Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Menjawab Tuduhan Kerasnya Syari’at Islam

16 Februari 2021 | Opinion

Kita tidak bisa berkata tidak ketika mendengar kata “Khilafah” meski khalayak ramai otomatis alergi untuk mendengarnya maupun membahasnya. Ada Sebagian orang atau kelompok kepercayaan/agama yang mempertanyakan terkait nasib mereka yang

Menjawab Tuduhan Kerasnya Syari’at Islam

Kita tidak bisa berkata tidak ketika mendengar kata “Khilafah” meski khalayak ramai otomatis alergi untuk mendengarnya maupun membahasnya. Ada Sebagian orang atau kelompok kepercayaan/agama yang mempertanyakan terkait nasib mereka yang berada dilingkungan mayoritas Islam.

Pada pembahasan ini, problema yang harus dipecahkan adalah persoalan pemeluk agama, atau apa yang dalam kajian diistilahkan dengan “non muslim di dalam masyarakat Islam”.

Persoalan ini harus dipecahkan dalam suasana yang terus terang dan terbuka berdasarkan fakta-fakta yang nyata, bukan dengan basa-basi dan kemunafikan politik yang mengakibatkan celah bagi musuh islam untuk memulti tafsirkan hal ini.

Syaikh Yusuf Qaradhawi ulama yang produktif tentang konsepsi bernegara ternyata telah menulis buku tentang “Solusi Islam” terhadap pemeluk agama minoritas yang diberi tajuk : “Hatmiyyat al-Hal al- Islami” yang isinya dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Tidak benar klaim sebagian masyarakat yang semuanya adalah orang-orang sekuler non muslim dan juga Kristen yang mengatakan, bahwa orientasi “pemecahan secara Islam” dan menurut “hukum Islam” adalah bertentangan dengan “prinsip kebebasan” bagi kelompok non muslim. Sebab hal itu adalah prinsip yang sudah diakui secara internasional dan secara Islam. Mereka telah lupa atau pura-pura lupa akan sesuatu yang lebih penting. Yakni, berpaling dari “Hukum Islam” dan “Solusi Islam”. Demi kepentingan non muslim yang minoritas itu bertentangan dengan prinsip kebebasan umat Islam dalam mengamalkan kewajiban agamanya sebagai mayoritas.

    Apabila hak minoritas bertentangan dengan hak mayoritas, mana yang harus diprioritaskan ?

    Logika demokrasi yang mereka yakini dan mereka kumandangkan itu, tentu akan memprioritaskan hak mayoritas dari pada minoritas. Beginilah kondisi umum yang berlaku di seluruh dunia. Tak ada satu sistem pun yang secara aklamasi disepakati secara bulat oleh semua manusia. Sebab, manusia itu diciptakan berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Hanya dengan satu sistem tertentu, kesepakatan mayoritas harus diterima, dengan syarat tidak menindas minoritas dan merampas hak dan kehormatan mereka. Apa yang memberatkan orang-orang Kristen atau lainnya untuk mengalah, jika itu untuk memberikan hak kepada umat Islam sebagai penduduk mayoritas, dalam mengatur diri mereka sendiri berdasarkan keyakinan agama mereka, sehingga dapat menerapkan syari’at Allah dalam upaya meraih ridha-Nya?
    Apabila pemeluk agama minoritas tidak mau demikian dan bersikeras untuk menggusur apa yang diyakini oleh mayoritas sebagai agama yang harus diterapkan, maka yang demikian itu berarti bahwa minoritas telah memaksakan sebuah kediktatoran terhadap mayoritas. Tiga juta orang atau kurang misalnya, dipaksakan untuk mengatur orang yang berjumlah 40 juta atau lebih. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima baik oleh logika agama maupun oleh logika sekuler.

  2. Sepintas lalu, nampak ada pertentangan antara hak mayoritas muslim dengan minoritas non muslim. Padahal, sebenarnya tak ada pertentangan. Sebab, orang Kristen yang telah rela diperintah oleh sistem sekuler non agama itu, tentu tak akan merasa berbahaya jika diperintah secara Islam. Bahkan seorang Kristen yang paham benar akan agamanya harus menyambut pemerintah Islam. Sebab, pemerintah Islam ditegakkan berdasarkan iman kepada Allah, Rasul-Nya, dan hari akhir, serta ditegakkan pula berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang kokoh yang telah diserukan oleh para Nabi. Bagaimana mungkin, pemerintah seperti ini yang merupakan pemerintah Rabbani, bermoral, dan berperikemanusiaan itu menjadi sumber ketakutan atau mengganggu ketenteraman para penganut sebuah agama yang beriman kepada Allah, Rasul, dan hari akhir. Padahal, mereka juga tidak terguncang oleh pemerintah sekuler non agama yang justru menginjak-injak agama; tidak memperkenankan adanya agama; andaikan memperkenankan, hanyalah dalam ruang lingkup kehidupan yang sangat sempit (urusan individual).

    Akan lebih baik jika seorang Kristen itu ikhlas dalam menerima pemerintah Islam dan way of life nya. Islam diambilnya sebagai sistem dan perundang-undangan secara keseluruhan. Sementara Muslimin mengambilnya atas dasar bahwa itu adalah Din yang diridhai Allah ta’ala.

    Dan lebih baik bagi orang-orang Kristen seperti dikatakan oleh Ustadz Hasan Hudhaibi -pemimpin Ikhwanul Muslimin- apabila mereka memahami, bahwa umat Islam mengambil hukum tersebut atas dasar kewajiban agama, yang senantiasa dalam kontrol Allah ta’ala. Pemikiran tersebut, akan melindungi mereka dari kemacetan dalam melaksanakan hukum.

    Dengan demikian, para cerdik-cendekia Kristen yang berwawasan luas akan menyambut sistem Islam. Karena sistem tersebut merupakan tembok yang mampu membendung materialisme yang mengancam semua agama, agar bertekuk lutut di bawah tangan komunisme internasional, seperti dikutip dari kata-kata al-‘Allamah Faris al-Khuri.

    Di sini kami ingin meluruskan kekeliruan banyak orang yang mengira, bahwa undang-undang buatan manusia yang diimpor dari Barat itu adalah perundang-undangan yang mempunyai sangkut-paut dengan Kristen. Yang demikian itu adalah suatu kesalahan besar.

    Mereka yang mengkaji dasar-dasar perundang-undangan dan sumber historisnya tahu persis persoalan tersebut. Bahkan, sebagai bukti yang tidak dapat disangkal lagi, bahwa fiqih Islam dinegara-negara Islam, lebih dekat dengan agama Kristen dan pemeluknya dari pada perundang-undangan barat itu. Karena asal-usul agamanya disatu sisi, dan karena pengaruhnya terhadap lingkungan di sekitarnya yang merupakan bagian dari wilayah itu.

  3. Anggapan yang menyatakan bahwa diberlakukannya sistem Islam itu mengandung unsur pemaksaan terhadap, ‘non muslim’ dalam hal yang bertentangan dengan agama mereka adalah tuduhan tidak benar.

    Sebab, Islam itu mempunyai empat cabang: ‘aqidah, ibadah, akhlak, dan syari’ah. Mengenai ibadah, Islam tidak mewajibkannya kepada setiap orang. Dalam hal ini, ada dua buah ayat yang diturunkan khusus untuk menjelaskan hal tersebut. yaitu, satu ayat Makkiyah, dan satu lagi ayat Madaniyah. Dalam ayat pertama, khithab (sasaran) nya ditujukan kepada Rasulullah shalallahu alaihiwasalam, sebagai berikut:

    “Apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”, (QS. Yunus : 99)
    Ayat kedua, Allah berfirman dengan nada yang keras sebagai berikut:
    “Tidak ada paksaan untuk masuk pada agama Islam”. (QS. Al Baqarah : 256)

    Mengenai ahli dzimah, telah diriwayatkan dari sahabat :”Biarkanlah mereka dengan keyakinan agamanya”.

    Sejak zaman Khulafa’urrasyidin, orang-orang Yahudi dan Kristen melaksanakan ibadah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama mereka dengan bebas dan aman. Sebagaimana tertuang dalam perjanjian yang ditulis dalam piagam Abu Bakar dan Umar radhiyallahu’anhu. Antara lain, piagam perdamaian antara Umar bin Khatab dengan penduduk Elia (Quds).

    Di antara kepekaan Islam, bahwa Islam tidak mewajibkan zakat, tidak pula jihad kepada yang bukan muslim. Sebab, zakat dan jihad termasuk dalam “shibghah” (identitas) agama. Dan dua aspek tersebut termasuk dalam kategori ibadah yang besar dalam Islam. Padahal, zakat adalah sebagai pajak dalam bentuk lain untuk setiap kepala, yaitu apa yang disebut dengan “Jizyah”, di mana wanita, anak-anak, orang miskin, dan orang lemah tidak dikenai beban.

    Jika ada sebagian orang yang merasa keberatan dengan istilah tersebut, maka silahkan menyebutnya dengan istilah apa saja yang kalian sukai.

    Orang-orang Kristen Arab Bani Taghlib meminta kepada Umar bin Khathab rhadiyallahu’anhu untuk membayar seperti orang-orang Islam dalam bentuk sedekah yang berlipat ganda dan mereka tidak membayar jizyah. Maka Umar pun menerima permohonan tersebut, dan dibuatlah perjanjian dengan mereka. Mengenai masalah ini, Umar berkata : “Mereka itu bodoh, rela terhadap isinya, tetapi tak mau menerima istilahnya“.

    Adapun aspek akhlak, yaitu dalam pokok-pokoknya tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lain, untuk sesama agama samawi.

    Tinggal aspek syari’ah dalam arti khusus, yaitu pengertian hukum yang mengatur hubungan antar sesama manusia; antara perorangan dengan umatnya; perorangan dengan masyarakat; perorangan dengan negaranya dan negara lain. Adapun hubungan-hubungan keluarga yang menyangkut dengan perkawinan, perceraian, dan semacamnya, mereka bebas antara bertahkim kepada agama mereka, atau kepada syari’at Islam. Mereka tidak dipaksa untuk bertahkim kepada hukum Islam.

    Barangsiapa yang ingin memilih sistem Islam tentang hukum waris misalnya, seperti yang terjadi di negara-negara Arab, maka itu boleh-boleh saja. Dan barang siapa yang tidak mau, ya … terserah kepada pilihannya sendiri.

    Adapun mengenai hukum-hukum lainnya, seperti hukum perdata, perdagangan, administrasi, dan semacamnya, maka persoalannya tidak berbeda dengan hukum-hukum yang lain, disadur dari Barat atau Timur, yang disetujui oleh mayoritas.

    Dengan demikian, Ahlu dzimmah (non muslim dalam masyarakat Islam pent.) mempunyai mahkamah (pengadilan) tersendiri untuk menyelesaikan perkara mereka jika mau. Jika tidak, mereka harus ikut kepada pengadilan Islam seperti telah direkam dalam sejarah.

    Oleh karena itu, kita melihat bahwa Islam tidak memaksa mereka untuk meninggalkan satu perkara yang menurut agama mereka dianggap sebagai “suatu kewajiban”. Tidak pula memaksa mereka untuk melakukan suatu perkara yang menurut pandangan mereka adalah “haram”. Tidak pula dipaksa untuk memeluk suatu agama yang tidak dipandang keyakinannya sebagai suatu kebebasan mereka semata.

    Dalam dari pada itu, ada hal-hal yang diharamkan oleh Islam, dan menurut mereka adalah halal. Seperti khamr, babi, dan sebagainya. Dan masalah-masalah yang halal bagi manusia mempunyai keleluasaan untuk meninggalkannya. Oleh sebab itu, jika ada seorang Kristen tidak minum khamr, maka itu tidak ada masalah dalam agamanya. Bahkan kami tak yakin, bahwa suatu agama mensupport orang meminum khamr dan memberkati kehidupan mabuk-mabukan dan glamour. Dalam Injil disebutkan: khamr yang sedikit itu menyegarkan perut besar. Dengan demikian, orang-orang Kristen sendiri berbeda pendapat tentang sikap mereka terhadap khamr dan minuman-minuman. keras.

    Begitu pula seorang Kristen akan lega sepanjang hidupnya apabila tidak makan daging babi. Sebab, makan daging babi sebenamya bukan merupakan suatu lambang dalam agamanya, bukan pula termasuk sunnah para Nabi. Justru, itu diharamkan dalam agama Yahudi sebelum Islam. Meski demikian, sebagian besar para ulama Islam membolehkan kepada orang-orang kristen ahli dzimmi untuk makan daging babi, minum khamr, dan memperdagangkan antara sesama mereka di kampung-kampung dan pemukiman khusus mereka, dengan syarat tidak ditonjolkannya di tengah-tengah lingkungan masyarakat Islam, dan tidak menyinggung perasaan umat Islam.

“Ini merupakan puncak toleransi yang tak ada bandingannya”.

Referensi : Dr. Yusuf Qardhawi, Prioritas Gerakan Islam, Al Ishlahy Press, Jakarta

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021