Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Mengenang Perjalanan Hidup Sayyid Quthb

4 Juni 2021 | Figure

Abdullah Azzam dalam salah satu ceramahnya yang dibukukan menjadi Tarbiyah Jihadiyah menyebutkan bahwa tulisan-tulisan Sayyid Quthb mampu menelanjangi orang-orang yang munafik dan mampu membedakan mana yang serius untuk Islam dan mana yang mengeruk keuntungan atas nama Islam

Mengenang Perjalanan Hidup Sayyid Quthb

Abdullah Azzam dalam salah satu ceramahnya yang dibukukan menjadi Tarbiyah Jihadiyah menyebutkan bahwa tulisan-tulisan Sayyid Quthb mampu menelanjangi orang-orang yang munafik dan mampu membedakan mana yang serius untuk Islam dan mana yang mengeruk keuntungan atas nama Islam. Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menempatkan Sayyid Quthb sebagai salah satu peletak Islamic worldview yang membentuk cara pandang yang lurus di era Barat menguasai ilmu pengetahuan.

Sayid Quthb lebih dikenal dalam pemikiran Islam dan ahli tafsir abad ke-20. Nama lengkapnya ialah Sayyid Quthb Ibrahim Husain Syadzili. Ia dilahirkan pada tanggal 9 Oktober 1906 M, Di kota  Asyut -salah satu distrik di Mesir. Ayahnya bernama al-Haj Quthb Ibrahim yang juga merupakan salah satu tokoh cendekia lokal di Piramida itu. Sejak usia belia Qutbh sudah memiliki hafalan Quran dan memiliki ketertarikan akan buku yang cukup tinggi. Hobinya yang gemar membaca, di usia 12 tahun waktu itu, dirinya sudah memiliki pustaka pribadi dengan 25 koleksi buku. Dari buku-buku inilah Sayyid Quthb kecil memiliki pengetahuan dan pandangan lebih luas di bandingkan dengan anak-anak sebayanya.

Pendidikan dasarnya ia peroleh dari sekolah pemerintah dan kutab, pada 1918 ia berhasil menamatkan pendidikan dasarnya. Merasa anaknya memiliki potensi dan semangat yang cukup tinggi dalam ilmu pengetahuan, Orang tua Quthb pada 1921 Sayid Qutubh di kirim ke Helwan. Sebuah daerah pinggiran ibu kota Mesir, Kairo Guna melanjutkan pendidikanya di Madrasah Tsanawiyah. Kepindahan Quthb ke Kairo memang atas dasar melanjutkan pendidikan. Hingga pada tahun 1929 ia mengenyam pendidikan di sebuah sekolah yang menganut pola pendidikan Inggris dan berhasil lulus pada tahun 1933. 

Setelah selasai dari sekolah itu, dia berhasil menjadi guru di kementrian Pendidikan. Tak hanya menjadi seorang guru ia juga aktif dalam menulis yang mana waktu itu ia tertarik akan dunia sastra. Salah satu karya perdana Quthb pada masa-masa ini ialah sebuah novel berjudul Al-Ashwaak ( Duri-Duri). Dunia kepenulisan akhirnya menghantarkan dirinya pada karir yang cukup gemilang hingga pada tahun 1939 ia ditarik ke Kementrian Pendidikan di Kairo.

Kecekatan dan kualitas dalam bekerja di kementrian Pendidikan menghantarkan Quthb mendapatkan beasiswa untuk mengenyam pendidikan di Amerika Serikat sebagai utusan dari Kementrian Pendidikan Mesir yang waktu itu dipimpin Thaha Husain (seorang pemikir liberalis Mesir). Dia mempelajari sistem Pendidikan di Colorado State College of Education (sekarang University of Northern Colorado) di Greeley, Colorado dari tahun 1948. Setahun belajar di Amerika, ia menerbitkan sebuah karya terbaiknya yang ditulis di masa persentuhan langsungnya dengan peradaban Barat, yakni “Al-‘adala l-Ijtima’iyya fi-l-Islam” (Keadilan Sosial dalam Islam) yang diterbitkan pada tahun 1949. Semasa di Amerika ada peristiwa yang menyita perhatiannya yakni terbunuhnya pimpinan Ikhwanul Muslimin Hasan al-Banna pada tahun 1949. Peristiwa itu sontak mengguncang jiwa Quthb.

Terbunuhnya Hasan al-Banna begitu antusias sekali di beritakan oleh media-media Amerika dan Inggris. Amerika gempar dan bersuka cita. Kejadian dan fenomena inilah yang akhirnya mengundang rasa simpati dan ingin tahu yang lebih dalam akan Ikhwanul Muslimin. Hingga pada tahun 1953 sekembalinya dari Amerika Serikat Qutubh resmi memutuskan bergabung dengan organisasi yang di dirikan sang Syahid Hasan al-Banna itu.

Sepulangnya dari Amerika Quthb juga melahirkan sebuah karya buku dengan judul Amrika al-latii Ra’ayatu (Amerika yang Telah Kulihat). Isi buku ini adalah kritik eksplisit atas kehidupan di Amerika, yang kemudian mewakili pandangannya atas kehidupan di Barat secara umum. Baginya kehidupan Barat jauh dari kata moral yang baik mereka terbelenggu dengan materealisme, sistem ekonomi (Kapitalisme), rasisme, hubungan sesama jenis serta gersangnya dari nilai-nilai Ketuhanan. Dari apa yang telah di lihatnya selama mengenyam pendidikanya di Amerika, Quthb makin memantapkan diri berjuang untuk tegaknya Islam di tanah kelahirannya.

Sejak bergabung bersama Al-Ikhwan al-Muslimin yang mana menjadi kendaaraannya dalam perjuangan meninggikan Islam di negri kelahirannya, Quthb banyak berkecimpung di dunia pemerintahan yang pada saat itu sedang mesra-mesranya dengan Ikhwanul Muslimin. Bahkan Quthb sering terlibat diskusi intens bersama Gamal Abdul Naseer tentang kudeta atas pemerintahan kepada Raja Faruk yang pro Barat (Inggris) yang dianggap Naseer saat itu tidak Islami. Hingga akhirnya kudeta berhasil di lakukan pada Juli 1952.

Berjalannya waktu Quthb mulai menjaga jarak atas pemerintahan Naseer yang semula Quthb dan IM berharap Naseer dapat menjadikan sistem negara itu kepada Islam, akan tetapi Naseer menegaskan untuk membentuk pemerintahan sekuler-nasionalis di Mesir. Pada akhirnya Quthb memantapakan pilihannya untuk fokus berjuang bersama IM pada pembenahan akidah dan etika Islam yang memang secara jelas nilai-nilai ini sudah mulai jauh dari masyarakat.

Keberpihakannya Sayyid Quthb pada IM dianggap Naseer sebuah ancaman karena Quthb adalah sahabat Naseer namun setelah revolusi bersebrangan jalan (menjadi oposisi). Tidak berapa lama setelah terjadinya tragedi al-Mansyiyyah 1954, Quthb ditangkap bersama ribuan anggota IM lainya serta para pimpinannya juga ditangkap karena dituduh melakukan makar kudeta. Tanpa bukti yang jelas, tujuh orang pimpinan tertinggi IM dijatuhi hukuman mati, termasuk Hasan Hudhaibi, Abdul Qadir Audah dan Syeikh Muhammad Farghali. Sejak saat itu Sayyid Qutbh menghabiskan hidupnya di dalam jeruji besi dan hanya bebas selama 8 bulan pada akhir 1963 sampai pertengahan 1964 dengan bantuan Presiden Irak pertama Abdusalam Arif.

Di dalam penjara inilah pemikiran  utama terkait pergerakan Islam Sayyid  Quthb mengkristal. Dengan dua bukunya yang sangat menggemparkan pemerintah yaitu Fii Zhiilaal Al-Quran (Di bawah naungan Quran) dan Ma ‘aalim fii ath-Thariq (Petunjuk Jalan). Bagi Quthb  gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin sangatlah penting untuk kawasanya dan tidak boleh mati atau berhenti walau banyak musuh yang tak menyukainya. Menurutnya, kaum Zionis Salibis-Imperealis tidak akan pernah berdiam diri. Mereka akan terus mencoba melemahkan sendi- sendi Islam dengan tujuan memperlemah akidah Islam, mengaburkan akhlak, dan menjauhkan Islam dari fungsinya sebagai undang-undang dan pedoman hidup. Jika sudah begitu yang akan terjadi ialah kehancuran di semua lini masyarakat. Oleh sebab itu, menurut Sayid pergerakan Islam harus berangkat bagaimana menghujamkan kembali akidah Islam ke dalam hati dan pikiran individu setiap muslim, serta melakukan pembinaan kepada siapa pun yang mau menerima Dakwah dan pemahaman yang benar, dengan pola-pola pendidikan Islam yang benar.

Pada bulan Agustus 1965 dia kembali di tahan sampai akhirnya di vonis hukuman mati oleh pengadilan. Malam sebelum dieksekusi gantung datang lah seorang syeikh dibawa untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah. Syeikh itu berkata, ”Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaahaillallah..” Sayyid hanya tersenyum lalu berkata, “sampai juga engkau wahai syeikh, menyempurnakan sandiwara ini? ketahuilah kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan Laa ilaaha illallaah, sedang engkau mencari makan dengan Laa ilaaha illallaah.”  Akhirnya pagi hari Senin, 29 Agustus 1966, Sayyid Quthb di hukum gantung. Ia syahid di depan algojo-algojo pembunuhnya.  Sebelum ia menghadapi eksekusinya dengan gagah berani, Sayyid Quthb sempat menulis coretan sederhana tentang pertanyaan dan pembelaannya. Kini coretan itu telah menjadi buku berjudul ”Mengapa Saya Dihukum Mati”. Sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab oleh pemerinthan Mesir.

Menariknya dalam peristiwa hukuman mati bagi Quthb, Abdullah Azzam mengatakan dalam salah satu ceramahnya yang dibukukan menjadi Tarbiyah Jihadiyah menyebutkan bahwa Gamal Abdul Naseer sempat lari ke Uni Soviet dan menjatuhkan perintah hukuman gantung bagi Quthb dari negeri merah komunis.

Dalam kisah yang luar biasa ini Quthb menggambarkan bahwa ide tidak bisa mati dan seseorang yang liat dari pemikiran Barat bisa saja berubah menjadi pembela Islam sejati atas bii idznillah.

Referensi;
Abdullah Azzam, Tarbiyyah Jihadiyyah, (Jember 1993: Al-Alaq)
Nuim Hidayat, M.Si, Sayyid Quthb, Biografi dan Kejernihan Pemikirannya, (Jakarta 2005: Gema Insani Press)
Sayyid Quthb, Detik-detik Terakhirku, (Yogyakarta 2012: ProU Media)
-http://bio.or.id/biografi-sayyid-quthb/

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021