Pesan Buya Hamka Agar Membela Islam

By : Sutan Jolelo | 28 Juli 2021

   “Ghirah karena mempertahankan Syaraf Agama, bukan saja milik orang Islam. Bukan saja milik pribadi orang besar Islam, sebagai Jbnu Sa’ud dan Sulthan Atrasy (firkah Drusi meskipun tidak termasuk penganut sunnah, namun dia tergolong Islam juga). Kalau hal dikatakan fanatiknya Umat Islam saja, tidaklah tepat. Sebab hal ini terdapat pada segala bangsa, dan terdapat juga pada orang besar yang bukan Islam.” Itulah sepenggal taujih singkat dari Buya Hamka agar umat Islam mengerti bahwa kedudukan agama bagi Muslimin adalah jauh lebih besar dan fanatisme adalah bahan bakar yang sejatinya melekat pada para penganut apapun.

   Hemat hari ini ditengah pluralisme dan pemeluk atheis berseliweran kita jumpai tetap saja hakikat agama bagi manusia adalah sangat penting. Hamka merujuk pada konflik pertentangan Katholik dan Protestan masih ada di Eropa. Pengaruh pemikiran Katholik masih sangat mendalam pada bangsa Prancis, Italia, dan Spanyol meskipun mereka telah menganut ideologi sosial demokrat, sosialis, atau Iiberal. Hanya Komunis juga yang tidak. Pungkas Hamka.

   Contoh lain juga bisa Kita dapati seperti Mahatma Gandhi sebagai seorang yang berpaham luas, yang di klaim (Sebagian pihak) berprikemanusiaan tinggi, yang percaya juga kepada Isa Al-Masih dan Muhammad di samping mempertahankan Agama Hindunya. Faktanya ia tetap memiliki ghirah dalam sangkut paut agamanya jikalau martabat agamanya Hindu terkoyak atau tercoreng, dia bersedia mati bahkan dia bersedia puasa sampai mati.

   Di tahun 1936 ada sebuah kasus terdengar oleh Gandhi putera ke limanya Motial Gandhi masuk Islam di Amerika Selatan. Ribut besar! Gandhi sudi puasa sampai mati, karena sedih melihat anaknya masuk Islam! Segala jerih payah dan usaha untuk menghambatnya pun direkahkan. Perlu dicatat Ghandi gerakan khas tidak dengan kekerasan, sebab Gandhi tidak mengenal kekerasan, Tetapi dengan lemah lembutnya dia bersikeras. Sehingga anak itu murtad kembali!

   Pada tahun 1938 seorang Muslimah bernama Raihanah Thaib, jatuh cinta pada seorang pemuda hartawan India beragama Hindu. Kebetulan ia kemenakan dari seorang miliyarder Hindu Chankarlal. Mereka berhasil manikahi perempuan Muslimah! mengejutkannya orang yang lebih dulu mengirim  ucapan selamat atas perkawinan itu dimalam pertama tidak lain dan tidak bukan ialah Mahatma Gandhi!

   Juga pada sebuah peristiwa yang sampai kepada beliau bahwa seorang Advokat besar beragama Hindu bernama Kannyalat Yaba, karena tertarik kepada filsafat Islam sontak menyatakan dirinya ingin memeluk Islam dihadapan Muhammad Iqbal (seorang pembaharu Islam dan guru bangsa dari Pakistan). Hamka menuturkan sikap Gandhi, “..Bukan main dukacita Gandhi mendengar berita ini. Beliau sendiri, datang ke Lahore, dengan lemah-lembutnya, dengan semedi dan tafakkurnya, meminta s’udilah kiranya, wahai anak-ku  tercinta, kembali kepada agama nenek moyangmu’. Yaba hanya tersenyum saja mendengar bujukan itu.” Sampai sekarang tetaplah Yaba seorang Muslim, dengan nama Islamnya Khalid Lathif Yaba.

   Kasus lain yang di cuplik Hamka ialah, bagi Ghandi kasus kaum “Hina Dina” di bawah pimpinan Dr. Ambredkar sudi memilih agama Islam menjadi agama mereka. Dengan terburu-buru diadakan panitia khusus oleh Gandhi, panitia tersebut diberi nama “Khadam Kaum Hina Dina”. Dan oleh karena kaum Hindu sendiri tidak mau membukakan kul untuk menerima kaum hina dina, beliaupun puasa! Akan puasa sampai mati! (Puasa Gandhi itu ialah tidak makan roti dan nasi, hanya minum susu kambing dan makan buah-buahan. Segala boleh! Dua gelas boleh! Dan makan buah-buahan, anggur, appel, jeruk, boleh!). Duduk tafakkur sambil minum susu, sambil mengunyah buah appel, sambil menelan dan sambil puasa! Dan kalau Gandhi puasa, dari seluruh dunia datanglah kiriman jeruk dan appel.

   Kisah-kisah diatas direfleksikan oleh Hamka sebagai “Ghirah”. Maka bagi Umat Islam, terutama yang mengenal dari dekat Gandhi, tidak lain adalah sebagai lambang dari perasaan Hindu yang tidak menyukai Islam. Terutama kalau Islam itu bangkit. Dia amat tidak setuju kalau Islam memperoleh kemerdekaan. Dia amat tidak setuju negara Pakistan berdiri!

   Kalau sekiranya umat Islam India tidak mempunyai pemimpin-pemimpin seperti Mohammad Iqbal dan Ali Jinnah, dan Liquat Ali Khan, yang dapat menyeberangkan kaumnya ke tanah Pakistan (pada peristiwa hijrah akbar 1947), dan mendirikan negara sendiri (Pakistan). Umat Islam di India akan tetap menjadi golongan lemah yang tertindas. Hal ini bisa menjadi buruk jika tidak mendirikan Pakistan karena nanti ummat hanya menangisi kebesarannya di zaman dinasti Mughal yang lampau, sebelum Inggris datang, dan tak ada orang yang akan membela mereka. Seperti kita tahu ada paham Hindutva yang digagas oleh Vinayak Damodar Savarkar kontemporer kini yang sering menyiksa kaum Muslimin.

   Peranan Ghirah bagi umat yang beragama adalah syaraf agama itu sendiri maka pantaslah Hamka memberi taujih kepada kita yang terkristal teksnya dalam buku Ghirahnya “Pahamkanlah ini semuanya, bahwasanya cemburu karena Syaraf itu adalah pakaian yang tidak boleh ditanggali. Kalau akan ditanggali, gantinya hanya satu macam saja yaitu kafan tiga lapis! SEBAB KEHILANGAN CEMBURU SAMALAH ARTINYA DENGAN MATI!

Referensi:
– Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, Ghirah Dan Tantangan Terhadap Islam (Jakarta 1982: Pustaka Panjimas)

Opinion

History

Shop

Physical Book

Catatan Pinggiran Taliban
By : Rulian Haryadi

Catatan Pinggiran Taliban
By : Rulian Haryadi

Materi di situs ini boleh direproduksi, didistribusikan, ditransmisikan, di-cache, atau digunakan dengan cara lain, kecuali ilustrasi dan gambar harus memberikan izin dari Boombox Zine. Untuk lebih lengkap klik disini.

Temukan kami di :

Di dukung oleh :