Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Muhammad Zia ul Haq: Presiden Mujahid

29 Desember 2019 | Figure

Kalian bisa bayangkan jika pemerintah setempat mendukung dakwah dan jihad untuk melibas kekuatan kafir barat yang merangsak ingin memasuki pintu gerbang negerimu. Dan seperti apa jadinya reaksi barat terhadap tokoh yang mendukung dakwah dan jihad ini.

Muhammad Zia ul Haq: Presiden Mujahid

Kalian bisa bayangkan jika pemerintah setempat mendukung dakwah dan jihad untuk melibas kekuatan kafir barat yang merangsak ingin memasuki pintu gerbang negerimu. Dan seperti apa jadinya reaksi barat terhadap tokoh yang mendukung dakwah dan jihad ini.

Presiden ke-6 Pakistan ini lahir di Jalandhar Pakistan pada tanggal 12 Agustus 1924. Ia merupakan putra sulung dari Muhammad Akbar, seorang guru di sekolah Militer British. Setelah menyelesaikan Sekolah Tingkat Atas (STA) di Shimla, melanjutkan pendidikan B.A Honors di St. Stephen College Delhi. Ia pernah menjabat sebagai perwira di angkatan tentara Inggris pada tahun 1943 dan bertugas di Burma, Malaya dan juga di Indonesia ketika perang dunia ke 2 berlangsung.

Dikabarkan Zia memiliki peran yang besar dan harus diketahui oleh masyarakat Indonesia. Ketika pasukan Inggris yang sedang bertempur bersama pejuang-pejuang Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaannya di Surabaya, ada beberapa pasukan dari Pakistan dan juga India (Gurkha) yang didatangkan oleh tentara inggris. Salah satu pasukan Pakistan yang ikut dalam misi tersebut adalah Jendral Zia-ul Haq. Tentara tentara Pakistan mulai terketuk hatinya ketika melihat banyak musuh-musuh yang di hadapi adalah saudara-saudara mereka seiman dan mereka menyautkan takbir, bahkan mereka membelot dari pasukan Inggris dan membantu rakyat-rakyat Surabaya dalam memerangi Inggris.

Ketika Ali Bhutto menurun setelah terjadinya berbagai kasus korupsi, pelanggaran HAM dan memaksakan kebijakan yang berhaluan sosialis dimana notebene Pakistan adalah negeri Muslim. Pada saat itu lah Zia-ul Haq mengambil sebuah kesempatan, maka pada tanggal 5 Juli 1977, ia melakukan kudeta tak berdarah menggulingkan pemerintahan Bhutto dan menegakkan Militer Darurat.

Zia memulai islamisasi pemerintahan Pakistan dengan mengganti sistem parlemen dengan sisten Majelis Syura. Hampir seluruh anggota dewan Syura yang berada di bawah kepemimpinan Zia adalah para intelektual tinggi, cendikiawan, ulama dan jurnalis yang profesional. Majelis Dewan Syura ini bertindak sebagai Penasehat Presiden, yang mana sekitar 284 anggotanya diajukan langsung oleh presiden, sehingga tidak ada tempat lagi untuk menduduki dewan ini.

Berbagai kebijakan telah dilakukan Zia dan mendapat dukungan penuh dari rakyat Pakistan. Mayoritas rakyat Pakistan mendukung islamisasi Pakistan yang meliputi hukum, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan. Kebijakan-kebijakan ini mendapat kritikan dan penolakan dari kaum sekuler, minoritas dan liberal. Dan justru mendapat dukungan penuh dari partai Islam, seperti Jamaat e Islami.

Ketika Uni Soviet melakukan invasi militer ke Afghanistan pada tahun 1980, Zia menjadi penyangga perlawanan Afghanistan membendung auman Beruang Merah. Zia menjadi donatur, perantara sekaligus pelaksana bantuan bagi Afghanistan untuk melawan komunis Uni Soviet.

Selain itu, Zia juga memobilisasi para mujahidin, dukungan intelijen dan mendistribusikan bekal persenjataan bagi para pejuang Islam. Bahkan saat itu, Pakistan menampung lebih dari 3 juta pengungsi dari Afghanistan. Bisa dibilang bahwa saat itu Pakistan menjadi pusat konsolidasi bagi para mujahidin yang akan berjuang ke Afghanistan. Zia yang merupakan seorang jenderal turut menyusun strategi perang melawan Soviet.

Bukan hanya itu, Zia juga mengkampanyekan perjuangan melawan Soviet kepada seluruh para pemimpin Dunia Islam. Zia melakukan hubungan dengan tokoh gerakan Islam, bertujuan memobilisasi para mujahidin dari seluruh dunia, dan usaha itu berhasil.  Para mujahidin dari negara-negara Arab, Afrika, Asia, Chechnya, dan bahkan dari negara Eropa dan Amerika.

Dr Abdullah Azzam menuturkan dalam Tarbiyah Jihadiyah bahwa Zia adalah seorang pemimpin yang mulia. Di saat para pemimpin Islam lainnya takut bersuara dan mempermasalahkan jihad di Afghanistan, Zia berdiri tegak membela dan dengan berani mencela Rusia sebagai perusak kedamaian yang ada.

Saat itu, salah seorang penguasa Arab yang menjadi utusan OKI mengatakan kepada Zia, “Kami harap Anda sudi menandatangani. Kami ingin menghentikan perang dan kami ingin segera memecahkan persoalan Palestina.”

Zia-ul Haq menjawab, “Apakah Anda berpikir bahwa jihad di Afghanistan hanyalah beberapa tembakan peluru di daerah perbatasan? Atau seseorang meletakkan sebuah ranjau dan kemudian lari? Ketahuilah bahwa dari data statistik yang berhasil direkam satelit pemerintah Pakistan, pesawat pesawat tempur yang hancur dan rontok selama peperangan sampai permulaan tahun 1988 sebanyak 2080 buah. ” Mendengar penuturan Zia-ul Haq, si penguasa Arab ini hanya bisa berseru, “Ha” dan “Ha” saja.

“Dengarlah, ” kata Zia-ul Haq melanjutkan, “Tank-tank Rusia yang berhasil dihancurkan sebanyak 17.000 buah dan kendaraan-kendaraan pengangkutnya sebanyak 11.000 buah. ” Utusan itu semakin ternganga mulutnya dan berkata, “Demi Allah, saya tidak tahu kalau demikian keadaannya. ” Ia pikir Mujahidin hanya memasang dua ranjau saja untuk menghadang tank-tank Rusia. Selesai persoalan, kemudian lari ke Afghanistan. Ia tidak tahu bahwa Rusia tidak mampu keluar sejak masuk ke Afghanistan. Mereka terperangkap di Afghanistan selama sembilan tahun.

Kemudian mereka mengadakan sebuah konferensi perdamaian di kota Karachi. Kaum Muslimin dan para dai datang dalam konferensi itu. Mereka memuji Gorbachev dan Rusia karena cinta perdamaian dan mau menarik pasukannya dari Afghanistan. Dalam kesempatan itu, Zia-ul Haq turut hadir memberikan suaranya.

Dia berkata, “Saya tidak tahu atas dasar apa kita menyanjung dan memberikan pujian kepada Rusia. Rusia adalah pencuri yang masuk sebuah rumah, membakar harta benda yang ada di dalamnya dan membunuh penghuninya. Lantas pantaskah seorang pencuri mendapatkan pujian?”

Pada, 17 Agustus 1988, Muhammad Zia ul-Haq menjadi korban dalam kecelakaan pesawat Hercules C-130 yang dinaikinya. Zia ul-Haq wafat bersama para pejabat, politisi, dan para jendral Pakistan yang mendukung para Mujahidin. Kecelakaan dekat Bhawalpur itu juga menewaskan Duta Besar Amerika Serikat untuk Pakistan.

Kecelakaan ini disinyalir merupakan agenda konspirasi untuk menyingkirkan Zia. Barat tentu tidak rela jika kepemimpinan Islam kembali berjaya. Maka, dengan menghalalkan segala cara mereka membunuh Zia dan aparaturnya yang membela mujahidin. Selamat jalan Sang Jenderal,  ketegasanmu dalam membela Islam akan diwarisi pemimpin-pemimpin Islam di masa depan. Wallahu a’lam bi shawab.

Referensi : Dr. Abdullah Azzam dalam bukunya Tarbiyyah jihadiyyah

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021