Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Mengkritisi Anarchisme Perspektif Islam

23 Oktober 2020 | Opinion

Terkadang kita salah untuk menempatkan salah satu definisi salam kata atau kalimat tertentu, salah satu contohnya adalah “Anarchisme”. Banyak orang yang mendefinisikan anarchisme adalah suatu tindakan brutal yang mencoba untuk memporak-porandakan fasilitas umum

Mengkritisi Anarchisme Perspektif Islam

Terkadang kita salah untuk menempatkan salah satu definisi salam kata atau kalimat tertentu, salah satu contohnya adalah “Anarchisme”. Banyak orang yang mendefinisikan anarchisme adalah suatu tindakan brutal yang mencoba untuk memporak-porandakan fasilitas umum. Namun pada dasarnya jika kita melihat lebih dalam, anarchisme adalah suatu paham yang tidak suka sama pemerintahan yang terdiri dari kata A dan kata archie, a artinya zonder atau tidak ada yang berasal dari kata Yunani (archein), yaitu memerintah dan menguasai dan sedangkan isme yang artinya paham. Anarkisme ialah salah satu paham atau aliran dari sosialisme, oleh karenanya anarkisme itu adalah lawan kapitalisme.

Seorang anarkis, ialah pemeluk paham anarkisme itu, tidak suka dengan hak milik (eigendom), oleh karena hak milik itu lahirnya dari kapitalisme. Selain daripada itu anarkisme tidak mufakat dengan tiap-tiap pemeritahan, oleh karena katanya bagaimana demokratis atau kerakyatan pula pemerintahan itu di dalam hakikatnya, tiap-tiap pemerintahan itu mengandung unsur paksaan.

Menurut paham anarkisme, seseorang yang hidup di dalam masyarakat itu berhak atas kemerdekaan seluas-luasnya. Hanya pergaulan hidup yang terdiri dari orang-orang yang merdeka itu bisa tentram dan teratur. Menurut pahamnya, pergaulan hidup manusia itu bisa beres jika pemerintahan yang bersendi pada kekuasaan dan kekuasaan ini yang melahirkan wet-wet (hukum-hukum) itu dihapuskan. Oleh karena itu paham anarkisme ini anti gezag (anti otoritas), ialah tidak mufakat dengan kekuasaan: antiwettisch (anti hukum), tidak mufakat dengan wet; dan antiregeering (anti pemerintah), tidak mufakat dengan pemerintahan.

Selain daripada itu, paham anarkisme anti militeristis, ialah karena militerisme ini adalah suatu stelsel (system) yang mengandung paksaan yang hebat. Oleh karena militerisme ini maka pemuda-pemuda yang bisa bekerja di dalam pabrik-pabrik harus ditutup dalam benteng-benteng.

Anarkisme itu menentang patriotisme yang hanya mengabdi kepada tanah air. Patriotisme yang kunstmatig (buatan) yang dihidup-hidupkan di dalam sanubariya orang-orang yang tidak bertanah air, oleh karena di Dalam tanah airnya sendiri mereka menderita kelaparan, kesegsaraan dan perbudakan. Patriotisme yang menjadi agama baru, yang memisah-misahkan rakyat yang seharusnya hanya mempunyai tanah air satu ialah menscheid (pemisahan manusia).

Juga mereka tidak mufakat dengan adanya hakim dan polisi. Kaum anarkis mufakat sekali dengan persamaan milik itu adalah sesuatu hak dari manusia yang dapat menyelamatkan pergaulan hidup manusia. Hak persamaan milik itu menentukan hak-haknya seseorang atas alat-alat pembikinan barang dan atas syarat-syarat bagi kebutuhannya manusia.

Anarkis itu mufakat sekali dengan persoonlijke vrijheid (kebebasan individu), ialah kemerdekaan sendiri-sendiri, oleh karena kemerdekaan itu adalah haknya alam yang tidak bisa dihancurkan. Semua kemajuan itu terutama membesarkan persoonlijke vrijheid itu, oleh karena persoonlijke vrijheid ini adalah satu alat terbaik bagi manusia untuk hidup Bersama-sama yang rukun, tentram dan dimana seseorang itu bisa hidup menurut wataknya sendiri-sendiri ialah pergaulan hidup yang harmonis.

Batas kemerdekaannya seseorang itu ialah kemerdekaannya orang dengan siapa ia hidup. Hanyalah di dalam keadaan merdeka seseorang itu bisa mendapat bahagia di hidupnya. Ketikmerdekaannya orang lain itu akan mengurangi sekali bahagianya sendiri dan oleh karena itu maka adalah kewajibannya sendiri haruslah menghormati kemedekaannya orang lain.

Pikiran yang mengatakan, bahwa “zonder (tanpa) pemerintah” itu lebih bagus untuk menjaga ketentraman umum, adalah disebabkan mereka menganggap, bahwa kemerdekaan di dalam arti yang seluas-luasnya (tidak terikat pada apapun) adalah syarat yang terutama untuk menjaga ketentraman umum, sebab itu tidak heran jikalau Proudhon mengatakan: “kemerdekaan ada ibunya dari ketentraman”. Kaum anarkis mengaku juga, bahwa mereka itu termasuk golongan kaum sosialis, bahwa semua kejahatan adalah disebabkan karena adanya “privaat eigedom” (kepunyaan seseorang) dan juga mereka menghendaki supaya produksi-middelen (perkakas membuat produksi) harus kepunyaan bersama.

Mereka juga tidak setuju dengan agama, oleh karena mereka menganggap bahwa dengan jalan agama banyak manusia menjadi budaknya dari sesame manusia, dengan jalan agama katanya orang meneguhkan pendiriannya sesuatu pemerintahan dan dengan memakai nama agama banyak sekali kejahatan dilakukan, sedang sebetulnya yang berdiri di belakang agama ini, kata mereka, sebenarnya kaum kapitalis.

Kemerdekaan seseorang yang diinginkan oleh kaum anarkis adalah satu hal yang hanya bisa didapati di dalam teori, tetapi tidak dapat dijalankan Dalam prakteknya. Pasalnya karena terdapat kontradiktif antara kebebsan/kemerdekaan yang di impikan berbarengan dengan keamanan dan kestabilan hidup tanpa ada nilai yang menentukan keamanan dan kestabilan tersebut.

Fitrah manusia yang telah ditetapkan Allah adalah menjadi Khalifah fiil ardh (Pemimpin dimuka bumi) Al-Baqarah : 30. Dalam hidup juga harus memiliki nilai kebenaran yang haqiqi baik itu tentang ketuhanan,  kosmologi (penciptaan alam semesta), moral, dan keadilan. Islam menempatkan itu semua itu dalam satu bungkus yang disebut syari’at Islam. Jika ditinjau oleh kacamata Islam tentu paham “Anarchisme” adalah penyimpangan fitrah yang jauh. Bahaya ini bisa dikategorikan seperti LGBT, Feminisme, dan Nihilisme. Yang membedakan hanyalah nilai yang diperjuangkan namun secara hakikatnya paham demikian menggiring manusia jauh dari fitrahnya dan menghasilkan generasi yang buruk setelahnya.

Referensi : Soekarno dalam koran Fikiran Ra’jat yang disusun oleh Bima Satria Putra Dalam bukunya Di Bawah Bendera Hitam

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021