sabar menerima kritik yang semata-mata hanya kritik saja. Bahkan dianjurkan datang meminta nasehat kepada ahlinya, ziarah kepada orang-orang yang dianggap takwa, bergaul rapat dengan ulama yang beramal mengambil f aedah dengan cahaya iman mereka dan meneladani perbuatan mereka yang baik.

lnilah beberapa kesimpulan yang kita ambil dari uraian Al-Imam al-Baidhawi yang meskipun zaman beliau sudah lama berlalu namun masih dapat kita jadikan pedoman saat ini.

Oleh sebab itu dapatlah disebut bahwa orang-orang yang telah memegang kedelapan syarat diatas, sesungguhnya dia telah ber-Jihad fii sabilillah. Kalau sekiranya Jihad itu tidak dihentikan sampai nyawa bercerai dengan badannya dengan menempuh berbagai rintangan, kadang-kadang kemiskinan, kadang-kadang kekurangan rezeki, malah kadang-kadang kurang penghargaan dari masyarakat, namun dia tetap tidak mau berhenti, maka akan tercapailah olehnya mati syahid, walaupun dia mati di atas tempat tidur rumahnya!

Dalam uraian Hamka diatas kita bisa memahami bahwa jihad itu wajib baik itu individu dan kelompok/jama’ah. Yang sering terdegradasi ialah jihad selalu dipersalahkan ketika ada aksi-aksi kekerasan kemanusiaan yang dilakukan oleh umat Islam tanpa memandang konteksnya. Seperti kasus di Afghanistan seorang pejuang Taliban di diskreditkan sebagai teroris padahal mereka mempertahankan tanah dan imarahnya (pemerintahan) dari invasi Amerika. Jadi aksi-aksi dalam perang disana tidak bisa serta merta di tarik bahwa jihad adalah bentuk kekerasan.

Karakteristik dari penjabaran Hamka tentang jihad bisa kita lihat juga dalam video Mohammad Natsir pada 1993 ketika sakit membacakan tulisannya yang berjudul “Dakwah ilallah”. Natsir disana mengungkapkan bahwa hidup hanyalah Aqidah dan Jihad.

Referensi :
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, Dari Hati Ke Hati, (Jakarta 2017: Gema Insani Press)
– Prof. DR. H. Abdul Malik Karim, Tafsir Al Azhar Jilid 1, (Singapura 1990: Pustaka Nasional PTE LTD Singapura)

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021