Menimbang Aqidah Tan Malaka

13 Juni 2020 | Opinion

Bapak Republik Indonesia, ya beliau adalah Ibrahim yang terlahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 02 Juni 1897 dan bergelar Datuk Sutan Malaka yang mengeluarkan konsep “Republik” untuk Indonesia sebelum Soekarno dan Hatta

Menimbang Aqidah Tan Malaka

Bapak Republik Indonesia, ya beliau adalah Ibrahim yang terlahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 02 Juni 1897 dan bergelar Datuk Sutan Malaka yang mengeluarkan konsep “Republik” untuk Indonesia sebelum Soekarno dan Hatta. Beliaulah yang menyusun sebuah gagasan masa depan Indonesia dengan judul bukunya Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia), buku yang disusun pada tahun 1925.

Tan Malaka terlahir layaknya dari keluarga Minangkabau yang taat akan agama Islam dan kuat pula memegang adat yang sampai sekarang dalam pandangan hidup orang Minangkabau terkenal dengan ungkapan Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat berpegang pada peraturan, pearaturan berpegang pada kitab Allah ta’ala), bahkan keponakan Tan Malaka sendiri memberikan kesaksian bahwa Tan Malaka sejak kecil sudah hafidz dan bisa tafsir Al Quran serta juga dijadikan guru muda. Sang Ibu Tan Malaka, menceritakan Nabi Adam as dan Hawa as serta Nabi Yusuf as. Tiada acap diceritakannya pemuka, piatu Muhammad bin Abdullah, entah karena apa mata Tan Malaka terus basah mendengarnya. Bahasa Arab dianggap Tan Malaka terus sampai sekarang dianggap sempurna, kaya, merdu, jitu dan mulia.

Tan Malaka menyadari sendiri sesuatu hal yang materiil dan imateriil dalam bukunya yang berjudul Islam dalam Madilog, “Yang Maha Kuasa itu bisa lebih kuasa dari hukum alam. Selama alam itu ada, salama itu pula hukum alam itu berlaku. Menurut hukum alam itu bendanya itulah yang mengandung kodrat dan menurut hukum itulah caranya benda itu bergerak berpadu, berpisah, menolak dan menarik dan sebagainya. Kodrat dan hukumnya yang berpisah sendirinya tentulah dikenal oleh ilmu bukti. Berhubungan dengan ini maka Yang Maha Kuasa  jiwa terpisah dari jasmani, surga atau neraka yang di luar alam ini adalah di luar daerahnya Madilog. Semuanya itu jatuh ke ranah kepercayaan semata-mata. Allah itu menurut logika tentulah tidak bisa “Maha Kuasa” kalau tidak segenap umat manusia, segenap jam dan detik dapat menentukan nasib manusia. Segenap detik di bisa perhatikan matahari berjalan, bintang dan bumi beredar, setiap detikpun tumbuh tumbuhan, hewan dan manusia dimatikan.”

Bagi Tan Malaka sosok Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam, beliau terlatih dan tergembleng dalam “University of Life” (Universitas Hidup), maka apabila Semenanjung Arabia membutuhkan persatuan dalam segala-galanya maka tampillah Muhammad bin Abdullah kedepan masyarakatnya, mengambil pimpinan sebagai propagandis, jederal, pembesar negara, pemimpin masyarakat dan Nabi.

Menurut Tan Malaka, dengan bangsa Arab, maka selesailah sudah lingkaran edaran dialektika! Dengan Nabi Musa as majulah kedepan filsafat ketuhanan 1 = 1 sebagai tesis. Setelah Nabi Isa as, maka timbullah tantangan berupa 3 = 1 sebagai anti tesis. Dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam terbentuklah sintesis, yakni kembalinya 1 = 1 dengan lebih sempurna dan lebih kaya isinya dari pada semula.

Dalam forum internasional Tan Malaka tidak tanggung-tanggung tampil dengan gagah berani menyampaikan pendiriannya, bahwa Islam adalah agama dan keyakinannya. Beliau menolak tuduhan kaum komunis yang mengatakan, “Pan Islamisme alat kapitalisme dan candu bagi rakyat, itu adalah tuduhan tidak benar”. Hampir semua pejuang yang tampil melawan penjajahan kapitalisme di Indonesia kebanyakan adalah pemuda-pemuda Islam. Sehabis pidato yang menghebohkan dunia komunisme itu, Tan Malaka menjawab pertanyaan, “Kalau saya berhadapan dengan manusia saya adalah komunis, karena diantara manusia banyak terdapat setan. Tetapi kalau saya menghadap Tuhan, saya adalah Islam”. Pokok permasalahannya karena Tan Malaka melihat bahwa dalam Islam juga terdapat ajaran yang melarang makan riba dan membayar gaji buruh buruh sebelum keringatnya mengering. Sebaliknya, Tan Malaka juga mengetahui bahwa komunisme tidak mempercayai adanya Tuhan. Juga, Tan Malaka adalah orang yang paling di benci oleh elite-elite Partai Komunis Indonesia karena berbeda padangan dalam hal perjuangan Indonesia merdeka 100% dan lain sebagainya.

Namun, seiring berjalannya waktu Tan Malaka banyak mengelilingi dunia seperti Filipina, Thailand, Vietnam, Belanda dan sebagainya, sampai pada akhirnya beliau tertarik untuk membaca buku-buku tentang komunisme seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, Friedrich Nietzsche dan lain-lain, sehingga pemahan keIslaman Tan Malaka sudah tidak terasah lagi secara mendalam. Tan Malaka mengakui pengaruh bacaan baru dan situasi dunia kala itu, terutama Revolusi Rusia pada tahun 1917, banyak mempengaruhi pandangan hidupnya. Pengertian yang masih Tan Malaka ingat dari tafsir Al Quran itu, tentulah tiada berarti lagi. Yang tinggal dibawah lantai kesadaran (subconciousness) ialah kesan semata-mata.

Pada akhirnya, kita bisa merunut dari awal keislaman beliau yang dari kecil di liputi oleh Qur’an namun di saat menulis Madilog ia menggunakan pendekatan antara sunnatullah dan pemahaman Asy’sya’irah dan ia mempertentangkannya. Adapun keterjebakannya tentang konsep tauhid yang harus bertumpu pada rasionalisme maka Tan terjebak dalam pola pemikiran Mu’tazilah walaupun tidak sepenuhnya ia Mu’tazilah karena tidak terlalu merasionalkan tentang hari akhir (Surga dan Neraka). Adapun tentang worldview politic ia menyantap ide baru dari pecahnya Revolusi Merah dan menyibukan dengan buku-buku Marx ini yang mempersulit ia mengurai tentang konsep Daulah Islam dan penegakkan hukum.

Kita harus akui bahwasanya pada era itu memang berkecamuk keras sekali model pemikiran terlebih Khilafah Islam terancam bubar yang menyebabkan kaum Muslimin mengambil pemikiran politik yang setidaknya paling mendekati nilai Islam. Walaupun pada akhirnya nilai-nilai di awal abad 20 itu ketika diurai oleh para ulama maka konsep-konsep seperti Demokrasi, Komunisme, Kapitalisme sangat bertentangan pada ranah yang fundamental.

Referensi: Tan Malaka dalam bukunya Islam Dalam Madilog, Uraian Mendadak dan Pandangan Hidup.

Mizanul Muslim Jilid 2

Judul : Mizanul Muslim Jilid 2
Penulis : Abu Ammar Abu Fatiah Al Adnani
Penerbit : Cordova Mediatama
Ukuran : 16,5 x 24 cm
Halaman : 786 Halaman
Berat : 1.150gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2020