Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Muhammad Isa Anshary Singa Podium

21 September 2020 | Figure

Sejak dahulu Islam selalu di warnai orang-orang hebat. Sudah menjadi sunatullah bahwa takan pernah sepi dari kemunculan tokoh-tokoh Islam yang kuat dan berpengaruh. Ia bisa saja disebut Mujadid, Firqah Najjiyyah atau Tha’ifah al-Manshurah.

Muhammad Isa Anshary Singa Podium

Sejak dahulu Islam selalu di warnai orang-orang hebat. Sudah menjadi sunatullah bahwa takan pernah sepi dari kemunculan tokoh-tokoh Islam yang kuat dan berpengaruh. Ia bisa saja disebut Mujadid, Firqah Najjiyyah atau Tha’ifah al-Manshurah.

Jika Libya memiliki Umar Mukhtar yang di kenal dengan singa padang pasirnya karena keberanian dan kegagahannya serta mampu membangkitkan para mujahidin dalam melawan para imperalis Italia yang mencoba mengganggu Islam di negrinya. Di Indonesia pun ada singa Islam namun sektornya yang berbeda. Ialah singa podium Isa Ansary yang dikenal setiap orasinya mampu mengobarkan ghirah setiap orang yang mendengarnya.

Tak hanya cakap dalam berpidato, Isa Ansary pun seorang pemikir dan penulis yang aktif. Jejak pena yang di hasilkannya pun menjadi sebuah pelopor dari suatu pemikiran, pandangan, ide dan cita. Dialah Muhammad Isa Anshary, sosok lelaki yang lahir di Maninjau, Agam, Sumatra Barat, pada Juli 1916.

Terkait tulis-menulis Isa Anshary pernah menjabat sebagai pemimpin Redaksi Aliran Muda dan Laskar Islam. Dia juga pernah menjadi pembantu tetap Pelita Andalas Medan dan beberapa penerbitan di Bandung. Beberapa karya-karya tulis Isa Anshary yang berhasil di suguhkan untuk umat diantaranya yaitu, 1). Islam dan Demokrasi (1938), 2). Tuntunan Puasa (1940), 3).Islam dan Kolektivisme, 4). Pegangan Melawan Fasisme Jepang (1942), 5).Barat dan Timur (1948), 6). Falsafah Perjuangan Islam (1949), 7). Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953), 8). Islam dan Nasionalisme (1955), 9).Pembela Negara Asing (1955), 10).Islam Menentang Komunisme (1956), 11). Umat Islam Menentukan Nasibnya Sendiri (1961), 12). Mujahid Dakwah (1966), dan masih banyak lagi karya tulis dari sang Isa Anshary yang tak dapat di tuliskan dalam tulisan yang singkat ini. Dengan dua kekuatan yang melekat dalam dirinya berorasi dan menulis , Isa Anshary dapat menunaikan amanat dari Allah, yaitu menyampaikan hikmah dan pelajaran. Lewat lisan dan tulisan, Isa Anshary  secara tegas dan benar menyuarakan kebenaran sedemikian rupa pendengar dan pembaca dapat membedakan antara yang haq dan batil.

Sejak di usianya yang masih belia Isa Anshary memang dididik dalam lingkungan yang kental dalam keilmuan Islam. Dia mempelajari Ilmu Agama dari kedua orangtuanya, selain itu juga dia menimba ilmu di surau. Ketika Remaja dia juga merupakan anak yang aktif di berbagai organisasi keislaman, di antaranya Muhammadiyah, Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia, dan Indonesia Berparlemen. Pada usia 16 tahun, setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Islam, Isa Anshary pergi ke Bandung untuk memperluas cakrawala pengetahuannya di berbagai kursus ilmu pengetahuan umum. Wawasan Keislamannya pun semakin meluas dalam organisasi Persatuan Islam (PERSIS) yang di kemudian hari tahun 1953 hingga 1960 dia terpilih menjadi Ketua Umum Pusat PERSIS.

Pada masa pendudukan Jepang Isa Anshary sempat menjadi angota aktivis dari MIAI (Majelis Syuro A’la Indonesia) bersama para ulama lainnya. Setelah kegagalan Jepang di perang dunka ke II Isa Anshary dan kawan-kawan sepakat untuk memperjuangan kalimatul haq lewat Masyumi dan Persis itulah ranah ia berpolitik. Baginya politik sangat penting, karena itu politik adalah “alat untuk mencapai cita-cita umat Islam.”

Dalam sikap Jihadnya, Isa Anshary menganggap perjuangan PERSIS sungguh vital dan kompleks. Untuk itu dalam pembinaan kader, Isa Anshary menenkankan  madarasah sebagai tempat kader-kader muda PERSIS dalam menyebar dan menanamkan pemahaman Islam yang benar yang kemudian hari nanti menjadi gelombang besar sebagai suatu kekuatan umat dalam menegakan agama yang mulia ini. Semangat Isa Anshary dalam hal pembinaan kader tidak pernah padam sekalipun dia harus mendekam di penjara  dalam tahanan rezim Orde Lama di Madiun kala itu. Sebab pada masa itu tercetus perkataan beliau, ‘’Juru dakwah adalah lisan Ketuhanan yang berbicara kepada manusia dengan istilah-istilah manusia itu sendiri,’’ Ujar Isa Anshari sang Singa Podium.

Isa adalah salah satu orang yang paling vokal atas kekecewaan dihapusnya tujuh kata dalam piagam Jakarta. Saat itu sikap kaum Muslim terbelah menjadi dua ada yang mengangkat senjata seperti SM. Kartosuwiryo dan ada pula yang mengambil jalur parlemen seperti Natsir. Jalan parlementer inilah yang ditempuh oleh Isa Anshary untuk mengambil hak penegakkan Islam.

Soal konsep negara Islamnya, Isa Anshary pernah membuat kesal kaum nasionalis. Dalam sebuah rapat raksasa, Isa Anshary menyebut bahwa nasionalisme itu anti-Islam. Menurut Isa, mengapa kaum nasionalis menolak negara Islam, itu karena mereka adalah “Muslimin Palsu.” Di Indonesia, kebanyakan kaum nasionalis bukan tidak beragama. Banyak dari mereka yang Islam. Dicap Muslimin Palsu jelas bikin kaum nasionalis yang penganut Islam kesal.

Isa Anshary tidak hanya dikenal oleh kalangan Islamis. Ia juga menjadi panutan bagi kaum Komunis seperti DN Aidit yang pernah tinggal selama empat tahun. Ahmad Mansur dalam “Api Sejarah” mengatakan, “Dalam hubungan keluarga, Kiayi Hajj Isa Anshary sebagai paman Aidit.”

Dimasa setelah lengsernya orde lama Isa Anshary mulai menghirup udara segar yang telah lama mendekam di era orde lama. Namun di tetap pada pendiriannya tentang syari’at Islam harga mati tidak tergoyah permainan orde baru kala itu. Saat akhir hayatnya pun Isa Anshary dikenal dengan singa podium karena pada era itu masih belum tergantikan.

Sang mendiang singa podium berpesan kepada kaum Muslimin; ‘’Dunia dan Manusia jangan dibiarkan hanya mendengarkan kebohongan dan kepalsuan,’’ Untuk itu, berdakwahlah! Gunakan lisan dan tulisan sebagai senjata ampuh dalam membela Islam. (Muhammad Isa Anshari).

Referensi : Lima Puluh Pendakwah Pengubah Sejarah , Karya M. Anwar Djaeleni

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021