Masa Depan Politik Jihad, Jihad al-Ummah atau Jihad an-Nukhbah?

By : Rulian Haryadi | 21 Juni 2022

   Politik jihad kembali di banjiri oleh prediksi para ilmuwan orientalis politik Islam seperti Cole Bunzel, Thomas Hegghammer, William McCants, dan Aaron Zelin yang membahas perseturuan dua tokoh besar ulama ahlu tsugur (ulama yang terjun di medan Jihad) antara Abu Qatadah al-Filistini dan Abu Muhammad al-Maqdisi.

   Sebelum masuk kesana kita harus tracking dari awal abad 20. Yang dimana ide abstrak tentang jihad hanya berkutat pada pembebasan tanah dari kolonialisme. Lalu pada pertengahan abad sebelum 1979 abstraksi ide jihad beralih kepada penggulingan rezim lokal. Berlanjut pada berakhirnya perang dingin pada 1990 abstraksi ide jihad berubah menjadi seruan internasional yang idenya dikukuhkan dengan sangat apik oleh Abu Mushab as-Suri pada kitabnya “Dakwah al-Muqawammah al-‘Alamiyyah al-Islamiyyah”, dalam masa ini dikenal dengan era “Jihad Global.” Sampai pada era Arab Spring ide as-Suri masih menjadi inspirasi para pemikir jihad sehingga lahirnya buku “Strategi Dua Lengan” tentang konsentrasi Nubuwah akhir zaman yang berkutat pada kawasan Syam dan Yaman.

   Hampir dua dekade terakhir abstraksi ide jihad turunan dari as-Suri bisa dikatakan sangat berat untuk di aplikasikan. Ide jihad global ala as-Suri memang menarik sekaligus rinci namun tidak memungkinkan untuk situasi kemelut geostrategis Amerika dan Rusia. Tertangkapnya Abu Mushab as-Suri dan meninggalnya Osama bin Laden menemukan titik dimana lencana ide jihad global as-Suri di tabrak oleh para jihadis di Irak.

   Kemenangan Daulah Islamiyyah (ISIS) pada 2014 di Iraq dan Suriah Utara terlalu terburu-buru dan menuai begitu banyak kecaman dari para ulama serta para mujahid. Nama besar pemikir jihad seperti Abu Bashir at-Tartusi, Ayman az-Zawahiri, Iyadh Qunaibi, dan yang lainnya membajiri kritik. Dari sekian kritik terhadap Daulah yang paling menjadi sorotan publik ialah sikap Abu Qatadah al-Filistini dan Abu Muhammad al-Maqdisi dalam mengecam Daulah Islamiyyah.

   Keduanya banyak muncul di lini masa sosial telegram. Disanalah abstraksi ide tentang jihad yang paling strategis pun dituliskan. Pada 2017 Abu Qatadah muncul dalam tulisannya “Al-Tayayr al-Jihadi” yang mengkritik gerakan jihad al-Qaeda di Suriah yang menganggap sifat eksklusif para jihadis menjadi kontra produktif. Sementara al-Maqdisi menghalau kritik tersebut dengan mentahzir HTS (Hayat Tahrir asy-Syam) yang dianggap melemahkan jihad dan keluar dari prinsip salaf. Munculnya sebuah kerucut pembahasan dari kedua tokoh tersebut yang dimana Abu Qatadah al-Filistini mewakili gagasan “Jihad al-Ummah” dan Abu Muhammad al-Maqdisi yang membela gagasan “Jihad an-Nukhbah.”

   Jihad an-Nukhbah sebenarnya sudah dilakoni oleh umat Islam sejak era Sayyid Quthb namun yang membedakan dari idenya al-Maqdisi ialah pembentukan elit mujahid yang kuat untuk melawan secara vis a vis dengan rezim. Sehingga pemenang jihad dengan lebih simpel menutup ampas politisi rezim sebelumnya agar tidak mudah masuk pada terbentuknya pemerintahan baru. Hal ini juga meminimalisir ikhtilaf pada sebagian struktur pemerintahan dan juga penerapan syariat lebih cepat. Jihad an-Nukhbah juga memungkinkan kecepatan pergeseran struktur Tanzim.

   Karakteristik an-Nukhbah menekan pada aspek manhaj dan pemahaman tauhid versi Tanzim jihad. Sehingga ketatnya gaya an-Nukhbah ini sulit sekali mencapai porsi ideal jumlah mujahid. Kencenderungan salafi dalam manhaj khas jihadis era az-Zarqowi sangat dijunjung.

   Sedangkan Jihad al-Ummah jauh lebih kompleks dari ide al-Maqdisi. Jihad al-Ummah pada intinya fokus pada penyadaran umat tentang perlunya syariat Islam dan menarik suara sebanyak-banyaknya untuk rela berjihad sampai rezim bersikap nyata dan represif. Ide ini juga sebenarnya sudah dipakai oleh pendiri Ikhwanul Muslim, asy-Syahid Hassan al-Banna. Penihilan aspek mazhab, pandangan politik, dan orientasi individual harus dilebur dalam sebuah pandangan bersama. Sikap dinamis dari Jihad al-Ummah memungkinkan belangnya wajah para mujahid dalam politik. Tak jarang banyak tahzir dari orang-orang pro Daulah.

   Kasus Jama Kasogi yang secara misterius meninggal oleh rezim Saudi dimanfaatkan oleh Abu Qatadah untuk mencari simpatik dengan mengucapkan bela sungkawa. Hal ini tentu dikecam oleh al-Maqdisi. Abstraksi ide jihad dari Abu Qatadah ini menjadi inspirasi bagi HTS. Sementara al-Maqdisi menjadi bahan acuan bagi para mujahid yang tidak senang dengan sikap Abu Muhammad al-Jaulani yang bersikap seperti politisi ketimbang Amirul jihad.

   Untuk memakai metode jihad baik an-Nukhbah atau al-Ummah tidak bisa disama ratakan karena masing-masing Kawasan mempunyai problem politik dan karakter masyarakatnya masing-masing. Gaya an-Nukhbah meski tumbuh subur di Iraq namun sangat berjalan di Afrika seperti Mali dan Somalia. Sementara gaya al-Ummah menjadi mayoritas yang dianut oleh para mujahid didunia saat ini seperti Suriah, Palestina, Turkistan, Libya, Tunisia, dan berbagai negeri kaum Muslimin.

Referensi :
– Aaron Y. Zelin, The Age of Political Jihadism A Study of Hayat Tahrir Al-Sham, (Washington, USA: The Washington Institute for Near East Policy 2022).
– Conel Bunzel, Abu Qatada al-Filastini: “I am not a Jihadi, or a Salafi”,
– https://www.jihadica.com/abu-qatada-al-filastini-i-am-not-a-jihadi-or-a-salafi/ , (di akses Mei 2022)

Opinion

History

Shop

Physical Book

Catatan Pinggiran Taliban
By : Rulian Haryadi

Catatan Pinggiran Taliban
By : Rulian Haryadi

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :