Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Kisah Tawanan Taliban Yang Berujung Iman

6 Mei 2021 | History

Pejuang Taliban yang sejak 2001 dirampas hak negara berdaulat oleh Amerika atas tuduhan menyembunyikan Osama bin Laden dan mendukung al-Qaeda. Taliban telah membayar mahal tamu Arab (bin Laden) dengan mempertaruhkan kedaulatan negaranya

Kisah Tawanan Taliban Yang Berujung Iman

Pejuang Taliban yang sejak 2001 dirampas hak negara berdaulat oleh Amerika atas tuduhan menyembunyikan Osama bin Laden dan mendukung al-Qaeda. Taliban telah membayar mahal tamu Arab (bin Laden) dengan mempertaruhkan kedaulatan negaranya, sungguh cerminan Muslim yang jarang ditemui hari-hari ini. Pada lain dimensi terutama pemberitaan Taliban acap kali mendapat stigma buruk sebagai Terrorist State sampai pada perundingan Dhoha, Qatar 2020 status itu baru dihilangkan.

Pemberitaan yang buruk oleh media Barat sangat berefek pad acara pandang dunia terhadap Islam terutama yang ingin membela kedaulatan negara Islam dalam kasus ini Imarah Islam Afghanistan (Taliban). Tapi coba kita sejenak dengar langsung pengakuan dari orang yang pernah melihat langsung Taliban dan di sandera oleh Taliban. Karena terstimoni yang adil dan semua juga sepakat adalah testimoni yang langsung terlibat dan merasakannya.

Yang pertama, kita bisa melihat tanggapan dari Yvonne Ridley seorang jurnalis media Sun Inggris. Yvonne adalah wanita kelahiran 1958 yang sudah menjadi jurnalis puluhan tahun akhirnya terbang ke Pakistan dan masuk keperbatasan Afghanistan dengan cara illegal. Dari sanalah ia tertangkap oleh pasukan pejuang Taliban.

Meski tidak lama Yvonne ditawan oleh Taliban pada lima hari pertama dirinya sangat ketakutan dan enggan membincangkan apapun terkhusus agama. Pandangannya sangat diwarnai oleh media Barat atas penggambaran Taliban adalah monster kemanusian, disamping pola pandangnya masih Barat Yvonne juga takut jika ia salah ucap bisa mengakibatkan nyawanya hilang. Namun dalam situasi ketakutan itu justru Yvonne heran dengan perlakuan Taliban yang menempatkan wanita dalam tempat khusus, memberi santunan, dan ada seorang ulama Taliban yang mendatanginya untuk menawarkan ia masuk Islam.

Atas titah dari Amir tertinggi Mullah Omar Yvonne dibebaskan tanpa cela atas nama kemanusiaan. Saat ia berada dalam tawanan ia sempat berjanji pada seorang ulama bahwa dirinya sesampainya di London akan mempelajari Islam. Benar saja sikap Yvonne berubah total sejak berinteraksi langsung dengan Taliban, ia mulai menemui Zaki Badawi seorang ulama asal Mesir yang berkiprah di Inggris dan menyatakan keimanannya untuk Islam. Sontak teman-teman sekantornya langsung meruncingkan pandangan terhadap Yvonne. Yvonne menyatakan tentang sikap dari lingkungan sekitarnya dengan mangatakan, “Anda akan mengira saya telah membuat perjanjian dengan iblis atau ingin menjadi penyihir agung di Ku Klux Klan.”

Yang kedua, kisah ini datang dari seorang guru yang bernama Timothy Weeks. Weeks memang seorang yang gemar akan petualangan, sejak lulus dari pasca sarja di Universitas Cambridge dalam bidang Pendidikan. Dirinya pernah juga mengajar Bahasa Inggris di Thailand, Palestina, dan Timor Leste. Sampai pada suatu hari ia menemukan iklan untuk menjadi guru di Afghanistan.

Pada 2016 Weeks terbang menuju UAE dan melanjutkan penerbangannya menuju Kabul, Afghanistan. Sesampainya menginjakkan kaki di Afghanistan ia ditarik oleh intelijen Taliban dan dibawa selama 33 hari. Weeks berserta temannya Kevin di tawan akhirnya dalam camp. Selama setahun weeks rencananya akan dibuat untuk tukar-tambah tawanan atau dimintai tebusan, namun 2017 Taliban terus dalam gempuran. Dalam tahanan kombatan Taliban Weeks benar-benar di perlakukan sebagai pembantu yang mengurusi pakaian kotor.

Setelah setahun berjalan Weeks dan Kevin dialihkan ke camp yang lain dan disana ia baru merasakan anggur dan delima yang disajikan oleh Taliban, sebelumnya ia hanya memakan terong dan nasi. Setelah mendapat tempat yang baik Weeks ingin sekali membaca buku dan buku yang bisa diakses rata-rata berbahasa urdu dan dalam situasi ini Weeks lebih akrab dengan al-Quran. Disana Weeks mulai diperlakukan istimewa dan diberi sepeda untuk berkeliling.

“Saya harus menunjukkan rasa syukur saya (kepada Tuhan). Saya perlu melakukan sesuatu,” kata Weeks mengenang saat mengatakan pada dirinya sendiri. Dia mulai berpikir untuk menerima Islam dalam tahanan. Weeks pun menjelaskan mengapa ia akhirnya memilih Islam. Bersyukur atas semua peristiwa itu ia mengatakan, “Ya, saya bisa saja mengucap syukur dengan tetap menjadi Kristen. Tapi salah satu hal yang benar-benar membuat saya tercengang adalah iman Taliban. Mereka memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan dan tak tergoyahkan yang tidak kita lihat di dunia barat.”

Kisah yang ketiga, mungkin sangat menakjubkan namun jarang dikuak lebih detail. Seorang intel bernama Bowe Bergdahl dari pasuka Eclipse Group besutan Duane R. (Dewey) Clarridge mantan senior CIA Amerika. Laporan yang terakhir diberikan oleh Bowe ialah tercatat pada tahun 2010 selepas itu kabarnya ia telah ditawan oleh pasukan Haqqani (pasukan Taliban). Dalam dokumen rahasia yang disiarkan Fox News yang diutarakan oleh James Rosen mengataan bahwa, “US Army Sgt. Bowe Bergdahl selama ditawan oleh Taliban, telah beralih menjadi Muslim, ia mengucapkan sacara terbuka di depan milisi Taliban.”

Clarridge selaku atasan langsung Bowe mengatakan pada Fox News pada akhir Agustus 2010 bahwa Bowe telah diculik oleh jaringan Haqqani. Pada akhir Juni 2010, Bergdahl dilaporkan dengan senang hati bermain sepak bola dengan para pejuang Haqqani, mengambil bagian dalam pematihan menembak dengan AK-47 dan diizinkan untuk membawa senjata api sendiri, sering tertawa  dan sering mengucapkan Assalamu Alaikum .”

Laporan itu menyebutkan Bergdahl telah masuk Islam dan menggambarkan dirinya sebagai mujahid. Bergdahl menikmati  kebebasan, dan terlibat dalam latihan dengan mujahidin lokal, menembak AK47s. Bergdahl bahkan diizinkan untuk membawa senjata .

Dari penuturan kisah diatas bisa ditarik dalam beberapa poin penting pertama, dakwah dalam kondisi apapun harus terus berlangsung, kedua akhlak mujahidin sangat berbeda dari yang media gambarkan, ketiga yang terpenting ialah keteguhan iman para pasukan Taliban mampu meluluhkan bahkan merontokkan pandangan Barat terhadap Islam.

Referensi:
Anton Kurnia, Dari Penjara Taliban Menuju Iman, (Bandung 2007: Mizan)
– Nadila Fitria, liputan alngsung 08 Jun 2017, https://news.detik.com/berita/d-3524806/kisah-jurnalis-inggris-yang-jadi-muslimah-pasca-ditahan-taliban
Saad Hassan-28 Jan 2021, https://www.trtworld.com/magazine/how-an-australian-held-hostage-by-the-taliban-converted-to-islam-43681

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021