Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Muhammad Natsir Berbicara Pendidikan; Solusi Pendidikan Indonesia

18 Agustus 2020 | Opinion

Beberapa pekan lalu terdapat pemberitaan dari salah satu media online Indonesia yang cukup mengelus dada. Dalam pemberitaan tersebut termuat suatu berita mengenai tingginya permintaan dispensasi pernikahan dini yang diajukan oleh sejumlah siswa sekolah menegah atas (SMA) di Jepara.

Muhammad Natsir Berbicara Pendidikan; Solusi Pendidikan Indonesia

Beberapa pekan lalu terdapat pemberitaan dari salah satu media online Indonesia yang cukup mengelus dada. Dalam pemberitaan tersebut termuat suatu berita mengenai tingginya permintaan dispensasi pernikahan dini yang diajukan oleh sejumlah siswa sekolah menegah atas (SMA) di Jepara. Ironisnya dispensasi pernikahan yang diajukan lantaran terjadinya kehamilan di luar nikah yang cukup tinggi di kalangan remaja. Ada sebanyak 237 perkara yang dilaporkan dalam periode Januari-Juli 2020. Dari angka tersebut 52 persen pengajuan lantaran hamil di luar pernikahan dan sisanya 48 persen tidak hamil. Pengajuan ini di dominasi oleh remaja usia 18 tahun. Keadaan yang sangat memprihatinkan untuk negara dengan mayoritas penduduk muslim akan tetapi ruh islam dalam negeri ini seolah lenyap. Bagaimana mungkin untuk negara dimana Islam bertengger di negeri ini namun terjadi kerusakan moral diamana-mana. Jawaban atas itu semua karena telah hilangnya pemahaman Islam yang benar dalam diri masyarakat. Menyebarnya virus pemikiran yang begitu cepat merusak generasi-genarasi bangsa seperti,  Sekulerisme, Kapitalisme, Pluralisme atau pemikiran-pemikiran sesat lainnya yang telah merengsek masuk dalam semua lini tak terkecuali Lembaga Pendidikan yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan-kerusakan moral dalam suatu tatanan masyarakat.  Pemberitaan kehamilan di luar nikah di kalangan remaja, atau kenakalan remaja lainnya yang seolah tak pernah sepi dalam tiap tahunnya, menandakan ada yang salah dengan  Pendidikan kita.

Dalam UU Sisdiknas no.20 tahun 2003 menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengebangkan pontensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Menurut Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002 : 263 – Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik. Dalam Tap MPR NO II/MPR/1993 menegaskan bahwa tujuan Pendidikan adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, maju, mandiri, Tangguh, cerdas, kreatif, berdisiplin, beretos kerja, professional serta sehat jasmani dan rohani. Dengan jelas  dalam UU negara bahwa tujuan pedidikan kita adalah lebih bagaimana bisa membentuk peserta didik yang tak hanya pandai dalam ilmu pengetahuan namun yang terpenting adalah menjadikan peserta didik menjadi manusia yang bermoral , berakhlak mulia dan hal itu bisa terjadi jika di bangun di atas pemahaman Agama yang benar berdasarkan apa yang di ajarkan Rasulullah, Sahabat, serta para Salafush Shalih. Lembaga Pendidikan dimana sebagai otoritas dan sarana dalam tempat pembelajaran sudah sepatutnya memperhatikan dan menerapkan akan hal ini dan menjadikan pelajaran Agama menjadi pokok utama yang wajib di kuasai oleh para pendidik maupun peserta didik.

Muhammad Natsir salah satu tokoh politik yang cukup di segani baik di kancah perpolitikan Nasional dan International pun pernah mengomentari mengenai bagaimana system Pendidikan itu seharusnya di bangun demi melahirkan manusia-manusia yang tak hanya pandai dalam ilmu pengetahuan akan tetapi juga memilik moral yang tingi hingga menghasilkan peradaban gemilang sebagaimana peradaban Islam, yang di catat oleh tinta emas dalam lembaran sejarah dimana Ilmu Agama telah menjadikan antara nilai moral seseorang dan pengetahuan berbanding lurus. Sebagai poltikus yang namanya telah di kenal, banyak yang tidak tahu bahwa sebelum terjun ke dunia politik Natsir adalah seorang pejuang Pendidikan yang bisa dikatakan sejajar dengan Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh Pendidikan lainnya. Bahkan prestasi Natsir di dunia Pendidikan perlu diberi catatan tersendiri. Selain keberaniannya mendirikan wilde school (sekolah liar) dan perhatiannya yang besar atas penanaman nilai-nilai Islam dalam pendidikan, Natsir juga begitu peduli pada nasib Pendidikan rakyat jelata yang tak punya hak Pendidikan di masa itu. Bahkan, Ketika dia menjabat sebagai perdana mentri bersama Mentri Agama Wahid Hasyim salah satu prestasinya ialah membuat keputusan mewajibkan pelajaran Agama di terapkan di sekolah-sekolah umum. Bagi Natsir bahwa Pendidikan harus berdasarkan ‘’Tauhid’’. Pendidikan yang berdasar tauhid ini bukanlah Pendidikan yang mengajarkan agama an sich, melainkan yang mampu memberi dasar pengetahuan Islam yang kuat kepada seluruh pelajar Muslim, apa pun yang di pelajarinya ; dan pada saat yang sama harus di kembangkan berbagai kepakaran di berbagai lapangan kehidupan. Menjadikan Islam basis nilai fundamental dalam pengembangan berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Dalam prinsip dasar dan tujuan Pendidikan yang di jelaskannya, dalam majalah Pandji Islam tahun 1938. Natsir tak ingin bahwa umat Islam hanya menguasai ilmu-ilmu agama sehingga tertinggal dalam persaingan global. Demikian sebaliknya. Dia juga tak ingin umat Islam hanya mempelajari ‘’ilmu-ilmu umum’’ dan buta akan agamanya yang menyebabkan mereka tidak mengetahui misi hidup sesungguhnya berdasarkan petunjuk Islam. Menurut Natsir Tauhid adalah pangkal dari semua jenis Pendidikan. Apa pun yang di ajarkan dalam sistem mana pun pada prinsipnnya harus menjadikan peserta didiknya bertauhid. Setelah bertauhid setiap peserta didik harus mampu beramal dan melakukan aktivitas untuk meraih dua hal yakni kehidupan sejahtera di akhirat dan di dunia. Lebih lanjut menurutnya, kedua hal tersebut harus di ajarkan secara seimbang kepada peserta didik. Bila salah satunya hilang akan terjadi sebuah ketimpangan dalam pencapaian kehidupan. Sebagai mayoritas dengan penduduk muslim, sudah selayaknya Lembaga Pendidikan Indonesia bisa menerapkan apa yang telah digagas oleh bapak Natsir yakni menanamkan nilai-nilai tauhid dalam peserta didik  yang tersimpul dalam dua kalimat syahadat dasar yang menjadi pokok dari kemrdekaan dan kekuatan rohani, dasar dari kemajuan dan kecerdasan manusia. Dengan begitu dapat di pastikan bahwa di negeri ini akan lahir genaerasi-genarasi yang memiliki peradaban yang luhur yang menghantarakan manusia kepada  kemajuan.

Mizanul Muslim Jilid 1

Judul : Mizanul Muslim Jilid 1
Penulis : Abu Ammar & Abu Fatiah Al Adnani
Penerbit : Cordova Mediatama
Ukuran : 16,5 x 24 cm
Halaman : 672 Halaman
Berat : 1.010gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021