Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Karakter Media Sekuler Menghantam Islam

25 November 2020 | Opinion

Hari ini kita sadari bahwa perkembangan media sangatlah mewabah dan bisa diakses dari mana saja, akan tetapi kita selaku pembaca terkadang harus berhati-hati untuk isu-isu yang diangkat oleh media sekuler, terutama isu terhadap tokoh-tokoh Islam

Karakter Media Sekuler Menghantam Islam

Hari ini kita sadari bahwa perkembangan media sangatlah mewabah dan bisa diakses dari mana saja, akan tetapi kita selaku pembaca terkadang harus berhati-hati untuk isu-isu yang diangkat oleh media sekuler, terutama isu terhadap tokoh-tokoh Islam

Rasa ironi kalau memandang eksistensi media-media sekuler. Selain sekuler, mereka juga sering dijangkiti penyakit Islamophobia. Mereka seringkali menjadi ujung tombak kapitalisme, liberalism dan kolonialism. Chasing-nya anak bangsa, tapi jiwa dan misi perjuangannya melayani kepentingan asing. Apa yang mereka klaim sebagai indepensdensi media atau amanat jurnalistik, hanyalah dusta belaka. Media-media semacam ini umumnya tidak memiliki landasan ideologi, selain kepentingan pragmatis.

Setidaknya ada 10 trik media sekuler yang sering dalam membentuk opini yang mempengaruhi akal masyarakat dan melakukan pembodohan, sebagai berikut:

  1. Tidak adil dalam mengambil narasumber
    Media-media sekuler mengambil narasumber yang pro kepentingan mereka; sedangkan narasumber yang bersifat kontra tidak diberi tempat sama sekali.
  2. Membesarkan tokoh sesuai plot mereka
    Media-media itu memberikan sangat banyak bagi tokoh-tokoh politik yang mereka siapkan untuk mejadi pemimpin, meskipun kapasitas tokoh tersebut sangat diragukan. Sebaliknya, mereka tidak menyediakan tempat sedikitpun untuk mempromosikan, mendukung atau mengenalkan tokoh-tokoh muslim yang banyak berjasa.
  3. Menyembunyikan fakta-fakta
    Media sekuler sering sekali menyembunyikan fakta-fakta, untuk mengelabui masyarakat dan membodohi bangsa. Fakta-fakta yang merugikan mereka, atau bisa menguntungkan umat Islam, seringkali disembunyikan.
  4. Menghukum tokoh Muslim melalui pemberitaan
    Media sekuler amat sangat senang dan gembira sekali mengangkat suatu isu yang dilontarkan kepada tokoh agama Islam, padahal terkait isu apapun sangatlah general untuk diangkat ke media, karena tidak hanya Islam yang mempunyai isu.
  5. Melakukan dramatisasi pemberitaan sesuka hati
    Media sekuler sering kali mendramatisasi suatu kasus, padahal hal itu selalu tidak relevan, Misalnya, pada tahun 2009 dalam kasus pengepungan.
  6. Melakukan penyesatan opini
    Media-media seringkali melakukan penyesatan opini sehingga akibatnya merusak persepsi yang terbangun di benak public. Contoh, mereka sering mengidentikan terorisme dengan citraan jenggot, celana cingkrang, jidat hitam, wanita bercadar, pesantren dan buku-buku agama. Bahkan mereka pernah berusaha membangun persepsi, bahwa kaum teroris berjualan obat herbal.
  7. Mengulang-ulang memberitakan kebatilan secara massif
    Hal ini menjadi semacam modus yang banyak dilakukan media-media sekuler. Terinspirasi dari propaganda perwira NAZI, Joseph Goebbels. Contoh, dalam pemberitaan terorisme, media sering mengangkat pernyataan dari Ansyaad Mbai atau Hendro Priyono. Mbai sering mengatakan, bahwa teroris itu punya agenda menegakan syariat Islam, menegakan negara Islam, menegakan Khilafah Islamiyah. Yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana kerajaan-kerajaan Islam yang dulu pernah eksis di Nusantara? Apakah juga teroris?
    Ketika kita berbicara bhineka tunggal ika, seharusnya mereka tidak boleh alergi dengan pemahaman Islam dan cita-cita politik Islam. Mau mendirikan negara Islam, Khilafah Islamiyah, atu apapun itu selama caranya tidak melanggar hukum. Adapun jika mereka marah-marah, mencak-mencak, selalu ingin main kekuatan apparat, lalu apa artinya bhineka tunggal ika?
  8. Sesuka hati memberikan label kepada umat Islam
    Media sangat mudah membuat label-label sesuka hati. Sekitar tahun 2013 yang lalu, seperti Dalam isu “jihad seks” yang dilansir Tempo.co.id. Disana mereka seenaknya mengangkat istilah “jihad seks”. Begitu juga mengklaim ada fatwa yang membolehkan seks bebas di tengah medan perang dari kelompok Sunni Salafi garis keras. Siapa itu Sunni Salafi garis keras? Apa ada yag garis lunak, garis setengah lunak atau garis imut-imut? Label-label yang menyesatkan ini sangatlah banyak, Media sekuler sering sembarangan menyebut Islam Radikal, kelompok ekstrim, Salafi Wahabi dan sebagainya. Bahkan terkait para pejuang anti rezim Assad di Suriah, mereka sering menyebutnya sebagai pemberontak. Tetapi untuk kekuatan anti rezim di Libya, Yaman, Tunisia, merka sebut Gerakan reformis.
  9. Membuat tafsiran ajaran Islam sesuai selera sendiri
    Secara umum, tidak ada media sekuler di Indonesia yang mengerti ajaran Islam secara baik. Tidak ada satupun. Rata-rata pemahaman keagamaan mereka dangkal atau bersifat performance oriented. Tetapi meskipun begitu, mereka sering merasa paling berhak menjelaskan Islam kepada masyarakat. Contoh, di TV ada acara pengajian “Islam itu Indah”. Tetapi talent penceramah Dalam acara itu bersikap kebanci-bancian dan lebih banyak melawak dari pada mengajarkan Islam. Jelas menyesatkan persepsi publik.
  10. Berdusta dalam penulisan sejarah,

    Biasanya hal ini dilakukan media-media cetak, meskipun media TV juga sering menayangkan liputan bertema sejarah. Dalam salah satu edisi majalah Tempo mengangkat tema, Pengakuan Algojo 1965. Didalamanya Tempo mengangkat fakta dan data seputar pembantaian para pendukung PKI di berbagai daerah, khususnya Jawa Timur, Jawa Tengah, Medan dan lain-lain. Selain mengungkap kengerian pembantaian itu, redaksi Tempo juga menyeru bangsa Indonesia agar mau minta maaf kepada PKI dan para pendukungnya.
    Untuk mengangkat suatu tema terkait sejarah, mereka tidak pernah untuk bersikap fair berdasarkan fakta-fakta, seperti pemberontakan PKI di Madiun diikuti dengan aksi pembantaian terhadap para kiyai dan santri. Seperti yang terjadi di Pesantren Sabilil Muttaqien atau Pesantren Takeran. Umat Islam dihabisi satu persatu menuju lubang-lubang pembantaian. Aksi jagal ini tetap terekam dalam benak para korban hingga puluhan tahun kemudian. Maka tak heran jika kelompok umat Islam tetap memandang PKI, yang bangkit kembali dibawah Aidit, sebagai ancaman bagi mereka.

Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam haruslah waspada dan berhati-hati dengan invansi media sekuler yang membuat opini dengan tujuan untuk membuat label dan atau menyudutkan umat Islam. Kita sebagai umat Islam sudah diberikan pegangan Al-Quran dan As-Sunnah seperti surah Al-Baqarah ayat 217, mereka mengerahkan segenap kemapuan untuk menembus pikiran umat Islam dengan berbagai cara, antara lain menghembuskan keragua-raguan dan kemelut berfikir (ghazwul fikr). Mereka melakukan hal ini tanpa memperdulikan agama.

Referensi : A M Waskito, Invasi Media Melanda Kehidupan Umat, Pustaka Al Kautsar, Jakarta Timur

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021