Kesalahan Berpikir Tentang Fardhu Kifayah

By : Rulian Haryadi | 22 July 2020

   Dalam perjalanannya Islam telah menorehkan berbagai macam induk pengetahuan dan bisa di kembangkan sampai hari ini. Mulai dari ditemukannya kodifikasi (Sanad Hadits) oleh para ulama ahlul hadits, dibuatnya angka nol oleh al-Khawarizmi, basic penerbangan oleh Abbas ibn Firnas, sampai ilmu sosiologi pertama yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun dalam “mukadimah al-I’bar” semua itu menjadi salah satu tonggak pancaraan cahaya bagi semesta. Bagaimana indahnya anda bisa bayangkan jika kita umat Islam adalah pusat kemajuan dunia dan simbol intelektual yang indah dan orang pasti akan tertegun mendengar al-Quran karena para pemuka dunia merumuskan keilmuannya bersandar pada al-Quran.

   Kita tidak akan panjang lebar membicarakan kenapa umat Islam jauh tertinggal di tiga abad terakhir, saya rasa anda bisa langsung rujuk pada para penulis seperti Syakib Arslan atau Dr. Majid al-Kilani. Namun yang ingin kita bahas adalah miss konsepsi umat tentang memahami “fardhu kifayah” sebagai perintah yang dianjurkan namun di abaikan karena menganggap telah dilakukan oleh orang kain.

   Fardhu kifayah sendiri adalah suatu trem dalam Islam yang berarti “kewajiban yang harus dipenuhi dalam konteks hajat umat manusia namun bisa tergugurkan jikalau ada dari kaum Muslimin yang telah melakukannya.” Nah, term ini sudah sangat bagus namun sering para mubaligh hanya membatasi makna dari fardhu kifayah hanya dalam masalah ibadah mahdhah saja ada pun masalah ghairul mahdhah hanya di cuplikan seperti ilmu kedokteran. Sebagai contoh, para mubaligh mayoritas mengambil contoh tentang hukum shalat jenazah sebagai representasi dari hukum fardhu kifayah.

   Cara pandang umat menjadi tumpul ditambah hembusan dari kaum sekularis yang mengatakan bahwa yang penting hatinya baik tidak mengganggu orang lain. Sekarang coba anda test di google ketik “fardhu kifayah adalah”, pasti yang akan muncul adalah hukum shalat jenazah.

   Sikap salah paham dari fardhu kifayah dan hembusan sekularisme ini memunculkan efek yang paling pertama terserang pada awal abad modern ini adalah hukum jihad. Ia harus tergadaikan sampai-sampai Palestina menjadi korban atas ke salah paham ini. Para ulama datang silih berganti untuk mengembalikan makna jihad adalah fardhu ain dalam kondisi ini, alhamdulillah kita bisa rasakan Barat akhirnya mempunyai perhitungan pada aktivitas gerakan jihad yang mengancam pendudukan di negeri Muslim.

   Kita coba lihat penjelasan Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitab “Fiqih Islam wa adillatuhu” menjelaskan bahwa, “fardlu kifayah ialah perbuatan yang dituntut terwujudnya tanpa memandang siapa yang melakukan. Tuntutan ini ditujukan kepada sekelompok mukallaf (orang dewasa yang memiliki kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum). Dengan redaksi lain dapat dikemukakan bahwa fardhu kifayah yakni perbuatan yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala harus terlaksana dalam sebuah komunitas tanpa memandang apakah perbuatan itu dilakukan oleh semua umat Islam atau sebagian dari mereka. Dengan demikian jika perbuatan yang diwajibkan ini telah terlaksana sekalipun hanya dilakukan oleh sebagian dari sekelompok umat Islam bahkan jika mungkin hanya dilakukan oleh seorang saja di sebuah komunitas, maka berarti perbuatan itu telah terwujud, sehingga  tidak lagi dituntut kepada sebagian umat Islam yang tidak ikut melaksanakan untuk melaksanakan perbuatan yang serupa.”

   Konklusinya adalah kita telah diwajibkan minimal dalam lingkup komunitas bahkan yang terkecil seperti desa harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mampu menopang hajat manusia di tempat tersebut dan ini kewajiban dari Islam itu sendiri. Ayo coba kita renungkan dalam lingkungan kita saja sudah ada berapa orang yang menghafal Quran, mahir bahasa arab, ahli matematika, ahli tehnik elektro, tehnik sipil, perkebunan, dokter, dan lain-lain? Dan kalau masing-masing sudah ada yang selanjutnya adalah sudah berepa orang yang telah mengajarkan ilmunya dan bersodaqah dengan ilmunya untuk lingkungan tersebut?

   Ini adalah konsep Islam yang memberi solusi sederhana namun menjawab kerumitan hari ini. Jika contoh-contoh para ahli diatas tidak ada dalam lingkungan anda maka satu desa wajib berinfak untuk menyekolahkan salah satu putra di desa tersebut atau jika lingkungan tersebut tidak ada yang menyambut seruan Islam tentang hukum fardhu kifayah maka ia sendiri yang wajib mencari ilmu dengan harta dan jiwanya dan kembali ke lingkungannya dengan mengajarkan ilmu.

   Hal ini pernah tercermin dalam sebuah lingkungan Islami di Sumatera Barat yang berinfak fii sabilillah untuk membekali seorang pemuda yang nanti dikenal dengan menjadi bapak bangsa yaitu Mohammad Hatta. Ia adalah contoh dari sikap lingkungan Islam. Ini terlepas perdebatan ilmu Hatta tentang ide beliau yang mayoritas terkonsep dari Barat dan sekuler, namun yang bisa kita petik adalah lingkungan Islami yang bisa menghantarkan seorang pemuda Muslim menuntut ilmu.

   Dengan frame berpikir yang benar dan term fardhu kifayah yang tepat kita bisa mengambil kesimpulan bahwa zakat, infak, shadaqah yang selalu di gelontorkan untuk bagi-bagi sembako dan acara khitan masal terlalu di gencarkan sementara menciptakan ahli ekonomi, ahli pangan, dan menciptakan dokter-dokter di kesampingkan yang padahal dengan adanya SDM ini bisa membuat perubuhan dari yang tadinya mengemis menjadi manusia yang mempunyai intelektual dan daya saing dengan komunitas diluar Islam.

Referensi :
– Dr. Jimly Asshiddiqie S.H, Politik Hukum Islam Konsep Teori dan Praktik di Indonesia, (Bandung: PERSIS Press 2019)
– Prof. Dr. Wahbah Zuhaili, Fiqih Islam wa Adillatuhu, (Jakarta: Gema Insani Press 2010)

Opinion

History

Shop

Physical Book

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :