Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Melihat Sikap Muslimin Dalam Memandang Pemerintah

10 November 2020 | Opinion

Sejak mengudaranya dunia maya sejak awal 90-an menjadikan dakwah Islam berkembang pesat baik dalam negeri-negeri Muslim atau di mancanegara terlebih Eropa yang menjadi ladang subur dakwah Islam

Melihat Sikap Muslimin Dalam Memandang Pemerintah

Sejak mengudaranya dunia maya sejak awal 90-an menjadikan dakwah Islam berkembang pesat baik dalam negeri-negeri Muslim atau di mancanegara terlebih Eropa yang menjadi ladang subur dakwah Islam. Berbagai suguhan kajian Islam alhamdulillah sudah bisa diakses sampai hal-hal yang ringan sampai yang tingkat expert.

Di dalam suasana dakwah yang sedemikian berkembang banyak permasalahan di zaman dahulu yang mulai bisa di urai dan didamaikan. Sebut saja persoalan fiqih seperti qunut, jumlah raka’at tarawih, dan berbagai macamnya sudah bisa didamaikan yang dahulu hanya berkutat pada ahli ilmu dan buku-buku tebal karangan ulama. Umat mulai serius menopang keberlangsungan dakwah dan mencari inspirasi untuk diterapkan dalam strategi dakwahnya.

Dewasa ini kita sudah merasakan bahwa hidup tanpa naungan Khilafah Islam bagaikan ayam tanpa induknya. Persoalan seperti demokrasi, bentuk konstitusi yang sekuler, bahkan status ulil amri menjadi perbincangan serius dan tak jarang saling bergesekan sangat keras.

Kita bisa kategorikan secara sederhana seperti ini; pertama golongan tradisional yang hanya berkutat pada ritual dan amal individu cenderung tidak mau tahu tentang politik selama kegiatan ritualnya tidak terusik dan jama’ah tidak terpecah. Golongan kedua mereka yang bersikap modernis namun menetapkan ketaatan dan status ulil amri kepada para pemimpin sekuler. Golongan ketiga ialah yang sering disebut fundamentalis ini menetapkan bahwa status kepemimpinan atau ulil amri yang berdiri diatas sistem sekuler ini adalah bukan ulil amri.

Golongan pertama mereka dilatar belakangi oleh tasawuf dan amal-amal spiritualitas individu. Mereka mendakwahkan tentang ketenangan jiwa dan kalaupun mengkritik kehidupan sosial tidak lebih hanya menyoroti keangkuhan pemerintah atas hak orang miskin. Bahkan mereka terkadang berada di garda pemerintah karena dakwahnya di sokong oleh pemerintah dan seolah mereka dicitrakan wakil dari Islam itu sendiri kepada masyarakat.

Golongan kedua mereka yang dipengaruhi oleh sang reformer Syaikh Abdul Wahab rahimahullah. Mereka menetapkan sikap akan stabilitas ketimbang kerusakan yang timbul dari sikap oposisi atau aksi-aksi revolusional. Mayoritas mereka menetapkan status ulil amri ini berpijak langsung pada pendapat salaf yang dimana para salaf mengartikan kepada khalifah yang menerapkan hukum Islam. Meskipun prinsip keilmuan Islam terkesan fundamental namun mereka terasa lunak jikalau berurusan dengan pemerintah atas nama stabilitas.

Golongan ketiga mereka yang dicap konservatis akut ini lebih menekankan sikap ishlah dan uzlah kepada sistem yang berlaku tak jarang melakukan aksi karena mereka sejatinya adalah oposisi rezim. Sikap mereka tegas terhadap pemerintah dan menetapkan bahwa ulil amri yang dimaksud ialah sang Khalifah atau seorang amir yang menguasai wilayah dan menerapkan hukum Islam. Syaikh Yusuf al-Qardhawi hafizhahullah mengartikan ayat athi’ullah wa athi’u Rasul wa ulil amri minkum adalah seorang Imam atau Amir yang menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai dasar filosofis konstitusi negara.

Jika kita mau runut sejarah-sejarah Islam dan melihat sikap kaum Muslimin kontemporer ini pasti terjawab persoalan tentang ulil amri. Golongan yang menganggap taat kepada ulil amri seolah lupa bahwa Syaikh Abdul Wahab adalah motor penggerakan dakwah tauhid dan jihad di Arabia dan sikapnya jelas untuk memerangi Syarif Mekah dan Muhammad Ali Pasya yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur dalam Daulah Utsmaniyyah.

Juga status konstitusi yang tidak menetapkan Quran dan Sunnah sebagai pijakan negara pernah di maikan oleh dua pemimpin yang pertama Hulaghu Khan ketika berhasil menaklukan Baghdad dan kedua Timur Lenk yang menyatakan dirinya seorang Muslim namun jumhur ulama mengkafirkannya karena mengobok-obok al-Haq (Quran dan Sunnah).

Dan tak ketinggalan para Sufi di masalalu adalah orang yang sangat oposisi terhadap kekuasaan dan yang paling rajin untuk mengkampanyekan jihad seperti Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan al-Ghazali rahimahullah. Tiga karakter ini sebagai refleksi saja atas fenomena kaum Muslimin yang hidup tanpa khilafah Islam. Semoga Allah bisa memberi taufik kepada seluruh kaum Muslimin.

Kita harusnya malu juga sebagai seorang yang dikatakan memeluk agama Islam ini tetapi tidak membela Islam sampai tatanan negara namun sibuk masalah status ulil amri yang tidak jelas dalam bentuk negara sekuler dewasa ini. Sementara para orientalis meyakini bahwa Islam bukan sekedar agama ritual.

Dr. V. Fitzgerald berkata, “Islam bukan hanya sekedar agama, tetapi ia merupakan tatanan politik sekalipun pada dekade belakangan ini muncul beberapa orang Islam, yang biasa disebut “Modernis”, berusaha memisahkan dua sisi ini, tetapi semua pemikiran Islam telah membangun suatu landasan bahwa dua sisi ini saling bertautan, yang satu tidak mungkin dipisahkan dari yang lain.”

Sir. T. Arnold berkata, “Pada saat yang sama Nabi adalah seorang pemimpin agama dan pemimpin negara.”

Dr. Schacht berkata, “Pada saat yang sama Muhammad telah membangun agama dan negara. Batasan-batasan diantara keduanya saling berdampingan selama hidupnya.”

Referensi : Dr. Yusuf al-Qardhawi – Fikud Daulah

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021