Kami Memiliki Prinsip Toleransi

14 Juni 2020 | Opinion

Bismillahirahmanirrahim. Segala puji kita panjatkan hanya kepada Allah ﷻ yang telah memberi petunjuk dan kekuatan kepada kita serta shalawat dan salam semoga tercurah selalu kepada teladan terbaik kita, Rasulullah Muhammad ﷺ yang telah menyampaikan risalah Islam hingga kepada kita, beserta keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau.

Kami Memiliki Prinsip Toleransi

Bismillahirahmanirrahim. Segala puji kita panjatkan hanya kepada Allah ﷻ yang telah memberi petunjuk dan kekuatan kepada kita serta shalawat dan salam semoga tercurah selalu kepada teladan terbaik kita, Rasulullah Muhammad ﷺ yang telah menyampaikan risalah Islam hingga kepada kita, beserta keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau.

Agama diturunkan Allah ﷻ ke dunia dengan perantara nabi-nabi-Nya untuk menuntun kemerdekaan jiwa manusia. Tidak satu makhluk yang berhak menguasai jiwa manusia. Islam mengajarkan kita syahadat bahwa tiada Tuhan yang patut di sembah selain Allahﷻ dan Rasulullah Muhammad ﷺ adalah utusan-Nya. Bahwa hanya Allah ﷺ yang patut di sembah dan diberikan penghormatan tertinggi.

Akhir-akhir ini bahkan sejak dahulu Islam selalu disudutkan masalah peribadatannya oleh orang lain terkadang umat Islam sendiri yang mempermasalahkanya.Pada tulisan kali ini penulis akan membahas tentang tanggapan terhadap kejadian-kejadian belakangan ini seperti persekusi, adzan, dan lain sebagainya.

Akhir bulan Agustus tahun 2018 ini kita sebagai umat Islam dihebohkan dengan komentar kaum kafir yang mengkritik suara adzan terlalu keras/kencang sehingga mengakibatkan kebisingan maupun ketidaknyamanan masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar area masjid yang 5 (lima) kali sehari selalu mengumandangkan adzan. Sungguh menarik sekali untuk penulis mengomentari tentang kejadian itu, sehingga penulis ingin sekali mengomentarinya.

Sangat banyak sekali yang mengomentari kejadian tersebut melalui media sosial ada yang pro maupun kontra, di mulai dengan salah satunya mengangat kalimat “saling toleransi” hingga mengomentari putusan terdakwa yang tidak senang mendengarkan adzan di masjid sekitar rumahnya. Dalam hal ini penulis tidak ingin membahas kronologi kasus tersebut, akan tetapi penulis selaku umat Islam hanya sekedar memberikan opini terhadap orang-orang yang tidak senang atau mengomentari adzan yang terlalu keras.

Penulis teringat Azizah Hamka bercerita tentang ayahnya (Hamka) mengenai komentar-komentar khalayak tentang tergangggunya dengan suara adzan yang keras di masjid, Buya Hamka berkata kepada orang-orang yang terganggu dengan suara adzan, “Tuan-tuan kalau merasa terganggu jauhi masjid, karena masjid tidak akan berhenti untuk mengumandangkan adzan sampai kapanpun”. Cukup mudah bagi Buya Hamka selaku salah satu ulama menanggapi kejadian tersebut dengan ilmu untuk orang-orang yang merasa terganggu dengan suara adzan di masjid, dan tidak perlu juga kami selaku umat Islam diajarkan tentang toleransi antar sesama umat beragama, karena kami umat Islam tidak pernah protes ketika mendengar lonceng atau nyanyian di Gereja, mencium asap dupa di Pura, Klenteng maupun Vihara untuk melakukan peribadatan kaum non Islam. Untuk urusan toleransi, umat Islam telah memiliki prinsip sebagaimana di dalam Qur’an surah Al Mumtahanah : 7-9, yang artinya “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara mereka. Allah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. Lebih jauh, dalam Quran surah Al Kafirun ayat 6, yang artinya “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. Bisa kita simpulkan atas surah tersebut, Allah subhanahu wa taala telah mengajarkan tolak ukur toleransi bagi umat Islam, tidak seperti khalayak yang selalu berkoar-koar toleransi yang tidak memiliki tolak ukur terhadap kata “TOLERANSI” tersebut, pada akhirnya berujung pada tidak memiliki pegangan dalam hidup!

“Meskipun pandangan kita berbeda, kita masih bisa bertetangga secara jujur. Karena pada pendirian kami, agama itu tidak bisa dipaksakan. Agama adalah soal petunjuk dan hidayah Ilahi” (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)

Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman

Judul : Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman
Penulis : Abu Ammar
Penerbit : Granada Mediatama
Halaman : 432 Hal
Berat : 500gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2020