Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Mengenal Pribadi Abu Bakar Ba’asyir

8 April 2020 | Figure

Jika ada yang menanyakan siapakah ulama Indonesia yang masih kuat pengaruhnya untuk merakit gerakan jihad? Tentu tidak ada keraguan dari kaum Muslimin yang awam, ulama bahkan orang diluar Islam pun mayoritas pasti mengemukakan nama Abu Bakar Ba’asyir. Hisanori Kato seorang doctor dari Jepang menilai Abu Bakar Ba’asyir sebagai orang yang fundamentalis

Mengenal Pribadi Abu Bakar Ba’asyir

Jika ada yang menanyakan siapakah ulama Indonesia yang masih kuat pengaruhnya untuk merakit gerakan jihad? Tentu tidak ada keraguan dari kaum Muslimin yang awam, ulama bahkan orang diluar Islam pun mayoritas pasti mengemukakan nama Abu Bakar Ba’asyir. Hisanori Kato seorang doctor dari Jepang menilai Abu Bakar Ba’asyir sebagai orang yang fundamentalis keteguhan dan ketegasan sikapnya.

Ia adalah Abu Bakar Ba’asyir bin Abud Ahmad lahir di Pekunden Mojo Agung, Jombang Jawa Timur pada 12 Dzulhijjah 1359/17 Agustus 1938. Ayahnya yang seorang pedagang kain batik turunan Yaman. Abu Bakar kecil yang kala itu menempuh sekolah di madrasah ibtida’iyah namun tidak berlangsung lama karena situasi revolusi Indonesia sedang berlangsung, baru setelah proklamasi ia melanjutkan pendidikannya di sekolah rakyat. Melihat sekolah yang minim ilmu agamanya maka Abu Bakar kecil meniti ilmu agamanya mengaji di malam hari.

Setelah menyelesaikan di sekolah rakyat ia meneruskan di SMP Negeri Jombang dan ia lalui perjalanan 13 KM dari rumahnya dengan menggunakan sepeda. dari SMP ini lah karir ia menjajaki dunia organisasi Islam di mulai, ia bergabung dengan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya ia melanjutkan ke SMA Surabaya, namun tidak berlangsung mulus di SMA nya ia harus pulang ke Solo membantu kakaknya berdagang karena keterpurukan ekonomi pada saat itu.

Pada tahun 1959 M, atas dukungan kedua kakaknya Sali Ba’asyir dan Ahmad Ba’asyir, Abu Bakar segera mendaftarkan diri ke Pesantren Darussalam Gontor. Abu bakar berhasil lulus dari kelas Mu’alimin pada tahun 1963 dan kemudia ia meneruskan pendidikannya di Universitas Al Irsyad jurusan dakwah di kota Solo selama tiga tahun.

Adapun jejak organisasi dan dakwah beliau yang bisa kita lihat dimulai dari Pelajar Islam Indonesia (PII) yang dimana ia menjadi ketuanya. Saat menjadi mahasiswa pun Ba’asyir aktif di Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Solo. Perjalanan dakwahnya berlanjut meluas di kala ia dan sahabat-sahabatnya mendirikan radio ABC (Al-Irsyad Broadcasting Center) di Gedung Al-Irsyad Solo dan juga radio Radis (Radio Dakwah Islamiyah Surakarta) yang dirintis Bersama sahabat dakwahnya Abdullah Sungkar, yang dimana radio ini menghantarkan ia berurusan dengan rezim orba.

Tidak hanya dakwah yang bersifat seruan Ba’asyir juga aktif menyalurkan ilmu dengan mendirikan madrasah diniyah yang dibuka pada sore hari. KH. Imam Zarkasyi melihat perkembangan dakwah dan ta’lim yang aktif mengusulkan untuk mendirikan pondok pesantren yang nantinya amanah ini menjadikan terbentuknya pesantren Al-Mukmin (Ngruki) di Solo.

Namanya semakin melejit di media masa tidak hanya setelah di tegur oleh orba karena tuduhan penghasutan untuk menolak pemilihan umum, Ba’asyir bersinar tatkala ia menjadi ketua Majelis Mujahiddin Indonesia walaupun di dalam perjalanannya ia berbeda faham karena ia menganggap dalam organisasinya terdapat sistem yahudi. Pada tahun 2008 Ba’asyir mendirikan JAT (Jama’ah Ansharu Tauhid). Dari sini ia mengorganisir member JAT yang kala itu sudah berjumlah 2500 orang, karena dalam gerakan JAT ia berijtihad untuk menjaharkan (tidak secara underground) gerakan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad.

Pada tahun 1983 ketika tersosialisasinya asas tunggal Pancasila menjadi wajib untuk semua ormas dan parpol, Abu Bakar dan Abdullah Sungkar adalah orang yang paling vocal atas penolakan ini. Mereka berdua ditangkap karena melanggar UU No.11/PNPS/1963 dengan tuduhan menghasut masyarakat untuk menolak asas tunggal Pancasila, melarang santri Al Mukmin untuk memberi hormat ke bendera dan Abu Bakar dikaitkan dengan komando jihad yang dipimpin oleh Hispran (Haji Ismail Pranoto). Sehingga Pengadilan Negeri Sukoharjo akhirnya memvonis keduanya selama 9 tahun penjara atau lebih ringan 3 tahun dari tuntutan jaksa.

Beni Moerdani yang kala tangan kanan langsung Soeharto menjadi momok yang paling kuat untuk membekuk dakwah Ba’asyir, atas gerak-gerik Beni Moerdani ini Abu Bakar dan Abdullah Sungkar berhijrah ke Malaysia. Sekembalinya dari Malaysia 1999 Abu Bakar telah melihat perubahan rezim dan situasi politik maka di tahun 2000 Ba’asyir di angkat menjadi Amir Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI). Ba’asyir pun dalam era reformasi masih terkena kendala dalam dakwah paling tidak terdiri dari kasus; majalah Time 23 September 2002 menyebutkan Abu Bakar dituduh sebagai pemimpin sepiritual JI untuk melaksanakan pengeboman kedutaan besar AS. Pada tahun 2002 juga pemerintah menuduh Abu Bakar sebagai dalang bom Bali I dan juga di sah kan sebagai pembuat makar untuk menggulingkan pemerintahan, ia melanggar Pasal 55 ayat 1 KUHP. Kedua, Abu Bakar didakwa melanggar pasal 263 ayat 1 KUHP.

Setelah usai meninggalkan MMI, Ba’asyir merajut dakwah dengan konsep jamaah dengan membuat Jama’ah Ansharu Tauhid (JAT) dan 4 tahun berjalan ia harus berurusan lagi karena tuduhan makar atas pelatihan militer di Juntho Aceh. Abu Bakar Ba’asyir di tangkap di Ciamis, Senin 9 Agustus 2010  dalam perjalanan pulangnya ke Solo setelah mengisi Tabligh Akbar di daerah Ciamis dan sekitarnya. Sangat disayangkan terkait penangkapan tersebut karena mempertontonkan tindakan kekerasan dari pihak kepolisian yang menarik supir Abu Bakar dari pintu jendela mobil yang dipecahkan.

Pada tanggal 16 Juni 2011 pengadilan Negeri Jakarta menetapkan 15 tahun penjara. Pelanggaran dilakukan sebagaimana yang diatur dalam pasal 14 jo pasal 11 UU 15.2003 tentang tindak pidana terorisme.

Meski begitu Abu Bakar Ba’asyir adalah ulama yang produktif terbukti dari Kitab-kitab yang beliau tulis;

  • Nasihat untuk penguasa
  • Panduan Shiyam dan Qiyam Ramadhan al Mubarak
  • Catatan dari penjara
  • Seruan Tauhid dibawah ancaman mati yang merupakan kumpulan Eksepsi, nota keberatan TAPBB dan surat Tadzkirah kepada para pejabat pemerintah.
  • Peranan Iman dan Jihad
  • Tadzkiroh
  • Tadzkiroh buku II
  • Tadzkiroh buku III
  • Meluruskan Makna Kalimat Laa Ilaha Ilallah
  • Cara Mengamalkan & Memperjuangkan Dienul
    Islam
  • Demokrasi Adalah Bisikan Setan
  • Risalah Tauhid & Iman

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021