Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Quotes Buya Hamka Dalam Ghirah Cemburu Karena Allah

11 Desember 2020 | History

Buya Hamka yang bernama asli Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini memang mempunyai kelebihan dalam tiap bidang keilmuan. Beliau orator ulung, pembina masyarakat, ulama, mufasir, penyumbang ide politik, sastrawan, dan sejarawan

Quotes Buya Hamka Dalam Ghirah Cemburu Karena Allah

Buya Hamka yang bernama asli Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini memang mempunyai kelebihan dalam tiap bidang keilmuan. Beliau orator ulung, pembina masyarakat, ulama, mufasir, penyumbang ide politik, sastrawan, dan sejarawan.

Luasnya ilmu beliau dan besarnya kontribusi untuk umat Islam terkhusus dan umumnya untuk manusia, paling tidak bisa kita kerucut menjadi dua fase yaitu fase sastrawan atau pujangga dan fase perjuangan Islam.

Pertama Hamka lahir dari kalangan Muslim yang taat terbukti karena beliau anak dari ulama besar yang mengajarkan Islam modernis di Minangkabau. Nama ayahnya HAKA (Haji Abdul Karim Amrullah) sangatlah cemerlang dan sisi inilah yang dikatakan Akmal Sjafril dalam salah satu ceramahnya tentang Buya Hamka, “Hamka belum bersinar di fase saat masih aktif menulis novel karena cahaya sang ayah masih bersinar lebih terang di mata umat.”

Kedua Hamka yang saat masa pendudukan Jepang beliau menjadi semakin aktif membina umat untuk kemerdekaan dengan cara menyusup ke hutan-hutan memberi ceramah kepada para mujahidin. Beliau yang sudah kita ketahui adalah tokoh dari partai Masyumi (sebuah partai Islam terbesar di masa orde lama). Dimasa ini ia totalitas memperjuangkan tegaknya syariat Allah meski harus di siksa dan dipenjara.

Sebuah buku kecil kumpulan coretan tangan yang dibukukan dan diberi tajuk Ghirah ini menyimpan banyak sekali kata-kata Mutiara yang dengannya seolah Buya Hamka tetap hidup menasehati para pejuang Islam untuk tegar. Berikut kompilasi yang kami petik;

Arang tercoreng di kening, malu tergaris di muka.
Kalau rasa malu menimpa diri, tidak ada penebusnya kecuali nyawa.
Pengaruh pergaulan barat ini adalah sebagai reaksi terhadap tata cara pergaulan lama yang terlihat sangat melindungi anak perempuan.
Bila ghirah telah mulai hilang, jiwa akan menjadi gelisah.
Kulit menghendaki barat, padahal badan masih di timur.
Apabila ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh umat Islam itu. Kocongkan kain kafannya, lalu masukan ke dalam keranda dan antarkan ke kuburan.
Kalau masih ada pemuda Islam yang merasa bangga dibuang 15 tahun karena ghirah akibat saudara perempuannya diganggu, pertanda bahwa sesungguhnya Islam belum kalah.
Sudah menjadi sejarah yang kekal sejak zaman dahulu bahwasanya masuknya agama Islam ke Indonesia tidak dengan kekerasan.
Pepatah Arab yang masyhur annaar lal aar (api mesiu lebih baik dari pada menanggung malu).
Begitu hebatnya cemburu Mahatma Ghandi kalau martabat agamanya tersinggung, meskipun kelihatannya begitu lemah lembut dan berperikemanusiaan.
Sebab, kehilangan cemburu sama artinya dengan mati!
Hanya satu yang disoroti dan selalu dipandang berbahaya yaitu ideologi Islam yang jantan dan konsekuen hendak menegakkan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Boleh hidup modern, tetapi isilah kemodernan itu dengan agama.
Di Dalam hadits terkandung “bertahan”, melawan bukan menyerah begitu saja. Sehingga ia mati tertembak karena sedang lari ketakutan, ia bukan mati syahid, melainkan mati pengecut.
Tidak melawan itulah yang mati!!

Semoga Allah merahmati beliau dan karya-karyanya yang telah beliau curahkan menjadi bahan bakar perjuangan Islam dan menjadi penggugur dosa-dosa beliau. Aamiin.

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021