Pengalaman Jihad Dr. Abdullah Azzam di Palestina

By : Rulian Haryadi | 22 Agustus 2022

   Usai perang enam hari (Six day War 1967), Israel mulai memetakan tanah Palestina lebih jauh dari apa yang mereka renggut pada perang 1948. Perasaan kaum Muslimin di jazirah Arab tak terlukiskan lagi kesedihannya. Begitu pula yang dialami Dr. Abdullah Azzam yang saat kecil menyaksikan kebun keluarganya di rebut oleh Israel dan ketika baru berumah tangga harus mengasingkan diri ke Yordania karena gempuran perang enam hari.

   Pada hari-hari yang melelahkan di Yordania sebagai pengajar dan mengurusi beberapa kebutuhan kaum Muslimin Palestina yang mengungsi ke Yordania. Syaikh melihat bahwa jihad yang di jiwai oleh kaum Muslimin setelah 1948 hanya pekikan nasionalis Arab dan upaya orang-orang kiri yang mengambil alih panggung perjuangan.

   Syaikh yang sedari bangku sekolah sudah memulai kontak dengan para anggota Ikhwanul Muslimin Palestina menjadi langkah awal yang berarti pada perjalanan jihadnya. Setelah remuknya hati para militer PLO dan juga para pemerintah Arab yang berkontribusi pada perang enam hari menyulut suatu ide untuk membuat gerakan yang nanti dikenal dengan sebutan “Fadayeen” yang secara singkat diterjemahkan sebagai gerilyawan total.

   Gerakan Fadayeen menjadi buah bibir bagi para pemuda dan juga para veteran PLO. Syaikh Azzam ketika itu tidak langsung tertarik untuk ambil bagian dalam Fadayeen. Beberapa yang melatari ketidak sukaan syaikh atas Fadayeen ialah banyaknya orang kiri dan juga menganggap banyak perwira militer yang pandangan politiknya lekat dengan sekularisme. Sementara dari kalangan Islamist hanya berasal dari Ikhwanul Muslimin di Yordania, Suriah, dan Palestina.

   Pada suatu malam syaikh yang hendak mempersiapkan untuk shalat malam terganggu oleh pekik jingle dari orang-orang sosialis yang meneriakan persatuan, kebangkitan, dan pembebasan. Dari sana syaikh tertegun mengapa orang-orang seperti itu semangat menyambut gerakan fadayeen sementara kaum Muslimin yang ahlu tauhid tidak mengambil alih untuk jihad.

   Setelah itu ia mulai mempersiapkan jihadnya dengan memberitahu istrinya untuk bersabar yang sedang mengandung 10 bulan anak ketiganya dan mengatakan bahwa untuk kebutuhan akan diberikan tiap bulannya. Thommas Hegghammer dalam bukunya mengatakan bahwa istrinya hanya memiliki bekan untuk sepekan sementara harus ditinggal untuk sebulan. Ditambah kondisi rumah sewa yang hanya sepetak dimana ia harus mencuci, memasak, dan menyambut tamu di tempat itu. Tak lupa juga ia mengutarakan tekadnya untuk jihad bersama fadayeen kepada orangtuanya. Hal tidak menyenangkan dari respon orangtua dan sepupunya bahwa Azzam adalah orang yang berpendidikan lebih baik mengejar karir agar bisa jadi hakim di Amman Yordania. Syaikh pun menimpali dengan mengatakan, “saya mengajak untuk ke surga, sementara kalian mengajak menuju neraka..” pada saat itu paradigma orang yang berjihad dianggap aktivitas yang hanya di isi oleh orang-orang pengangguran.

   Syaikh pun akhirnya memulai di camp yang berbatasan dengan Israel (antara Yordania-Israel di lembah Yarmuk). Camp nya di isi oleh kaum Muslimin dari Ikhwanul Muslim dan juga sempat bertemu dengan Marwan Hadid tokoh jihadis Suriah pada era Hafizh al-Assad. Syaikh sempat melakukan kesalahan dalam jihad dan segera menghadap kepada Amirul Jihad untuk siap menerima sanksi apapun itu yang pantas.

   Cintanya pada Sayyid Quthb dibuktikan dengan memberikan nama sebuah operasi dengan nama “Operasi Sayyid Quthb” pada 29 Agustus 1970. Bisa dikatakan operasi ini sukses disbanding operasi yang dilakukan para Fadayeen.

   Dari operasi ini ada beberapa sahabatnya yang meninggal diantaranya; Salah Hasan (Mesir), Mahdi al-Idlibi (Hama, Suriah), Nasr Isa (Hama, Syria), Zuhayr Qayshu (Hama, Suriah), Ridwan Krishan (Ma‘an, Yordania), Ridwan Bal‘a (Damascus, Suriah), Muhammad Sa‘id Ba‘abbad (Yaman), Mahmud al-Barqawi (Palestina), and Abu al-Hasan Ibrahim al-Ghazi (Palestina). Syaikh juga sempat hampir tewas oleh serangan IDF yang di lancarkan oleh Moshe Dayan namun alhamdulillah diselamatkan oleh perwira dari kesatuan Yordania. Dan Syaikh sangat mengingat jasa tersebut.

   Syaikh sangat menyayangkan aksi Fadayeen berbuah menjadi konflik internal yang menghasilkan konfrontasi antara militer Yordania melawan Fadayeen. Para Ikhwanul Muslimin lebih memilih mundur teratur karena memandang fitnah yang semakin besar dan para petinggi PLO sangat terlihat kepalang tanggung untuk menjatuhkan rezim Yordania. Syaikh juga sangat kritis akan hal ini karena melihat aksi penyiksaan dari pihak militer Yordania yang berlebihan.

   Seusai jihad Syaikh menjadi pengkhotbah yang ulung tentang jihad di masjid-masjid Yordania dan Suriah. Disana syaikh menyimpan beberapa benda para syuhada yang masih berlumur darah dan sesekali dipamerkan di masjid untuk menegaskan bahwa ini adalah saksi dihadapan Allah dan saya mencium wangi kasturi selama 10 hari sejak kematian syuhada. Hal ini lah yang dianggap oleh Thommas Hegghammer sebagai bahan tulisan untuk kitabnya “Ayat ar-Rahman fii Jihadil Afghan” pada 1983.

   Syaikh Azzam yang namanya lekat dengan jihad Afghanistan-Soviet kadang dari kita kurang mengulas bahwasannya beliau memulai semua petualangan jihadnya dari Palestina. Bahkan dalam salah satu ceramahnya yang terkenal, “dimanapun kalian memulai sampai jumpa di Baitul Maqdis.” Saya mengkhawatirkan banyaknya anggapan yang tidak berdasar kepada syaikh karena sikapnya lebih totalitas kepada Afghanistan daripada untuk Palestina.

Referensi :

  • Abdullah Azzam, Tarbiyah Jihadiyah, (Solo, Indonesia: Jazêra 2015)
  • Abu Mujahid. al-Shahid ‘Abdallah ‘Azzam bayna al-milad wa’l-istishhad [The Martyr Abdallah Azzam from Birth to Martyrdom], (Peshawar: Markaz al-Shahid Azzam al-I‘lami 1991)
  • Muhammad Haniff Hassan, The Father of Jihad: ‘Abd Allah ‘Azzam’s Jihad Ideas and Implications to National Security, (London: Imperial College Press, 2014)
  • Thommas Hegghammer, The Caravan Abdallah Azzam and the Rise of Global Jihad, (Cambridge: Cambridge University Press 2020)

Shop

Physical Book

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Mata Pedang Haq (Anthology 2021)
By : All Contribution Boombox

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :