Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Loss of Adab, Naquib Al-Attas

10 Juni 2021 | Opinion

Loss of Adab! Kata ini menjadi sangat familiar didengar ditelinga para akademisi yang gemar dengan dunia pemikiran dan pendidikan Islam. Kerusakan yang kita lihat hari ini dengan mudah menyimpulkan bahwa hilangnya adab dalam segala aspek

Loss of Adab, Naquib Al-Attas

Loss of Adab! Kata ini menjadi sangat familiar didengar ditelinga para akademisi yang gemar dengan dunia pemikiran dan pendidikan Islam. Kerusakan yang kita lihat hari ini dengan mudah menyimpulkan bahwa hilangnya adab dalam segala aspek menjadikan semua terasa rendah dan tak bernilai. Zainal Abidin Zetta atau yang disebut Diding Boneng saja mengatakan bahwa, “Komedi sekarang sudah tidak ada adab, semua dipaksa untuk menjadi bahan candaan yang melanggar pakem (Adab).” Seorang ahli teater dan komedi senior saja mengakui bahwa hari ini sudah kehilangan adab.

Sebelum masuk kedalam pentingnya adab ada yang harus diluruskan terlebih dahulu yaitu masalah cara pandang Worldview. Menurut Prof. Alparslan, “Cara pandang, sikap dan etika seorang Muslim dikendalikan oleh pemikirannya dalam memahami realitas di alam ini, baik realitas fisik maupun metafisik. Seorang Muslim yang memiliki visi keakhiratan memiliki perspektif berbeda dengan orang yang bervisi keduniawian semata dalam melihat setiap realitas dalam kehidupan.” Tanpa merubah cara pandang seseorang akan sulit untuk melihat menemukan kesinambungan antara fisik dan metafisik.

Adab adalah cakupan suatu pengenalan dan pengakuan mengenai tempat secara benar dan tepat, dalam pencapaian kualitas, sifat-sifat, dan perilaku yang baik untuk mendisiplinkan pikiran dan jiwa.

Adab mensyaratkan ilmu pengetahuan dan metode mengetahui yang benar agar mampu menjaga mansuia dari kesalahan. Ilmunya adalah yang dapat mendorong lahirnya perilaku mulia ini adalh kebijaksanaan (hikmah) yang menghasilkan keadilan pada diri individu dan masyarakat serta Negara.

Menurut Syed penggunaan Ta‟dib untuk pendidikan ini timbul karena dengan berbekal pemahaman yang utuh, komprehensif, tentang pendidikan. Terlebih pemahaman pendidikan yang selaras dengan Islam, dari sana segala hal yang terkait tentang pendidikan, baik Tujuan, strategi, metode dan unsur- unsur pendidikan lainnya mencerminkan pandangan pendidikan yang lebih pas dan sesuai seharusnya pendidikan.

Karena jiwa ilmuan terselimuti oleh adab dan konsep- konsep dasar Islam, maka dalam tradisi ilmu pengetahuan Islam tidak akan ditemuakan penyalahgunaan ilmu untuk tujuan pragmatis, materialis atau tujuan-tujuan lain untuk memuaskan nafsu manusia. Sebab, dalam tradisi Islam, semua ilmu baik ilmu syari‟at atau ilmu- ilmu alam dipelajari dalam rangka pengabdian yang tinggi kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan meraih kebahagian sejati.

Perang dunia ke II adalah puncak dari hilangnya adab, saat itu ilmu pengetahuan sedang digalakkan dalam berbagai aspek namun karena tidak adanya adab lahirlah ilmuwan yang membuat nuklir untuk kepentingan hawa nafsu, para dokter mencoba eksperimen dari tubuh para tawanan perang, manusia di tindas karena lemah, dan tindak-tanduk yang tidak manusiawi lainnya.

Akhmad Hasan Saleh seorang dosen IAIN Kediri menyimpulkan pemikiran Syed Naquib Al-Attas dengan mengatakan, Realitas hanya dibatasi pada realitas empiris saja. Ini yang menyebab manusia tidak merasa “diawasi” oleh TuhanNya, tidak merasa bahwa Tuhan itu ada. Realitas yang non- empiris tidak dianggap. Inilah cara pandang realitas yang salah, dan inilah yang menyebabkan loss of adab ini terjadi. Solusinya adalah ada pada cara pandang (wordview). Al Attas menyatakan bahwa cara pandang, sikap dan etika seorang Muslim dikendalikan oleh pemikirannya dalam memahami realitas di alam ini, baik realitas fisik maupun metafisik. Seorang Muslim yang memiliki visi keakhiratan memiliki perspektif berbeda dengan orang yang bervisi keduniawian semata dalam melihat setiap realitas dalam kehidupan. Dengan cara pandang yang mengedepankan keakhiratan menjadikan manusia lebih beradab. Dan adab didapatkan melalui pendidikan yang benar dan berkurikulum akhirat bukan hanya dunia.

Konsep ta‟dīb sebagai konsep pendidikan Islam yang digagas Syed Muhammad Naquib Al-Attas merupakan salah satu perwujudan dalam proyek Islamisasi Ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu yang diproyekkan al-Attas adalah pengislaman paradigma ilmu-ilmu yang dianggap sekuler. Proyek ini hanya bisa dilakukan oleh ilmuan- ilmuan Muslim yang berpandangan hidup Islam dan memiliki dasar-dasar keilmuan Islam yang kuat. Sebab, yang diislamkan dalam proyek ini adalah basis filosofis, yang merupakan elemen dasar sebuah ilmu, bukan produk ilmu. Dengan cara mengeluarkan penafsiran ilmu dari ideologi, makna dan ungkapan sekuler. Konsep ta‟dīb al-Attas dalam rangka untuk mencapai tujuan tersebut.

Maka tak heran pula seorang jurnalis senior dan pemenang Putlizer Amerika Chris Hadges mengatakan, “Kita sekarang ini hidup dimana dokter merusak kesehatan, pengecara merusak keadilan, kuliah merusak pengetahuan, pers merusak informasi, dan bank merusak ekonomi.” Singkatnya dari pernyataan Chris adalah hilangnya adab.

Referensi :
Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta 1983: Gema Insani Press)
Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan Bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis, (Ponorogo 2008: CIOS-ISID Gontor)
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Bandung 1981: Pustaka)
Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas, (Bandung 2003: Mizan)

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021