Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Kartini Feminis Atau Di Cap Feminis ?

17 April 2021 | Opinion

21 April yang selalu diperingati dengan hari Kartini ini ternyata tidak sesederhana yang kita lihat anak-anak perempuan memakai kebaya atau seremonial acara perempuan. Jauh dari itu hari Kartini erat ditunggangi akan Femenisme, seolah Kartini adalah hari penyadaran perempuan tentang gender equality. Gelombang  liberalisme di Indonesia

Kartini Feminis Atau Di Cap Feminis ?

21 April yang selalu diperingati dengan hari Kartini ini ternyata tidak sesederhana yang kita lihat anak-anak perempuan memakai kebaya atau seremonial acara perempuan. Jauh dari itu hari Kartini erat ditunggangi akan Femenisme, seolah Kartini adalah hari penyadaran perempuan tentang gender equality. Gelombang  liberalisme di Indonesia yang masuk dari berbagai pintu salah satu pintu yang sukses adalah pintu isu kesetaraan gender. Isu ini berhasil menembus kebijakan negara. Alhasil, gender mainstreaming menjadi salah satu program penting dalam semua lini program yang dicanangkan pemerintah. Selain itu, pemerintah juga meratifikasi MDGs (Milenium Development Goals) yang salah satu indikatornya adalah pengarus-utamaan gender. Targetnya sangat telanjang: menyamakan peran laki-laki dan perempuan. 

Jika kita napak tilas tentang gerakan perempuan indonesia mulai terendus kepermukaan setelah terbit buku kompilasi surat-menyurat Kartini dengan teman-teman Belandanya (Ny. Abendanon, Stella, Ny. Ovink-Soer, dll) bertajuk Door Duisternis Tot Licht (1911). Buku ini menjadi populer ketika Armin Pane, sastrawan angkatan Balai Pustaka, menerjemahkannya dan memberinya judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini dianggap memberi inspirasi bagi kaum wanita di Indonesia untuk memperjuangkan harkat dan martabatnya agar sejajar dengan laki-laki. Buah dari penerbitan buku itu ialah sebuah kata “emansipasi wanita” yang menjadi kata-kata sangat familiar di negeri ini; dan Kartini pun didaulat sebagai salah seorang pahlawan wanita kebangga bangsa ini.

Dalam surat-suratnya kartini bercerita tentang kegetiran dan nestapanya menjadi anak Priyai Jawa (Bupati). Dia selalu di temptakan di posisi kedua setelah saudara laki-lakinya, perannya dianggap rendah, terlebih tidak senangnya setelah ayahnya berpoligami dan sekalipun akhirnya harus menerima kenyataan menjadi istri keempat Bupati Rembang.

Atas pengalaman yang dialaminya itu, Kartini sampai pada kesimpulan bahwa wanita Indonesia harus bergerak dan bangkit melawan penindasan ini. Untuk itu, “Kartini bercita-cita memberi bekal pendidikan kepada anak-anak perempuan, terutama budi pekerti, agar mereka menjadi ibu yang berbudi luhur, yang dapat berdiri sendiri mencari nafkah sehingga mereka tidak perlu kawin kalau mereka tidak mau.”

Pemikiran-pemikiran femnisme kartini mulai terlihat walau pada akhirnya dia mencoba meninggalkan pemikiran-pemikiran tersebut. Kartini rupanya lebih senang menjadi wanita Jawa apa adanya. Ia menikah kemudian memiliki anak dan tidak bekerja, ini sangat bertolak belakang atas apa yang di cita-citakan kartini diawal tadi, bahkan pernikahan poligami yang sebelumnya sangat dimusuhi dan dianggapnya sangat “diskriminatif” terhadap wanita, akhirnya ia jalani. Keputusannya ini sangat disayangkan oleh teman-teman Belandanya, terutama Stella. Stella kecewa atas perubahan pikiran dalam diri Kartini. Sebagai seorang penganut feminisme yang sudah meradang, Stella betul-betul tidak dapat mengerti keputusan Kartini. Dalam suratnya yang dikirim J.H Abendanon dan istrinya yang menunjukan bahwa kartini baik-baik saja dan tidak merasa tertindas atas poligami dan menjadi istri keempat suaminya.

Yang paling berkesan adalah bahwa Kartini pernah menimba Ilmu kepada Kyai Sholeh Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya. Kemudian ketika berkunjung ke rumah Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Kyai Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Kyai Sholeh Darat. Banyak dialog dan diskusi antara Kyai Sholeh Darat dan Kartini yang salah satunya saat Kyiai Sholeh Darat memberi hadiah Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab (pegon). Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada Kartini pada saat dia menikah dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. Dan Kartini pun mengatakan : 
“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”
inilah dasar dari buku “Habis gelap terbitlah terang” bukan dari sekumpulan surat menyurat beliau yang ditafsirkan sebagai bibit dari gender equality di Jawa wabil khusus.

“Kawan-kawan yang baik dan budiman. Saya tahu betul-betul, bagaimana surat ini diharap-harapkan, surat saya yang pertama dari rumah saya yang baru. Alhamdulillah, di rumah itu dalam segala hal keadaan saya baik dan menyenangkan; di situ yang seorang dengan dan karena yang lain bahagia…” (Surat-Surat Kartini, hal. 348).

Jika kita cermati lagi apa yang menjadi tolok ukur awal surat-surat Kartini yang membuat dia terlihat feminis yaitu, dari awal Kartini bersekolah dan dengan siapa ia berkirim surat. Kartini bersekolah di sekolah Belanda karena ia seorang anak Bupati yang bisa menikmati sekolah bersama dengan anak-anak Belanda. Menjelang abad ke-20 saat Kartini bersekolah adalah saat ide-ide politik etis yang dipengaruhi kelompok liberal di Belanda tengah menjadi arus wacana utama di Hindia Belanda. Pada saat itu sedang kencang-kencangnya arus wacana politik etis, Karena sekolah di Belanda sudah tentu Kartini akan menyerap berbagai paham yang tengah berkembang di Barat. Salah satu yang tidak bisa di hindari adalah liberalisme. Pandangannya tentang kedudukan laki-laki dan perempuan pun hampir bisa dipastikan banyak terpengaruh pandangan-pandangan liberal yang diajarkan guru-guru Belandanya di sekolah. Dari sekolah Belanda ini pula Kartini bertemu dengan buku-buku dan surat kabar yang berhaluan Barat.

Adapun dari kerabat dekatnya yang mempengaruhi pemikiran feminis yang kuat ialah Stella Zeehandelar yang merupakan seorang fanatik feminis dibanding teman-teman yang lain. Stella merupakan turunan Yahudi-Belanda. Ia penganut sosialis yang sangat kuat dan aktivis feminis sejak masih di Belanda sampai bekerja di Indonesia. Awal mula pertemuannya dengan Kartini yaitu pada tahun 1899 melalui redaksi De Hollandse Leile, majalah wanita yang saat itu sangat populer. Teman-temannya yang lain pun rata-rata berpaham liberal seperti pada umumnya orang-orang yang datang dari Belanda pada abad ke-19 dan 20.

Paham feminis yang muncul dalam surat-surat Kartini hampir bisa dipastikan berasal dari dua sumber di atas: sekolah Belanda dan teman-teman Belandanya. Beruntung bahwa Kartini sesungguhnya tidak benar-benar menjadi feminis yang ekstrim: memusuhi laki-laki. Feminisme bagi Kartini hanya sebatas wacana yang bergolak dalam pikirannya. Selebihnya ia sampaikan itu dalam surat-suratnya. Kartini sendiri tidak pernah berniat sama sekali mempublikasikan pikiran-pikirannya itu, bahkan sampai ia meninggal tahun 1904 dalam usia 25 tahun dan beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya.

Justru pemikiran feminis ini di promosikan oleh salah satu Menteri Agama, Pengajaran, dan Kerajinan Hindia Belanda yaitu Mr. Jacques Henrij Abendanon sendiri, secara politis, adalah penganut aliran etis (red: liberal) di Belanda. Sangat wajar kalau ia kemudian mempromosikan ide-ide liberal seperti yang tercermin dalam surat-surat Kartini. Secara tidak langsung Abendanon ingin mengajarkan feminisme-liberal kepada masyarakat kala itu, namun meminjam tangan anak bangsa sendiri, Kartini. Bisa dipastikan wacana feminis yang menggotong Kartini adalah penunggang gelap dalam isu. Karena memang di Nusantara dari dulu tidak ada pertentangan gender equality. Laki-laki dan perempuan turun kesawah bersama-sama, laki-laki dan perempuan berlayar bersama.

Referensi :
– Sulastin Sutrisno – Surat-Surat Kartini, (Jakarta 1985 : Djambatan, cetakan xvii)
– Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam, (Solo 2013 : Aqwam)
– Armijn Pane, Habis Gelap Terbitlah Terang, (Jakarta 2008 : Balai Pustaka)
– Ilma Asharina – Peserta kelas literasi “Memaknai Indonesia”, https://jejakislam.net/menyelami-pemikiran-kartini-kartini-lebih-dekat-bag-1/

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021