Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Pancasila Dalam Pandangan Buya Hamka

25 September 2020 | Opinion

Semenjak pasca pemilu 2019 maupun semenjak dibentuknya atau dirumuskannnya Pancasila, bangsa Indonesia tidak henti-hentinya untuk bergulat dalam hal menafsirkan Pancasila itu sendiri. Kali ini kita akan menyimak pandangan Buya Hamka terkait Pancasila.

Pancasila Dalam Pandangan Buya Hamka

Semenjak pasca pemilu 2019 maupun semenjak dibentuknya atau dirumuskannnya Pancasila, bangsa Indonesia tidak henti-hentinya untuk bergulat dalam hal menafsirkan Pancasila itu sendiri. Kali ini kita akan menyimak pandangan Buya Hamka terkait Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa, urat tunggangnya Pancasila, lebih condong kepada percaya, bahwa bukanlah kaum pergerakan, perkumpulan dan partai Islam yang dituju oleh Presiden Soekarno seketika beliau mengeritik, karena ada orang yang hanya berjuang dengan Ketuhanan Yang Maha Esa saja. Bukanlah beliau yang pernah berkata kepada salah seorang pemimpin kita, bahwa beliau tertarik sangat dengan ideologi “falsafah keragaman”, bukan filsafat pertentangan + kebendaan. Dan “falsafah keragaman dan perdamaian” itu hanya ada dalam Ketuhanan Yang Maha Esa saja. Yang beliau maksud barangkali adalah golongan umat Islam atau entah golongan pemeluk agama lain yang tidak mengerti perjuangan, yang agamanya membeku dan membisu.

Oleh karena percaya bahwa ini yang beliau maksudkan, sebagaimana ternyata juga dalam buku falsafat beliau “Lahirnya Panjtasila” yang di buku itu beliau menganjurkan supaya umat Islam turut berjuang menegakkan negara, sehingga sebagian besar dari anggota-anggota perwakilan itu sendiri dari oranng Islam sejati dan tercapai kehendak Islam sejati.

Maka, marilah kita kaum Muslimin berjuang dalam urat tunggangnya Pancasila sila Ketuhanan Yang Maha Esa saja, yakni dengan artinya yang penuh karena bilamana berjuang dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa saja, dijamin akan terpeliharalah sila yang empat lagi. Dan mana tahu, entah suatu waktu dikurangi satu misalnya kebangsaan atau dihilangkan sama sekali, namun Ketuhanan Yang Maha Esa akan tetap meliputi segala macam sila.

Atau mana tahu, karena mendalamnya Ketuhanan Yang Maha Esa itu, karena itu saja urat tunggang dari segenap sila, entah tumbuh pula sila-sila yang lain lagi, Pancasila, Saptasila, Seribusila. Karena buatan manusia tidaklah tetap, dan hanya buatan Tuhan-lah yang tetap.

Dan mana tahu, entah datang lagi beberapa percobaan kedalam negara kita ini, karena angin-anginnya telah tampak. Ada sila yang gugur, ada sila yang tergoncang, ada urat yang tercabut. Pada waktu itu hanya satu sila saja yang akan tetap, tidak akan dapat dicabut; Ketuhanan Yang Maha Esa.

Manusia datang dan manusia pergi. Keadaan bertukar dan keadaan berganti. Cobaan datang dan angin ribut pancaroba. Sesudah angin ribut, sesudah selebat-lebatnya hujan turun, matahari akan cerah kembali, serta alam kembali kepada kemurniannya, dan satu tetaplah tinggal, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Dengan Dia kita rela menempuh hidup, dengan Dia saja kita rela menempuh maut. Bahkan tidak ada maut, hanyalah bertemu dengan Allah ta’ala. Sejauh-jauh perjalanan, siapapun jua, namun kepadaNya juga akan Kembali, akan pulang, kepada Dia saja, tidak yang lain.

“Ketuhanan Yang Maha Esa! Sumber hakiki dari segala sila dan kesusilaan”

Referensi : Buya Hamka dalam bukunya Urat Tunggang Pantjasila

Jas Hitam

Judul : Jas Hitam
Penulis : Rachmad Abdullah, S•Si., M.Pd.
Penerbit : Al Wafi Publishing
Ukuran : 14 x 20,5 cm
Halaman : 374 Halaman
Berat : 410gr
Jenis : Soft Cover

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021