Pergulatan Saddam Hussein dan Oposisi – History

Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE


Beli Buku






Pergulatan Saddam Hussein dan Oposisi

By : Rulian Haryadi | 2 November 2021

Saddam Hussein adalah nama tokoh Arab yang sangat melekat pada sosok diktator Timur Tengah sejak media Barat mem-blow-up-nya pasca perang teluk II. Isu it uterus bergulir sampai pendudukan Amerika atas Iraq di tahun 2003 melegalkan occupation atas tuduhan-tuduhan pada diri Saadam yang kontroversial. Setiap kali pembahasan tentang Saddam tidak luput dari biografi, perang teluk


Baca

Pergulatan Saddam Hussein dan Oposisi

Saddam Hussein adalah nama tokoh Arab yang sangat melekat pada sosok diktator Timur Tengah sejak media Barat mem-blow-up-nya pasca perang teluk II. Isu it uterus bergulir sampai pendudukan Amerika atas Iraq di tahun 2003 melegalkan occupation atas tuduhan-tuduhan pada diri Saadam yang kontroversial. Setiap kali pembahasan tentang Saddam tidak luput dari biografi, perang teluk, dan kontroversial pernyataan Saddam, bahkan samapi sekarang hal itu saja yang diputar-putar. Ada kalanya kita bisa sedikit lebih dalam mengulas tentang lawan politiknya dalam kata lain pendekatan sosiologi tentang sikap politik Saddam yang membentuk sikap represif kepada para oposisinya.

Saddam Hussein Abdul Majid at-Tirkiti al-Iraqi yang tumbuh dalam suasana politik transisi dari bentuk Khilafah Monarki ke Pendudukan Barat lalu beralih ke Kerajaan sampai Nasionalis Arab (Pan-Arabisme) dizaman Saddam berkuasa. Suasana yang demikian panas sudah membentuk dirinya sedari kecil sampai pada usai 20 tahun. Saddam mulai bergabung dengan gerakan partai Ba’ath besutan pemikir Suriah Michel Aflaq. Dalam aktivitas politiknya Saddam di awal-awal ia hanya diperlihatkan bahwa politik setelah cabutnya Mandat Britania (penjajahan red) atas Iraq dan beralih menjadi bentuk monarki Hasyimiyah, menurut Saddam belum sepenuhnya merdeka bahkan kerajaan hanya berubah jubah namun esensinya tetap diatur oleh Inggris. Cara pandang Saddam ini telah menjadi bius bagi para intelektual Iraq. Alhasil gerakan Abdul Karim Qassim Bersama sejumlah elite dan mata-matanya melancarkan kudeta berdarah mengakibatkan Raja Faisal II al-Hasyimi tewas dan Qassim memberlakukan pemerintahan sementara dengan merujuk bentuk republik atas Iraq.

Saddam yang merupakan anggota partai Ba’ath yang terkenal radikal dan revolusioner ini mendapat amaliyat amniyyah (tugas rahasia) membunuh Presiden pertama Iraq Abdul Karim Qassim pada tahun 1959. Namun usaha itu nihil terjadi karena mata-mata pemerintah lebih kuat membaca gerakan Saddam. Saddam lari ke Suriah namun Suriah dirasa kurang aman ia meneruskan lari ke Mesir dan meminta suaka politik pada Gamal Abdul Nasser.

Di pengasingan Saddam terus memantau politik Iraq sembari menuntut ilmu dan sampai terdengar kabar pada tahun 1963 partai Ba’ath Suriah berhasil menumbangkan pemerintahannya dan mendominasi politik Suriah. Pada 1968 terdengar kabar besar bahwa partai Ba’ath Iraq juga berhasil mengkudeta pemerintahan dan Hassan Bakr (guru politik Saddam) yang memimpin aksi Bersama mantan intelijen Iraq Abdul Razek Nayef melancarkan kudeta. Tak lama seusai kudeta Saddam pun kembali ke Iraq dan menjabat sebagai wakil sekjen partai Ba’ath. Namun pemerintahan Hassan Bakr terbilang pasif bahkan kalah pamor dengan Saddam yang aktif tampil di publik. Singkatnya pada 17 Juli 1979 Saddam melancarkan kudeta atas guru politiknya. Presiden Hassan Bakr pun turun dan sejak saat itu Saddam resmi menjadi kepala pemerintahan Republik Iraq.

Pada tahun 1979 memang terjadi peristiwa besar pada awal tahunnya, Iran yang berbentuk kerajaan monarki absolut dibawah Syah Muhammad Reza Pahlavi resmi tumbang setelah serangkaian aksi bentrok antara pasukan loyalis Khomaeini dengan Savak (militer rahasia kerajaan Persia). Pamor revolusi Iran pada saat itu sangat kuat bisa dibilang menginspirasi sebagaian kaum Muslimin dibanyak negeri.

Kaum Syiah sedari dulu menginginkan penegakkan hukum khas mereka namun selalu terpentok oleh politik di Iraq. Kaum Syiah di Iraq memang menempati sebagian besar wilayah di Iraq namun tidak pernah berhasil menduduki pemerintahan walaupun ada gerakan pemberontakan pada 1935 yang menuntut hukum Syiah di seluruh Iraq. Pada dekade 50-an kelompok Syiah baru bisa mengorganisir lebih rapih ketika para aktivis Syiah seperti Muhammad Mahdi al-Asafi’, Sayyid Kazim al-Hariri, Mabdi Ali Akbar Syariati, Ali Muhammad al-Kurani, dan Hamid Muhajir mendirikan Partai Dakwah Islam di Najaf. Sampai di zaman rezim Saddam kaum Syiah mulai mengorganisir lebih rapih lagi dengan dibentuknya gerakan “al-Mujahiddin” oleh Sayyid Abdul Aziz al-Hakim yang secara frontal menyuarakan kepemimpinan Khomaeini.

Gerakan Syiah di Iraq semakin menjamur seiring melambungnya popularitas Khomaeini. Kaum Syiah sempat merencanakan long march dari Najaf ke Teheran sebagai bentuk kegembiraan atas revolusi Iran namun aksi itu di batalkan oleh rezim Ba’ath dan terjadinya penangkapan atas para penggerak. Sikap Syiah yang terus menerus bentrok dengan dominasi partai Ba’ath mengakibatkan sikap anti Saddam pada masa awal pemerintahannya, sampai terjadinya cekcok serius antara kaum Muslimin dan Syiah diperbatasan Iraq-Iran. Hal ini yang melatar belakangi Saddam mengambil Tindakan untuk melancarkan perang terhadap Iran pada 22 September 1980.

Gerakan oposisi yang lain adalah gerakan Kurdi yang merupakan etnis minoritas namun terdapat dibanyak tempat di Iraq. Suku Kurdi memang menyedihkan disatu sisi ia ada yang di caplok oleh Uni Soviet, ada yang tertinggal bersamaan dengan berdirinya Republik Turki dan sampai ada di beberapa wilayah di Suriah utara termasuk berpencarnya mereka di Iraq. Gerakan Kurdi memang sudah dirintis sejak akhir Khilafah Utsmani oleh seorang beranama Mustafa Barzani yang menuntut kemerdekaan penuh atas bangsa Kurdi. Gerakan Barzani menginspirasi generasi berikutnya. Pada 1945 Partai Demokratik Iran-Kurdistan berdiri dengan harapan berhasil memerdekakan diri dari dua sekat Iran dan Iraq para pendirinya seperti Qazi Muhammad dan Abdul Rahman Ghassemlou akhirnya di hukum gantung oleh Saddam.

Sikap dari Kurdi yang ingin bebas merdeka dari Iraq lama kelamaan turun pada taraf meminta otonomi khusus Kurdistan. Saddam keberatan atas permintaan itu karena bangsa Kurdi menduduki wilayah yang kaya minyak dan dikhawatirkan oleh Saddam jika pemberian otonomi berakibat nasional bagi ekonomi Iraq dan juga kestabilan politik akan berdampak padanya. Pada perang Iraq-Iran (1980-1988) bangsa Kurdi yang Sunni berkomplot dengan Syiah karena satu kepentingan yaitu “anti Saddam Hussein”. Saddam pun merespon kemelut sempalan dari dalam Iraq yang di tengarai oleh pasukan Kurdistan membuat Saddam mengabil Langkah praktis untuk mebrangus pasukan Kurdi dengan bom yang menewaskan sekitar 2500 orang dan terjadinya pengungsi besar-besaran sekitar 60.000 orang ke Turki dan Iran.

Dua oposisi ekstrim di Iraq dan sikap politik Saddam yang brutal mengakibatkan rakyat secara umum terpuruk dan jengah. Selama puluhan tahun di bawah Saddam Hussein bisa dikatakan hal ini menjadi sasaran empuk bagi Amerika yang menuduh Saddam memiliki Waepon of Mass Destruction (WMD). John Nixon mantan agen CIA yang berhasil menemukan Saddam di sebuah bunker di dekat kampung kelahirannya dan Nixon orang yang menginterogasi Saddam menyimpulkan bahwa ia adalah sosok yang kharismatik dan terkait tuduhan Bush atas WMD adalah tidak ada karena Saddam sudah lama tidak berminat membuat senjata tersebut.

Referensi :
– John Nixon, Debriefing the President: The Interrogation of Saddam Hussein, (USA: Blue Rider Press 2016)
– Siti Muti’ah Setiawati, Irak Di bawah Kekuasaan Amerika, Dampaknya Bagi Stabilitas Politik Timur Tengah dan Reaksi (Rakyat) Indonesia, (Yogyakarta: Jurusan Ilmu HI. Fisipol UGM dan Dep LNRI 2004)
– Tias Kuncahyono, Bulan Sabit diatas Baghdad, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas 2005)
– Wirawan Sukarwo, Tentara bayaran AS di Irak : sebuah konspirasi neoliberal AS untuk memimpin dunia, (Jakarta: Gagas Media 2009)


Kembali

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman


Beli Sekarang

Populer

Ketika Muslimah Diganggu Memicu Perang Besar Turki

By : Rulian Haryadi

Peristiwa 11 September 2001, Apakah Faktor Jatuhnya Taliban?

By : Rulian Haryadi

Universitas Jihad Rahasia Kekuatan Taliban

By : Rulian Haryadi

Keamanan Manusia dalam Dunia Islam, sebuah studi dari Mindanao

By : Ahmad Toshiaki

Ketika Muslimah Diganggu Memicu Perang Besar Turki

By : Rulian Haryadi

Peristiwa 11 September 2001, Apakah Faktor Jatuhnya Taliban?

By : Rulian Haryadi

Universitas Jihad Rahasia Kekuatan Taliban

By : Rulian Haryadi

Keamanan Manusia dalam Dunia Islam, sebuah studi dari Mindanao

By : Ahmad Toshiaki

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :

© Copyright Boombox Zine 2021


Facebook


Instagram


Youtube