Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Pembunuhan Hasan al-Banna dan Kondisi Gerakan Islam

3 Desember 2020 | History

Hasan al-Banna sebuah nama yang mesti semua aktivis Islam diberbagai pelosok kolong langit ini mengetahuinya. Sosok al-Banna bukan hanya kharismatik dakwahnya namun ia mampu merealisasikan apa yang tidak dipikirkan atau dipikirkan namun hanya sampai meja diskusi kelas al-Azhar

Pembunuhan Hasan al-Banna dan Kondisi Gerakan Islam

Hasan al-Banna sebuah nama yang mesti semua aktivis Islam diberbagai pelosok kolong langit ini mengetahuinya. Sosok al-Banna bukan hanya kharismatik dakwahnya namun ia mampu merealisasikan apa yang tidak dipikirkan atau dipikirkan namun hanya sampai meja diskusi kelas al-Azhar.

Ikhwanul Muslimin yang sayap dakwahnya mengepak panjang di dunia ini adalah buah amal shaleh al-Banna yang sedih melihat kondisi umat yang kian merosot dan peran politik yang tercabik-cabik oleh Barat. Dakwah al-Banna yang menyusuri kedai-kedai kopi di Ismailia tak pernah terbayangkan akan membentuk gelombang besar yang kapan saja meliuk orang-orang zalim dan kafir.

Berawal pada tahun 1948 yang dimana sikap pemerintah Mesir enggan dan tidak mau mengambil jalur keras melawan Inggris. Hal itu tentu saja bertentangan dengan rencana konfrontasi Ikhwan, yang diperparah dengan kecurigaan bahwa tentara Arab sedang bersiap untuk menyerahkan Palestina tanpa perjuangan.

Pada saat itu, Ikhwan menyerukan kampanye perang demi al-Quran dalam sebuah artikel yang berjudul “Where is the Rule of Allah? (Dimana Hukum Allah).” Artikel itu menyatakan bahwa kewajiban negara adalah menerapkan undang-undang Syari’ah. Jika mengabaikan tujuan itu, “pemerintahannya bukanlah pemerintahan Islam.” Jika rakyat tidak keberatan dengan kelalaian itu dan bahkan menyetujuinya, maka mereka pun tidak dianggap sebagai umat Islam, apa pun alasan mereka.

Dalam sebuah artikel yang ditulis pada bulan Mei di tahun yang sama, dengan mengutip sebuah ayat al-Quran “apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki..” al-Banna menunjukan bahwa tidaklah cukup bagi sebuah negara untuk memaknai frasa hukum yang sesuai dengan apa yang Allah turunkan dengan hanya menyatakan di dalam konstitusinya bahwa negara itu adalah negara Muslim, dan Islam adalah agama resmi. Tidak cukup pula hanya dengan mengatakan bahwa “anggota pemerintahanya adalah Muslim.” Sebaliknya negara wajib menerapkan dan mewujudkan ajaran Islam, serta mengembannya ke seluruh dunia.

Periode ini membuat hubungan antara Ikhwanul Muslimin dan pemerintah berkembang menjadi konfrontasi terbuka, yang berakhir dengan perintah pembubaran Ikhwanul Muslimin oleh Perdana Menteri Nuqrashi karena terdapat kecurigaan bahwa Ikhwan berencana melancarkan revolusi pada kerajaan Mesir.

Pada 28 Desember 1948, Nuqrashi dibunuh oleh seorang anggota Ikhwan yang bertindak atas nama pribadi tanpa intruksi apa pun dari al-Banna. Peristiwa itu membuat situasi tak terkendali. Jalan Ramses pada Sabtu 12 Februari 1949. Senyap hadir tidak seperti malam-malam biasanya. Kedai-kedai kopi tutup. Senyap dalam gelapnya malam. Gelap yang tanpa lalu lalang seorang pun kecuali dua makhluk menanti taksi.

Sekira pukul 20.20 senyap terbenam gaduh. Selongsong pistol bermuntahan. Dua orang roboh. Langsung dilarikan ke al-Qashir al-‘Aini, rumah sakit terdekat setempat. Banyak tangan ingin membantu namun semua dilarang. Sesiapa saja nyaris tahu siapa yang bermain dalam makar ini. Tapi warga tak punya kuasa karena tekanan pemerintah kerajaan Mesir.

Waktu bergulir cepat. Malam kian gelap. Segelas kopi diminta lelaki yang roboh oleh tujuh peluru sang penembak suruhan pemerintah. Segelas kopi yang menjadi saksi malam akhir dalam hayatnya di arloji 00.22 menit. Al-Banna ditembak mati, kemungkinan besar sebagai tindakan balas dendam, meskipun pelakunya tidak pernah teridentifikasi.

Setelah kasus pembunuhan Hassan al-Banna memicu tuduhan bahwa Ikhwan tidak memiliki agenda politik yang jelas. Beberapa anggota dalam situasi ini menerbitkan buku-buku tentang konsep politik dan bentuk negara buku-bukunya diantara lain, Abdul Qadir Auda tentang sistem peradilan pidana Islam dan buku Muhammad Ghazali yang membantah buku Khalid Muhammad Khalid yang berjudul “From Here We Begin (Dari Sini Kita Mulai)” tentang gagasan awal yang di eksplorasi oleh Ali Abdul Raziq hampir tiga puluh tahun yang lalu. Ghazali menyanggah argumen yang menyamakan Khilafah sebagai seorang “Imam dalam shalat dan peredam konflik.” Karena bagi Ikhwan, Khilafah tetap menjadi tujuan akhir, dan pemerintahan nasional tetap menjadi sistem yang sah sebagai sarana berjuang.

Gejala ketidak stabilan dalam tubuh Ikhwan ini juga terasa ketika seorang aggota utama Ikhwanul Muslimin, Mahmoud Abdul-Haleem bertemu dengan seorang ulama muda dari India, Abul-Hasan Ali An-Nadwi, saat menunaikan ibadah haji ke Makkah. Halim mengemukakan bahwa ialah orang yang mengisi kekosongan tampuk pimpinan setelah pembunuhan al-Banna.

Ikhwanul Muslim walau tanpa sang Imam besarnya tetap menjalankan agenda dakwahnya. Terbukti saat revolusi 1952 bersama para perwira pimpinan Mohammad Naguib dan Gamal Abdul Naser, banyak anggota Ikhwan membersamai revolusi walau para petinggi Ikhwan tidak langsung terlibat dalam peristiwa itu.

Tubuh Ikhwan pun agak terbelah disaat tokoh Ikhwanul Muslimin Sayyid Quthb dan Hasan Hudaybi berselisih paham tentang konsep gerakan. Pendek kata paham Quthb melahirkan Jama’ah Islamiyyah dan Jama’atul Jihad. Sedangkan Hudaybi melanggengkan wajah Ikhwan dalam status quo dan melahirkan konsep merombak melalui parlemen.

Referensi :
– Mahmoud al-Sabbagh, Haqiqa al-Tanthim al-Khas, (Kairo, Mesir: Dar al-‘Itisam 1989)
– Reza Pankhurst, The Inevitable Caliphate? Sejarah Perjuangan Penegakan Khilafah Pemersatu Islam Global Sejak 1924

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba'asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021