Islamic insight and store
BOOMBOX ZINE

Sang Pengubah Padang Sahara: Abdullah bin Yassin

6 Desember 2019 | Figure

Tugas dakwah memang sangatlah kompleks, terlebih di zaman dulu yang serba minim fasilitas sehingga rintangan itu lebih menitik beratkan pada kontak fisik dan komunikasi verbal. Pengembangan dakwah yang larut akan perjuangan dan janji-janji Allah harus ia..

Sang Pengubah Padang Sahara: Abdullah bin Yassin

Tugas dakwah memang sangatlah kompleks, terlebih di zaman dulu yang serba minim fasilitas sehingga rintangan itu lebih menitik beratkan pada kontak fisik dan komunikasi verbal. Pengembangan dakwah yang larut akan perjuangan dan janji-janji Allah harus ia jalankan dengan menembus selatan Libya hingga menembus suku Judalah (sekarang Mauritania). Sebuah pemukiman padang pasir yang amat sangat jahil, al Qadhi iyadh mengatakan “agama ditengah-tengah mereka sangat minim, karena sebagian mereka berprilaku seperti orang jahiliyah. Sebagian mereka hanya kenal dua kalimat syahadat. Hanya itu yang mereka kenal dari ajaran Islam. Sosok yang berhasil merevolusi padang sahara dengan dakwah ialah Abdullah bin Yassin.

Adz-Dzahabi dalam Syiar a’lam an Nubala’ menyebutkan “ia (Abdullah bin Yassin) adalah seorang ulama yang terkenal berjiwa kuat dan memiliki pikiran-pikiran yang sangat cemerlang. Abdullah bin Yassin ia adalah pemimpin pertama gerakan Murabithun dan sekaligus peletak pertama seruan revolusi dakwah di padang sahara. Wafat 451 H/1059 M, ia adalah seorang ulama ahli fikih dari kalangan madzhab Maliki.

Dari waktu ke waktu dakwah yang di sampaikan oleh Ibn Yassin tidak terjadi perubahan. Kendati beliau mencoba terus memperingati suku judalah siang dan malam namun efek yang ditimbulkan adalah sang imam berbalik diserang oleh masyarakat dan tak jarang terdesus kabar tentang ancaman untuk membunuh Ibn Yassin. Dalam situasi demikian ia merenung dan memikirkan strategi dakwah sampai Allah ﷻ mengilhaminya ide untuk beralih ke sebelah selatan dan tinggal di sebuah semenanjung yang terletak di tepi sungai Negra dekat dengan kota Tobacto. Ibnu Khaldun dalam tarikhnya mengatakan “semenanjung ini dikelilingi oleh sungai Nil. Pada musim kemarau airnya sangat dangkal sehingga orang bisa melintasinya dengan berjalan kaki”.

Setibanya disana ia mendirikan sebuah tenda dan pada waktu yang tidak begitu lama para pemuda dari suku Judalah ini ada yang terpikat oleh dakwahnya Abdullah bin Yassin. Pada awalnya gerakan pemuda ini hanya berjumlah tujuh orang yang di pimpin oleh Yahya bin Ibrahim al Judali yang rela meninggalkan segala kedudukan di kaumnya. Dan selang dari suku judulah datang juga rombongan suku Lamtunah yakni Yahya bin Amr dan Abu Bakkar. Lalu tarbiyah Islam mulai di salurkan oleh Abdullah bin Yassin kepada para pemuda.

Intensifnya tarbiyah yang dilakukan oleh Abdullah bin Yassin sampai ia mendapat tekanan kembali oleh kabilah-kabilah di utara yang khawatir para pemudanya tersedot kepada dakwahnya lantas Ibn Yassin segera lari lagi ke arah selatan di perbatasan Senegal. Para pemuda yang tergabung dalam dakwah tauhid ini mencapai 1000 pemuda yang siap menjemput surga Allah ﷻ. Sampai pada satu momen para pemuda mengikrarkan diri agar Abdulllah bin Yassin segera memberikan perintah untuk kami agar bisa meninggikan Islam dan bahkan jika kami diperintahkan untuk memerangi bapak-bapak kami maka kami akan lakukan. Dalam forum ini Abdullah bin Yassin memberikan fatwanya yang terkenal dan monumental, “wahai kalian semua berikanlah peringatan kepada  kaum Judalah agar kembali bertaubat kepada Allah ﷻ dan meninggalkan kesyirikan dan jika mereka suku Judalah tetap bangkang maka perangilah atas berkah Allah ﷻ “.

Peperangan itu mendapatkan berkah Allah ﷻ yaitu tunduknya padang sahara padang naungan dakwah dan pedang sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan perjuangannya dan juga syahidnya pemimpin pertama yang mengajak anak muda dari suku Judulah yaitu Yahya bin Ibrahim al Judali. Pasca wafatnya Syaikh Abdullah bin Yassin maka kepemimpinan dakwah di emban oleh Yahya bin Umar al Lamtuni yang segera merapatkan barisan muslimin untuk memurnikan padang sahara dari kesyirikan.

Jika harus disebut karya besarnya adalah ia berhasil mencetak sebuah pemimpin yang membuat Abdul Hamid al-Ghazali berkata akan membaiat Yusuf bin Tasyfin karena ia adalah orang yang shaleh disaat para pemimpin Muslim hanya sibuk dengan hewan peliharaan sementara batang leher rakyatnya sudah hampir tertebas di sebilah pedang Mongol dan Salib.

Sungguh perjuangan yang mahal ini terlalu singkat untuk diceritakan di kolom ini karena para pemuda padang sahara melukiskannya dengan darah di jalan Allah ﷻ. Allahu a’lam bishawab.

Referensi : Prof. Dr. Raghib As Sirjani dalam bukunya “Bangkit runtuhnya Andalusia (jejak kejayaan peradaban islan di spanyol)”

Anthology 2020 Boomboxzine

Judul : Anthology 2020 Boomboxzine
Penulis : Boomboxzine
Penerbit : Boombox Zine Press
Ukuran : A4 (ukuran Majalah)
Halaman : 71 Halaman

Populer

© Copyright Boombox Zine 2021