Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Kesaksian Barat Terhadap Kemajuan Pemikiran Islam

16 Februari 2021 | Opinion

Berpikir adalah salah satu tiang agama Islam dan dasar dibangunnya peradaban Islam. Al-Quran al-Karim sebagai perwujudan jasad raya seluruhnya, telah memerintahkan umat Islam supaya memperhatikan kitab suci ini di banyak ayat-ayatnya

Kesaksian Barat Terhadap Kemajuan Pemikiran Islam

Berpikir adalah salah satu tiang agama Islam dan dasar dibangunnya peradaban Islam. Al-Quran al-Karim sebagai perwujudan jasad raya seluruhnya, telah memerintahkan umat Islam supaya memperhatikan kitab suci ini di banyak ayat-ayatnya. Akan tetapi, sungguh aneh apabila ada manusia kemudian mengingkari bahwa Islam dan peradabannya tidak mengajak dan menggunakan akal. Gampangnya Islam tidak menutup kemajuan wawasan seseorang melainkan membimbingnya.

Dari semua kemegahan ilmu pengetahuan dan jauhnya pemikiran melampaui zaman Islam mari kita lihat cuplikan singkat dari tokoh-tokoh Barat;

Et. Dient mengatakan, “Ibnu Rusyd, seorang  filosof muslim yang hidup di Andalusia (Spanyol)  (1120-1198 M). adalah ilmuwan yang paling berjasa mengembalikan kebebasan berpikir dan kita tidak boleh mencampur antara kebebasan berpikir pada abad pertengahan Eropa ketika memberikan syarh-syarh ini sangat kental dengan nuansa keislaman.

Kita dapat mengatakan bahwa aliran pemikiran yang muncul dari semangat ini, bagi Ibnu Rusyd merupakan dasar pemikiran logika modern, terlebih keberadaannya merupakan dasar-dasar kemaslahatan agama. Sigrid Hunke seorang pemikir dan penulis produktif dari Jerman ini menjelaskan, “Sesungguhnya perjalanan hebat dari karya pemikiran bangsa Arab, materi-materi hakekat dan ilmu-ilmu pengetahuan telah dibetulkan. Diurutkan dan dihidangkan dari tangan-tangan orang-orang Islam dalam bentuk-bentuk yang ideal. Namun formula tersebut, sekarang telah dibawa pergi bangsa eropa.

Dahulu, di pusat-pusat ilmu masyarakat Eropa, di sana tidak dijumpai seorang pun ilmuan kecuali tangannya memegangi harta karun produksi Arab ini. Mereka berupaya mengambil apa mereka butuhkan dan meminumnya seperti orang yang sedang kehausan meminum air tawar. Disana tidak ada satu buku pun dari sekian banyak buku yang beredar pada waktu itu kecuali lembaran-lembarannya banyak bertebaran di wilayah Ray sebagai lumbung dari khazanah keilmuan Arab.

Sigrid Hunke menambahkan, “Sesungguhnya lompatan cepat yang menakjubkan dalam tangga peradaban yang dilompati anak-anak padang gurun, padahal sebelumnya tidak ada sama sekali, tentu pantas dijadikan standar mengambil pelajaran dalam sejarah pepemikiran manusia. Kemenangan mereka di bidang keilmuan yang ilmiah akhirnya mengantarkan mereka menjadi pioner tunggal yang elegan bagi masyarakat-masyarakat berperadaban, terlepas bentuk peradabannya dan menjadikan mereka terlalu agung. Untuk dibandingkan dengan selainnya. Semuanya itu mengundang kita untuk duduk sejenak merenung : bagaimana mungkin itu bisa terjadi.”

Charles Emmanuel Sedillot seorang dokter ahli bedah Prancis yang merupakan cucuk langsung dari sejarawan Louise Pierre Eugene Sedillot ini mengatakan, “Kaum Muslimin belum pernah menyaksikan apa-apa yang disaksikan apa-apa yang disaksikan pada masyarakat Eropa, mulai berkepala batu, berpikiran kacau dan berperangai buruk sampai memusuhi ilmu dan memerangi para ilmuwan.”

Di Eropa, sejarah telah menyebutkan bahwa 32.000 penduduk ilmuwan dibakar hidup-hidup. Tidak dipersilisihkan bahwa pemandangan kekerasan yang brutal memerangi kebebasan berpikir semacam ini tidak akan dijumpai dalam sejarah Islam. Bahkan kaum Muslimin pada masa-masa kegelapan Eropa merupakan satu-satunya pemburu ilmu. Di Islam tidak akan terjadi agama terpisah berdiri sendiri sebagai penguasa dan membiarkan para penentangnya berkeliaran dalam akidah. Sungguh unsur kebebasan berpikir ada dalam Islam.”

Carra De Voux seorang orientalis ulung yang sempat  berkelana ke timur ini menyebutkan, “Sesungguhnya Arab derajatnya naik sebab menghidupkan riset dan pola ilmiah hingga mencapai taraf ideal. Pada waktu itu, penganut agama Nasrani (Barat dan Eropa) sedang gencar-gencarnya berjuang mempertaruhkan antara hidup dan mati untuk lari dari cengkraman perbudakan dan penindasan ‘hukum rimba’rimba’. Gerakan mereka mencapai puncaknya pada abad 9 dan 10 Masehi. Dari abad 12 dan seterusnya, daerah Marrakisy(Maroko) dan Timur tengah adalah pusat tujuan orang-orang Barat menimba ilmu.

Pada masa ini anak-anak Eropa berbondong-bondong menerjemahkan literatur Arab, seperti Arab menerjemahkan literatur Yunani.

Penulis Prancis Maurice Bucaille dalam bukunya “Taurat Injil Al-Quran dan Sains Modern” menjelaskan “Kita mengetahui bahwa Islam melihat ilmu pengetahuan dan Agama seperti dua sisi mata uang logam. Mengkaji Ilmu pengetahuan merupakan bagian dari petunjuk-petunjuk agama Islam sejak pertama kali turun. Mempraktikan konsep ini akan membawa manusia ke arah kemajuan keilmuan yang mengagumkan, seperti masa saat peradaban Islam berada pada puncak kejayaannnya sebagaimana yang dilakukan Barat sebelum kebangkitannya.”

Sedang mengenai pengaruh akidah tauhid Islam dipemikiran masyarakat India dan agama mereka. Duta besar India untuk Mesir, Panay Karr mengatakan “Sudah jelas dan menjadi ketetapan bersama bahwa pengaruh Islam di masyarakat Hindu sangat dalam pada masa (Islam) ini. Sesungguhnya pemikiran beribadah kepada Allah dalam Hindu berhutang kepada Islam. Karena dasar pemikiran dan agama pada masa ini, meskipun pemeluk Hindu mengidentifikasikan Tuhan dengan banyak nama, namun mereka telah diseru supaya beribadah kepada Allah. Kaum muslimin telah menegaskan bahwa Tuhan itu Esa, Dia yang berhak disembah.

Pengaruh ini tampak jelas di agama-agama dan propagandan yang terlihat di India pada masa kejayaan Islam, seperti munculnya agama Bhagti dan gerakan radikal lainnya. Setelah pakar sejarah Prancis Sedillot memaparkan kelebihan sisi-sisi peradaban Islam, akhirnya dia memberi kesimpulan, “Demikianlah, pengaruh kaum muslimin begitu terlihat sangat jelas di semua cabang peradaban Eropa modern.

Selanjutnya, ini merupakan perkataan dan penjelasan orang-orang moderat dari kaum orientalis dan para pakar sejarah Barat atas keutamaan dan pengaruh peradaban Islam. Dalam ceramahnya pangeran Charles putra mahkota Inggris di balai pusat Oxford ketika memberikan sambutan untuk kajian keislaman dengan judul ‘Islam dan Barat’, dia mengatakan : “Apabila disana ada kadar besar dari pemahaman buruk di Barat tentang tabiat dunia Islam, maka di sana juga ada kadar yang sama dari ketidaktahuan keutamaan yang dihutang kebudayaan dan peradaban kita(Eropa) dari Islam. Bangsa Spanyol di masa Islam, bukan saja berperan mengumpulkan dan menjaga kandungan pemikiran peradaban Yunani dan Romawi, namun ia telah menafsirkan peradaban tersebut dan memperluasnya. Ia sudah banyak memberikan saham-saham penting di sisi peradaban tersebut dalam banyak bidang kajian kemanusiaan di berbagai macam ilmu pengetahuan, astronomi, matematika, al-jabar, hukum-hukum, sejarah, kedokteran, ilmu tentang obat-obatan(farmologi), optic, pertaniah dan teknik bangunan. Sehingga pada waktu itu, abad 10 Masehi, Cordova merupakan kota paling berperadaban di antara kota-kota di Eropa.”.

Pada dasarnya kelebihan-kelebihan yang dibanggakan masyarakat Eropa modern datang dari Spanyol sewaktu diperintah oleh Islam. Sesungguhnya diplomasi, perdagangan bebas, batasan-batasan terbuka, metode-metode riset akademik, ilmu manusia, etika berperilaku, pengembangsn model pakaian, transpalasi medis dan rumah sakit seluruhnya datang dari kota Cordova yang agung itu.

Diatas semua itu, sesungguhnya Islam telah mengajarkan kepada kita tara cara saling memahami dan tata cara hidup di alam, sesuatu yang sudah hilang di agama Nasrani karena mereka berupaya untuk menghilangkannya. Padahal dalam Islam, secara esensi , Islam senantiasa menjaganya dalam sudut pandang yang saling melengkapi dan sempurna bagi alam semesta.

Sesungguhnya Islam menolak pemisahan antara manusia dengan tabiat, agama dengan ilmu pengetahuan, dan akal dengan materi. Sesungguhnya perasaan manusia yang tertuju kepada ke-Esaan Tuhan (tauhid), pesan-pesan menuju tabiat suci dan menjiwai alam sekitar kita ini adalah sesuatu yang sangat penting, dan kita dapat mempelajarinya kembali dari Islam.

Peradaban Islam memiliki ciri khusus, yaitu bersifat komperhensif dan berkembang, memiliki nilai beda yang berupaya mudah dipraktikkan, bersifat terbuka disamping terbukti memberikan saham besar bentuk peradaban umat manusia. Jika peradaban Islam memiliki dasar seperti ini, bagaimana dengan dasar peradaban Barat yang modern!?
Barangkali sudah tiba waktunya bagi kita untuk meninjau ulang hakekat-hakekat itu, dengan harapan kita sebagai kaum muslimin dapat bangkit kembali.

Referensi : Prof. DR. Raghib as-Sirjani – Sumbangsih Peradaban Islam untuk Dunia

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021