Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Quran Produk Budaya: Nasr Hamid Abu Zayd

6 Desember 2019 | Figure

Mesir dari dulu memang sudah menjadi produsen pemikir dan gerakan-gerakan Islam, apatah lagi sejak era Pan Islamisme muncuat Mesir menjadi tolok ukur pergerakan para pemuda Islam untuk membebaskan dari cengkraman kolonial. Sayang nya Muhammad Abduh yang menjadi pembaharu di Mesir dan menjadi ulama kelas dunia ini

Quran Produk Budaya: Nasr Hamid Abu Zayd

Mesir dari dulu memang sudah menjadi produsen pemikir dan gerakan-gerakan Islam, apatah lagi sejak era Pan Islamisme muncuat Mesir menjadi tolok ukur pergerakan para pemuda Islam untuk membebaskan dari cengkraman kolonial. Sayang nya Muhammad Abduh yang menjadi pembaharu di Mesir dan menjadi ulama kelas dunia ini di salah artikan oleh murid-muridnya bahwa Abduh adalah pro Barat. Kami rasa ini yang membuat suburnya pemikiran liberal di Timur Tengah sampai bisa tercetaknya Nasr Hamid Abu Zayd dan kawan-kawannya.

Sosok pemikir yang satu ini cukup unik dan memiliki konsistensi tentang apa yang ia sebut dalam banyak tulisan dan pernyataannya. Nasr Hamid Abu Zayd tiba-tiba mencuat namanya karena mengatakan Qur’an adalah produk budaya (Muntaj Tsaqafi). Karena pemahamannya ia sempat berlindung ke dunia Barat karena tekanan dari kaum Muslimin sampai ada keputusan Mahkamah al-Isti’naf Mahkamah Cairo University menyatakan bahwa Nasr Hamid Abu Zayd telah murtad dan wajib mentalaq istrinya.

Ia salah satu orang yang mempopulerkan penafsiran Qur’an dengan metode Hermeneutika modern yang dipelopori oleh Friedrich Schleiermacher (1768-1834). Nasr Hamid yang terkenal dengan gagasan-gagasan liberalnya ini lahir di Quhafa, Provinsi Tanta, Mesir, pada 10 Juli 1943. Sejak usia 8 tahun, Nasr Hamid telah meenghafalkan Al-Qur’an 30 juz. Adapun pendidikan tingginya diselesaikan di Universitas Kairo, mulai dari S1 sampe dengan S3. Selain itu, dia juga pernah mendapatkan beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute Of Midlle Eastern Studies Of Pensylivania Philadelphia, Amerika Serikat.

Pendapat Nasr Hamid yang mengatakan bahwa Al-Qur’an sebagai produk budaya, tentu saja merusak konsep dasar Al-Qur’an sebagai kalamullah dan juga menghilangkan kesakralan Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam. dimana teori hermeneutika ini sejatinya menjawantahkan bahwa Qur’an itu firman Allah dan metodenya benar-benar memungkinkan terbukanya pintu baru untuk melegitimasi peradaban hari ini yang tak beradab. bahkan Sayyid Quthb menegaskan bahwa zaman ini adalah zaman jahiliyyah.

Dan ini adalah sedkit contoh atas hermeneutika kita ambil contoh yang beberapa waktu lalu kita dihadapkan dengan kasus desertasi Abdul Aziz tentang problem Milkul Yamin. sontak kaum muslimin terheran-heran dengan penafsiran semacam itu. Muhammad Shahrur yang memiliki background tehnik ini mampu membuat penafsiran quran yang bertolak dari pada pemahaman ulama yang telah mahsyur. ternyata Shahrur ini di nyatakan Atheis oleh Syaikh Al Albani, dan Al Albani mengatakan bahwa dia mengenal siapa Shahrur dan Al Albani mencap dia adalah Atheis.

Pada Senin pagi (5/7/2010), tepatnya pada pukul 09.00, Nashr Hamid Abu Zaid menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit spesialis As Syeikh Zaid, wilayah 6 Oktober, Kairo.

Referensi : Dr. Adian Huasini dalam bukunya “Wajah Peradaban Barat (dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal)

Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir

Judul : Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir
Penulis : Indra Martian MA
Penerbit : JURNIS Publishing
Ukuran : 14×20,5
Berat : 400gr

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021