Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Mengukur Nasionalisme Terhadap Dunia Islam

7 April 2021 | Opinion

Nasionalisme adalah suatu kata yang selalu dikumandangkan untuk menarik rakyat agar bersatu dan menciptakan kekuatan kolektif yang bersifat bangsa. Namun kita juga dihadapkan dengan realitas bahwa ada pertentangan antara Nasionalisme dan Islam

Mengukur Nasionalisme Terhadap Dunia Islam

Nasionalisme adalah suatu kata yang selalu dikumandangkan untuk menarik rakyat agar bersatu dan menciptakan kekuatan kolektif yang bersifat bangsa. Namun kita juga dihadapkan dengan realitas bahwa ada pertentangan antara Nasionalisme dan Islam. Jika kita selalu disuguhi oleh contoh-contoh bahwa Nasionalisme itu sejalan dengan Islam dengan merujuk pada contoh Indonesia, Pakistan, dan Aljazair yang merobohkan sistem kolonialisme dengan menganut Nasionalis dan Islamis, dan ini yang ma’ruf diajarkan.

Kita coba telisik bahwa Nasionalisme merobohkan segala tatanan ukhuwah Islamiyyah. Ukhuwah Islamiyyah adalah suatu konsep langsung dari Allah dan Rasulnya untuk menstabilisasi dunia dan menyatukan tujuan bahwa nilai Islam sebagai tujuan, sebagaimana kita tahu bahwa banyak sekali nilai-nilai universal dalam Islam yang sejatinya dunia mati-matian ingin wujudkan seperti Ekonomi tanpa riba, Environment, Kesusastraan, Etika yang luhur, dan Profesionalisme. Sementara Nasionalisme menyekat pertumbuhan nilai-nilai universal itu sendiri.

Nasionalisme sendiri sebenarnya terbentuk dari sebuah konsep yang diadopsi dari perjanjian Westphalia 1648. Dimana perjanjian Westphalia atau biasa disebut Perdamaian Westfalen mengakhiri perang tiga puluh tahun di kekaisaran Romawi  dan konflik Imperium Spanyol dan Kerajaan Belanda. Berangkat dari sana Edward Hallet Carr dalam Nationalism and After peletak dasar dari Nasionalisme modern yang dalam sejarah mulai dijumpai modelnya pada abad ke-19, yaitu Jean Jacques Rousseau, yang nantinya juga dikukuhkan oleh John Locke dan Montesque.

Ide-ide dari Barat ini di adopsi oleh para sarjanawan dari Timur yang mengenyam Pendidikan ke negeri-negeri Barat. Sebut saja seperti Musthafa Kemal, Michel Aflaq, Shalahuddin al-Bithar, dan lain-lain yang pulang malah meruntuhkan konstitusi Khilafah Islam dan menganggap bahwa Sultan adalah momok yang harus diganti karena menghambat kemajuan modernitas. Maka kita melihat bahwa pertentangan kaum sarjanawan atau militer yang pulang membawa paham Nasionalisme umumnya menjadi skeptis terhadap Islam dan para ulama.

Kasus penindasan terhadap umat Islam yang dari dulu seperti Palestina adalah bukti bahwa Nasionalisme menyekat penyelesaian urusan Palestina. Adapun PBB yang di inisiasi oleh para pemegang paham Nasionalis pun kesulitan sendiri mendudukan persoalan Palestina karena kepentingan yang bertumpang tindih.

Lalu coba kita runut seberapa merusaknya Nasionalisme terhadap dunia Islam. Pertama yang paling nampak ialah keruntuhan Turki Utsmani karena tuntutan Nasionalis Yunani (Balkan), Armenia (kaukasus), dan Arab yang akhirnya menjadi negara-negara kecil besutan Francois Georges Picot (Prancis) dan Sir Mark Sykes (Inggris) pada 16 Mei 1916. Perjanjian ini mengawali problem timur-tengah yang sampai hari ini kita saksikan.

Penindasan terhadap umat Islam di penjuru dunia seperti Xinjiang (Turkistan Timur), Rohingya, Palestina, Suriah, Moro (Filipina), Bosnia, dan lain-lain menjadi haram untuk langsung terjun membantu konflik tersebut karena Nasionalisme. Negara-negara Arab yang sejatinya berdekatan seperti Teluk Arab, Syam, dan Afrika Utara menjadi amat terasa jauh karena Nasionalisme.

Ketika banyak pihak dari umat Islam ingin menyatukan Ukhuwah Islamiyyah melalui politik bilateral, ekonomi, dan aksi kemanusiaan tokoh-tokoh Nasionalisme menganggap bahwa mereka berbuat makar dan meruntuhkan persatuan. Justru kita ingin mempersatukan dalam wadah yang lebih besar yaitu Ukhuwah Islamiyyah. Umat Islam sudah sangat menyadari bahwa kubangan Nasionalis ini sangat menghambat rasa kepedulian sesama  kaum Muslimin.

Berangkat dari kaum Muslimin yang ingin mengikat diri pada Ukhuwuah Islamiyyah ini melahirkan berbagai macam gerakan seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, Murabitun Movement, dan lain sebagainya. Kaum Muslimin bukan semata-mata ingin menegakkan syari’at Islam melainkan ingin mempersatukan umat Islam dalam satu payung dan mempertontonkan bahwa nilai Quran dan Sunnah melahirkan Ekonomi tanpa riba, Environment, Kesusastraan, Etika yang luhur, dan Profesionalisme.

Pada akhirnya Nasionalisme harus ditinjau ulang sebagai wajah yang mana? Yang diajarkan disekolah-sekolah bahwa Nasionalisme itu sejalan dengan Islam dengan merujuk pada contoh Indonesia, Pakistan, dan Aljazair yang merobohkan sistem kolonialisme dengan menganut Nasionalis dan Islamis. Seperti halnya Prof. Dr. Said Aqil Siraj yang melabeli Timur-Tengah yang tidak mengambil Nasionalis dan Islam sebagai kompromi persatuan negara. Padahal realitanya bahwa kaum Muslimin disekat karena paham ini dan sulit untuk memaksimalkan potensi nilai-nilai universal.

Referensi :
– H Carr, Nasionalism and After, (London 1995: Mac Milian and co.M.Ltd)
– Roberts Jackson dan Georg Serensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional: Teori dan Pendekatan, (Yogyakarta 2014: Pustaka Pelajar)
– Reza Pankhurst, The Inevitable Caliphate? Sejarah Perjuangan Penegakan Khilafah
– Pemersatu Islam Global Sejak 1924, (Indonesia 2019: Quwwah Press)
– Dr. Akram Hijazi, Salafi Jihadi & Masa Depan Jihad di Palestina, (Kafayeh 2009)

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021