Ketika Muslimah Diganggu Memicu Perang Besar Turki – History

Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE


Beli Buku






Ketika Muslimah Diganggu Memicu Perang Besar Turki

By : Rulian Haryadi | 27 Oktober 2021

Kalian pernah mendengar kisah seorang Muslimah yang di ganggu kehormatannya dizaman Rasulullah ﷺ oleh seorang Yahudi kemudian memicu pengusiran Yahudi Bani Qainuqa oleh Rasulullah ﷺ. Atau kalian pernah mendengar kisah seorang Muslimah yang berteriak “wahai Mu’tashimaa..” sampai kabar pelecehan terhadap Muslimah itu terdengar oleh Khalifah Abu Ishaq bin Harun yang lebih dikenal dengan nama al-Mu’tshim Billah


Baca

Ketika Muslimah Diganggu Memicu Perang Besar Turki

Kalian pernah mendengar kisah seorang Muslimah yang di ganggu kehormatannya dizaman Rasulullah ﷺ oleh seorang Yahudi kemudian memicu pengusiran Yahudi Bani Qainuqa oleh Rasulullah ﷺ. Atau kalian pernah mendengar kisah seorang Muslimah yang berteriak “wahai Mu’tashimaa..” sampai kabar pelecehan terhadap Muslimah itu terdengar oleh Khalifah Abu Ishaq bin Harun yang lebih dikenal dengan nama al-Mu’tshim Billah, lalu sang Khalifah mengirim pasukan dan menggempur benteng Romawi di sebelah barat negeri Syam. Namun ada satu kisah yang luput dari kita dengan kisah serupa di era terakhir Khilafah Turki Utsmani yaitu kisah tentang Sütçü īmam (Syucu Imam) yang berhasil menembak pria yang mengganggu Muslimah seusai dari pemandian dan kemudian aksinya memicu perang sampai pengusiran tantara legion Prancis.

Sebelum memulai kisahnya ada kalanya kita melihat latar belakang politik pada saat itu agar mudah memahami mengapa Legiun Prancis bisa datang dan peristiwa ini bisa terjadi. Pertama-tama kita lihat Turki Utsmani yang dihadapkan oleh kekalahan telak pada perang dunia ke-I dan Turki menandatangi genjatan senjata Mudros pada 30 Oktober 1918. Genjatan senjata ini mengakibatkan banyak wilayah Turki Utsmani diduduki oleh sekutu seperti Prancis, Inggris, dan Italia. Marash sebuah wilayah di Turki yang dihuni oleh para legiun Prancis. Prancis datang dengan dalih menormalisasi bangsa Armenia asli agar Muslimin Turki tidak seenaknya menduduki wilayahnya setelah perang dunia. Tapi yang terjadi malah hal-hal yang tidak mengenakkan bagi Muslimin terus-menerus dialami Muslimin. Semua itu dilakukan dengan alasan bahwa orang-orang Armenia yang di-alokasikan oleh Prancis akibat Genosida oleh pemerintah Turki Utsmani.

Pada 31 Oktober, 3 orang Muslimah berjalan seperti biasa seusai dari pemandian dengan mengenakan “Yashmak” (Hijab dan Niqab) tiba-tiba dibentak oleh para Legiun Prancis dengan mengatakan “Keluar dari sini karena ini bukan tanah Turki lagi, jangan kenakan hijab di wilayah koloni Prancis!” Hal tersebut disaksikan oleh seorang Muslim yang kebetulan lewat bernama Akmakçı Said. Said spontan merespon dengan makian kepada Legiun Prancis karena mereka mulai mencoba menarik yashmak. Akmakçı Said memakinya dengan kata “wahai anak haram jangan ganggu saudari perempuanku.” Tentu saja para Legiun itu dengan sigap menembak Akmakçı Said yang tanpa senjata.

Aksi penembakan terhadap Akmakçı Said belum lama usai datanglah seorang pemuda bernama Sütçü Imam dengan menenteng senjata dan menembak mati para Legiun Prancis serta menyelamatkan tiga Muslimah tersebut. Peristiwa ini dianggap oleh para sejarawan baik Barat maupun Islam sebagai awal dimulainya “Perang Marash” yang berujung pengusiran tentara Legiun Prancis. Bahkan aksi setelahnya mengundang simpati Muslimin untuk berjihad melawan sekutu dengan kemenangan atas izin Allah dibebaskannya kota Kahramanmaraş.

Namun kisah Sütçü Imam belum selesai seusi pertistiwa penembakan Legiun Prancis pada 31 Oktober 1919. Keesokan harinya diadakan upacara pemakaman bagi mayat yang ditembak oleh Sütçü, dan setelah pemakaman itu, Prancis sepakat untuk memburu Sütçü Imam hidup atau mati.

Sütçü Imam adalah seorang aktivis dan pedagang susu yang kemudian ia bergabung dalam satuan “harokah Kapten Muharrem Beyazıt” yang mengatur siasat untuk membebaskan wilayah Turki yang diduduki oleh sekutu pasca kekalahan perang dunia.

Sütçü kemudian menjadi buronan nomor satu, segala aktivitas mengenai dirinya diselidiki sampai sepupu Sütçü yang bernama Kireççioğlu Kadir ditangkap dan di interogasi. Selama proses interogasi Kireççioğlu Kadir tidak memberi tahu keberadaan Sütçü bahkan ia sampai di potong kuping dan hidungnya hingga kemudian tewas untuk dimintai keterangan mengenai sepupunya.

Pergerakan pembebasan Kahramanmaraş terus berlangsung dan mendapat simpati besar Muslimin untuk berjihad. Pertempuran besar akhirnya terjadi pada 21 Januari 1920 dengan estimasi kekuatan 3000 pasukan Prancis dan 2000 pasukan Legiun Prancis-Armenia. Sementara Muslimin hanya berjumlah 2000-2500 itu pun dilebur oleh pasukan Kuva-yi Milliye (pasukan acak yang membela gerakan Nasionalis Turki) dan pasukannya Mustafa Kemal.

Pertempuran Marash ini berhasil membuat kocar-kacir dan membuat para Jendral sekutu berselisih sampai ia mendatangi para pejabat Turki Utsmani agar merespon apa yang terjadi di Kahramanmaraş. Sekutu mendesak bahwa perlawanan yang di kobarkan orang-orang Turki akan merembet ke daerah lain, namun pemerintah Turki Utsmani tidak berdaya mengkomunikasikan peredaman gerakan yang anti sekutu.

Setelah peperangan dahsyat dengan sekutu Sütçü Imam pun akhirnya menjadi bendahara kota tersebut sampai kematiannya pada 25 November 1922 seusai parade kemenangan.

Meski pemerintah Turki Utsmani tidak mampu secara efektif mengkosolidasi para gerakan nasionalis terutama besutan Musthafa Kemal namun peran Muslimin di era terakhir Khilafah Turki Utsmani ditutup oleh kisah Heroik Sütçü Imam yang kemudian pemerintah Republik Turki mendirikan Universitas Sütçü Imam di Kahramanmaraş untuk mengenang peristiwa besar oleh seorang Muslim yang berani nahi munkar atas pelecehan terhadap 3 orang Muslimah. Necmettin Erbakan guru politik Presiden Erdoghan menyetujui bahwa perlunya ada pengukuhan sejarah seperti kisah Sütçü Imam.

Referensi :
– Eugene Rogan, The Fall of The Khilafah, (Jakarta, Indonesia: Serambi Ilmu Semesta 2018)
– Stenley Kerr, The Lion of Marash; personal experiences with American Near East Relief, (New York: SUNY Press 1973)
– Steven A. Cook, Ruling but not Governing: The Military and Political Development in Egypt, Algeria, and Turkey, (Baltimore, Maryland: JHUP 2007)


Kembali

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr


Beli Sekarang

Populer

Mahatma Gandhi Yang Menolak Negara Islam

By : Rulian Haryadi

Polemik Sejarah Penghalalan Madinah

By : Rulian Haryadi

Al-Fatih dan Datangnya Penjajahan di Nusantara

By : Rulian Haryadi

Pergulatan Saddam Hussein dan Oposisi

By : Rulian Haryadi

Mahatma Gandhi Yang Menolak Negara Islam

By : Rulian Haryadi

Polemik Sejarah Penghalalan Madinah

By : Rulian Haryadi

Al-Fatih dan Datangnya Penjajahan di Nusantara

By : Rulian Haryadi

Pergulatan Saddam Hussein dan Oposisi

By : Rulian Haryadi

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :

© Copyright Boombox Zine 2021


Facebook


Instagram


Youtube